sosiologi

Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [4]

Posted on Updated on

Adanya penggunaan media sosial (online interaction) dalam komunitas pendidikan madrasah dapat memberikan pengaruh negatif terhadap menurunnya frekuensi pergaulan fisik (offline interaction) sehingga hal ini dapat berdampak negatif terhadap perilaku peserta didik yang selanjutnya juga berpengaruh dalam proses pembelajaran.

Untuk membentuk sinergi offline-online di komunitas madrasah perlu diperhatikan beberapa komponen terkait seperti: interaksi edukatif di madrasah, pemakaian internet dalam proses belajar mengajar madrasah, dan interaksi sosial antar PTK-siswa melalui koneksi dunia maya. Pemahaman akan ketiga komponen ini akan membantu konsep kreatif dan proses inovatif dalam pembuatan aplikasi kolaborasi edukatif yang secara online berfungsi sebagai wadah komunitas edukatif antara seluruh insan lembaga pendidikan madrasah mulai dari pihak yayasan (bila lembaga swasta), kepala madrasah, PTK, peserta didik, sampai kepada orang tua/wali siswa.

Pengembangan inovatif dalam penerapan aplikasi kolaborasi edukatif di lembaga pendidikan madrasah ini diharapkan dapat membentuk komunitas edukatif yang siap menjawab tantangan kemajuan zaman dalam adaptasi sosial di era teknologi yang semakin pesat ini.

Daftar Pustaka

  • Nata, Abuddin, Sosiologi Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
  • Idi, Abdullah. Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat dan Pendidikan, Edisi ke-4. Penerbit Rajawali Pers: 2014, Jakarta.
  • Pascu, C., et al. (2008), Social computing: implications for the EU innovation landscape dalam Foresight : the Journal of Futures Studies, Strategic Thinking and Policy. Vol. 10 no. 1; hal. 37-52
  • Rusman, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Jakarta: RajaGrafindo Perkasa, 2015, h. 98.

Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [3]

Posted on Updated on

Pembelajaran berbasis komputer (PBK) dapat menunjang proses belajar-mengajar (PBM) sepanjang semua prosesnya berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Interaksi Edukatif di Madrasah
Di madrasah terjadi interaksi antara kepala madrasah dengan para guru, staf administrasi, para orang tua siswa, dan sebagainya. PTK adalah Pendidik (guru) dan Tenaga Kependidikan (administrasi, pustakawan, laboran, kebersihan, penjaga sekolah, keamanan, sopir dan lainnya). Semua unsur lainnya yang ada di madrasah tidak ada yang berdiri sendiri. Masing-masing berkomunikasi, berinteraksi, beradaptasi, berasimilasi, berkolaborasi, berintegritas, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Dalam melakukan proses-proses tersebut mereka juga memperhatikan peran dan fungsinya yang berbeda antara satu dan lainnya sesuai dengan posisi masing-masing, sesuai dengan struktur dan stratifikasi sosial di madrasah. Para siswa harus berkomunikasi dan interaksi serta berbagai kegiatan lainnya dengan para siswa dan komunitas lainnya, yang memiliki latar belakang biologis, intelektual dan psikologis yang berbeda-beda.

Aspek yang cukup penting diperhatikan dalam lingkungan edukatif madrasah adalah interaksi sosial-edukatif, di mana hal ini bila diabaikan akan menimbulkan permasalahan di antara kelompok-kelompok siswa berdasarkan: status sosial orang tua siswa, hobi/minat, jenjang kelas, dan asal daerah. Hal ini dapat diatasi dengan upaya: pemberian informasi dengan diskusi kelompok, penjelasan guru tentang pengaruh antara satu kelompok dengan yang lainnya, menanamkan nilai-nilai toleransi antar siswa, membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan interaksi sosial antar siswa dari berbagai kelompok/golongan, menggunakan teknik bermain peranan (sosiodrama), dan menggunakan kegiatan ekstra kurikuler.

Pemakaian internet dalam proses belajar mengajar madrasah
Internet sesungguhnya sangat membantu proses pembelajaran bila digunakan secara baik dan benar. Namun tidak dipungkiri bahwa cukup banyak website (situs) yang tidak layak untuk diakses baik oleh PTK maupun siswa, karena unsur negatif yang terkandung di dalamnya. Terdapat beberapa kategori situs yang mengandung unsur negatif, seperti: pornografi, seksual, perjudian, penipuan, SARA, radikalisme, kekerasan, narkoba, aborsi, pelacuran, meresahkan, sampah, money game, MLM ilegal, malware, hijacking, exploit, spyware, flood, banner/iklan, proxy/VPN, torrent, warez, dan LGBT.

Dampak positif-negatif pemakaian internet dalam proses belajar mengajar madrasah ini dapat diatasi dengan cara membatasi akses internet siswa/PTK pada situs yang mengandung unsur negatif. Pengendalian akses internet warga madrasah ini berupa kebijakan dari pimpinan madrasah berupa prosedur filter content, di mana semua kategori situs yang mengandung content (isi) negatif tersebut disaring (filter) terlebih dahulu sehingga baik PTK maupun siswa terhindar dari hal-hal yang dapat mengganggu proses pembelajaran madrasah.

Interaksi sosial antar PTK-siswa melalui koneksi dunia maya
Media sosial dewasa ini hampir digunakan oleh setiap orang termasuk warga madrasah dalam hal ini baik pendidik, tenaga kependidikan, maupun siswa. Sehingga pola perilaku ini mulai terasa pengaruhnya terhadap interaksi edukatif antara PTK dengan siswa. Bagi PTK/siswa yang mulai terbiasa menggunakan media sosial melalui internet ini sudah merasakan ketergantungan yang cenderung mengarah kecanduan, karena banyak hal atau manfaat baginya jauh lebih mudah dan praktis diakses melalui media sosial ini. Sehingga pada tahap tertentu siswa merasa tidak perlu lagi bergaul secara aktif karena semua pihak telah “bertemu” di dunia maya (online). Hal ini berdampak negatif terhadap interaksi fisik yang semestinya berjalan secara seimbang yang nantinya akan berpengaruh buruk pada kepribadian siswa tersebut. Perlu adanya pengarahan dan bimbingan dari guru terkait mengenai pentingnya keseimbangan antara kedua hal tersebut.

Pengarahan dan bimbingan tersebut juga dapat dilakukan dengan metode ikut-sertanya tim pendidik dalam media sosial melalui contoh-contoh yang baik sehingga diharapkan contoh arahan yang baik tersebut dapat berpengaruh positif terhadap kontribusi siswa dalam dunia media sosial.

Sinergi OfflineOnline
Dengan semakin maraknya penggunaan media sosial baik dari kalangan peserta didik maupun pendidik dan tenaga kependidikan, tidak menutup kemungkinan hal ini mulai dan akan berdampak terhadap proses pembelajaran meskipun belum secara langsung dan signifikan. PTK yang juga ikut-serta dalam dunia online ini dapat memberikan contoh yang baik bagi siswa bagaimana berperilaku yang sesuai dengan tuntunan ajaran pendidikan seperti ilmu aqidah akhlak. Karena media sosial yang banyak dipakai oleh siswa dan PTK secara umumnya berisi informasi-informasi yang tidak relevan dengan proses pembelajaran, maka sebaiknya pihak madrasah membentuk sendiri komunitas online yang beranggotakan semua insan lembaga pendidikan madrasah tersebut, mulai dari pihak yayasan (bila lembaga swasta), kepala madrasah, PTK, peserta didik, sampai kepada orang tua/wali siswa.

Agar terbentuk pola pergaulan yang seimbang antara online dan offline ini, lembaga pendidikan dapat mengembangkan pola pembelajaran (learning models) pada program ekstra-kurikuler tertentu sehingga dapat menambah frekuensi interaksi edukatif secara langsung (physical interaction) antar peserta didik dalam lingkungan madrasah.

Penggunaan aplikasi tim kolaborasi edukatif antar komponen inti madrasah: Pendidik (yayasan, kepala madrasah, & wakil), Peserta Didik (siswa, OSIS, & komite), dan Tenaga Kependidikan (admin, pustaka, laboran, dan lainnya).

Kolaborasi Edukatif ini juga ditambah dengan ulama/pakar dalam bidangnya, bisa dari guru pondok pesantren yang ahli kitab kuning, atau dari anggota komite (orang tua/wali siswa yang profesional di bidangnya). Kesulitan belajar PAI dengan kendala bahasa Arab pada sumber belajar, di mana hal ini bisa diatasi dengan ikut peran serta guru pondok pesantren ahli kitab kuning yang aktif membantu penjelasan mengenai pelajaran terkait.

Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [2]

Posted on Updated on

Pembahasan masalah dalam makalah ini menggunakan beberapa teori yang saling menunjang yaitu sosiologi pendidikan, informatika sosial, dan teknologi pendidikan.

Sosiologi Pendidikan
Ditinjau dari segi estimologi istilah sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata yaitu Sosiologi dan Pendidikan. Dalam sosiologi pendidikan, berlaku dan bekerja sama antara prinsip sosiologi dan prinsip pedagogik beserta ilmu bantuan lainnya, misalnya psikologi pendidikan. Sosiologi pendidikan adalah analisis ilmiah atas proses sosial dan pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan. Sosiologi memiliki alat dan teknik ilmiah untuk mempelajari pendidikan dan memberikan sumbangan berharga kepada sistem pendidikan dalam masyarakat. Bila ditinjau dari perspektif sebab lahirnya sosiologi pendidikan adalah dikarenakan adanya perkembangan masyarakat yang cepat dan berakibat pada merosotnya peran pendidik, dan perubahan interaksi antar manusia. Dikarenakan manusia bertumbuh dan berkembang bukan di sekolah melainkan di masyarakat.

Sosiologi pendidikan merupakan spesialisasi daripada psikologi pendidikan di dalam situasi sosial, dalam kondisi kelompok. Sosiologi pendidikan juga merupakan perpaduan antara psikologi pendidikan yang banyak menggunakan prinsip psikologi sosial dengan implikasi psikologi pendidikan dalam kehidupan berkelompok.

Kontribusi ilmu sosiologi dengan dengan segala komponen konseptualnya mendapat tanggapan positif dari berbagi kalangan sosial melalui pendidikan. Manifestasi tersebut ditandai dengan kelahiran sosiologi pendidikan sebagai produk keilmuan baru. Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat sosial dari pendidikan dan memandang masalah pendidikan dari sudut totalitas lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomi bagi masyarakat.

Adapun konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan adalah: menganalisis proses sosialisasi anak (peserta didik) baik dalam keluarga, sekolah maupun dalam masyarakat (lingkungan); menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial; menganalisis status pendidikan dalam masyarakat; menganalisis partisipasi orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan sosial; membantu menentukan tujuan pendidikan; dan memberi kepada pendidik dengan latihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangan solusi kepada masalah pendidikan. Pada dasarnya tujuan sosiologi pendidikan untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak menyimpang dari upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.

Informatika Sosial
Informatika sosial merupakan studi yang mempelajari aspek-aspek sosial dari komputerisasi termasuk peran teknologi informasi dalam perubahan sosial dan organisasi. Penelitian-penelitian informatika sosial ini juga berkonsentrasi pada bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dipengaruhi oleh nilai dan praktik-praktik sosial-budaya di sebuah masyarakat. Informatika sosial dilandasi oleh cara pandang (paradigma) yang menganggap bahwa hubungan yang saling mempengaruhi antara teknologi informasi dan masyarakat pengguna.

Informatika sosial ini juga mempelajari tentang bagaimana membangun atau men-design teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mempelajari dampak sosial dari adanya TIK. Dengan melihat perkembangan dan kemajuan teknologi banyak pengamat mengatakan bahwa negara-negara maju sekarang ini sedang memasuki jaman informasi yang disebabkan oleh peledakan atau revolusi teknologi informasi. Ciri utama tumbuhnya masyarakat informasi adalah terjadinya perkembangan teknologi yang semakin canggih di bidang komputer dengan segala perangkat keras dan perangkat lunak serta peralatan telekomunikasi yang memungkinkan cara penggunaannya lebih efisien dan efektif.

Masalah yang dihadapi dalam konteks sosial mengenai masyarakat informasi ini yaitu begitu cepatnya revolusi informasi itu berlangsung. Kalau kita mengambil perbandingan dari peristiwa perubahan masyarakat pertanian ke masyarakat industri, perubahan tersebut membutuhkan waktu lebih kurang 100 tahun (hampir 1 abad). Sementara itu perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi terjadi dalam waktu puluhan tahun saja. Perubahan yang berlangsung demikian cepat ini membuat masyarakat harus mengantisipasi terhadap masa depannya. Segi lain yang berpengaruh atas perubahan masyarakat industri ke masyarakat informasi menyangkut orientasi masyarakat yang menjurus pada masalah ekonomi. Bidang informasi dan komunikasi banyak memberi kesempatan kerja bagi masyarakat.

Bagi Indonesia, masalah-masalah yang dihadapi mengenai dampak teknologi modern terhadap kehidupan budaya adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari sejumlah suku bangsa dengan latar belakang kebudayaan, agama/kepercayaan dan sejarah yang berbeda-beda. Masyarakat yang majemuk ini sedang mengalami pergeseran sistem nilai sebagai akibat pembangunan yang pada hakikatnya merupakan proses pembaharuan di segala sektor kehidupan. Derasnya arus informasi dan komunikasi yang dibawa media massa modern dan para wisatawan memperlancar kontak-kontak antar budaya.

Pertambahan penduduk yang menuntut pertambahan sarana hidup baik dalam kuantitas, kualitas maupun variasi. Dalam hubungan ini bangsa Indonesia harus mampu menumbuhkan serta mengembangkan sistem nilai yang sesuai dengan tuntutan pembangunan melalui sistem pembelajaran yang terintegrasi dengan perkembangan TIK terkini. Dalam proses pemanfaatan teknologi informasi yang sangat penting adalah mempersiapkan diri dalam penggunaan teknologi tersebut termasuk di dalamnya pembelajaran sikap mental, disiplin kepribadian, ketrampilan dasar dan kemampuan menyusun suatu sistem informasi dalam skala nasional melalui lembaga pendidikan.

Teknologi Pendidikan
Dalam sistem informasi terdapat lima komponen yang saling berhubungan dan menunjang kelancaran proses sistem informasi, yaitu: Software (perangkat lunak), Hardware (perangkat keras), Brainware (sumber daya manusia), Infoware (data dan informasi), dan Netware (lembaga). Semua komponen ini bila diterapkan ke dalam lembaga pendidikan dapat menunjang proses pembelajaran.

Software (perangkat lunak)
Perangkat lunak ini dapat berupa aplikasi yang dirancang sedemikian rupa untuk membantu proses belajar siswa dalam bentuk pembelajaran berbasis komputer.
Menurut Rusman, secara konsep pembelajaran berbasis komputer adalah bentuk penyajian bahan-bahan pembelajaran dan keahlian atau keterampilan dalam satuan unit-unit kecil, sehingga mudah dipelajari dan difahami oleh siswa.

Hardware (perangkat keras)
Perangkat keras yang digunakan dalam membantu proses pembelajaran ini seperti komputer, laptop/netbook, server, printer, projector, tablet, ponsel, dan sarana-prasarana lain yang terkait dengan proses pembelajaran berbasis komputer. Hardware sebagai media dalam pembelajaran ini berfungsi sebagai alat bantu guna memperjelas pelajaran yang disampaikan oleh pendidik.

Brainware (sumber daya manusia)
Sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini baik pendidik maupun tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi profesional dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia guna memperlancar pemahaman siswa pada pelajaran tertentu.

Infoware (informasi)
Informasi dapat diartikan sebagai bahan atau materi pelajaran yang telah diintegrasikan dengan aplikasi (software) tertentu menggunakan media (hardware) yang telah diprogram oleh SDM (Brainware) untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Netware (lembaga)
Lembaga pendidikan (madrasah) yang bertanggung jawab terhadap segala proses pembelajaran, mulai dari penyediaan sarana-prasarana (hardware), manajerial SDM (Brainware), pengaturan integritas aplikasi pembelajaran (software), sampai kepada penentuan materi pembelajaran (infoware) yang sesuai dengan kurikulum.

Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [1]

Posted on Updated on

Adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cukup pesat dewasa ini sangat berpengaruh kepada hampir setiap bidang kehidupan yang dijalani ummat manusia di abad ke-21. Dalam hal ini bidang pendidikan dihadapkan pada tantangan era globalisasi yang dituntut untuk beradaptasi secara optimal dalam perkembangan zaman. Seluruh komponen pendidikan harus bisa menyesuaikan diri ke dalam pesatnya laju perkembangan dunia teknologi, baik dari sisi lembaga, pendidik, maupun peserta didik.

Kecenderungan yang terjadi saat ini peserta didik yang lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi bila dibandingkan dengan pendidik atau lembaga, di mana hal ini akan berdampak negatif terhadap proses pembelajaran karena adanya kesenjangan pemahaman akan pemanfaatan teknologi komunikasi-informatif yang semestinya harus dapat digunakan secara optimal untuk peningkatan mutu pendidikan.

Media sosial yang sedang marak di kalangan remaja, dalam hal ini peserta didik, sangat berperan aktif di dalam kehidupan mereka terutama yang tinggal di kota-kota besar. Gaya pergaulan sosial pelajar saat ini dengan pengaruh media-sosial (online interaction) yang cenderung mengurangi interaksi edukatif (physical interaction). Padahal sekolah atau madrasah tempat siswa belajar merupakan lingkungan masyarakat edukatif di mana siswa dituntut untuk berperan aktif dalam interaksi edukatif, bukan hanya pasif seperti pergaulan dunia-maya melalui media sosial.

Penggunaan media sosial dengan frekuensi yang tinggi di kalangan pelajar ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif terhadap kelangsungan proses pendidikan di sekolah atau madrasah. Dalam makalah ini menitik-beratkan pembahasan yang terjadi di lingkungan madrasah aliyah, dengan permasalahan:

  • Bagaimana pengaruh interaksi edukatif terhadap mutu pembelajaran madrasah?
  • Bagaimana pengaruh penggunaan media sosial terhadap mutu pembelajaran madrasah?

Diharapkan adanya pemecahan masalah terhadap fenomena ini demi masa depan pendidikan madrasah dalam menghadapi tantangan kemajuan zaman khususnya perkembangan teknologi di era globalisasi, dalam hal ini mencari cara atau metode kombinasi antara interaksi edukatif (offline) dengan media sosial (online) sehingga menjadi suatu sinergi yang efektif dalam model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran madrasah.

Penerapan Manajemen Pengetahuan untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Perguruan Tinggi [4]

Posted on Updated on

Berdasarkan teori sosiologi pendidikan dan teori sosial informatika ini menggunakan pendekatan manajemen pengetahuan untuk lembaga pendidikan perguruan tinggi di mana sistim informasi yang terintegrasi di dalamnya dapat diberdayakan guna peningkatan kualitas administrasi dan pembelajaran yang lebih bermutu.

Perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama dengan organisasi perusahaan untuk memberdayakan manajemen pengetahuan untuk menunjang seluruh aspek dari pendidikan ke arah peningkatan kualitas baik dalam hal layanan administrasi maupun proses pembelajaran. Penerapan manajemen pengetahuan bagi perguruan tinggi dengan demokrasi data dan berbagi informasi dari/untuk semua orang/pihak yang semuanya mempunyai akses untuk menyumbang, ikut serta, interaksi, menumbuhkan dan mempelajari pengetahuan yang ada dalam/sekitar organisasi lembaga pendidikan.

Perguruan tinggi yang telah menerapkan manajemen pengetahuan selanjutnya diharapkan untuk lebih dalam lagi menilai evaluasi pendekatan manajemen pengetahuan ini dengan hasil manfaat yang telah diperoleh, membedakan pendekatan MP ini dengan penerapan teknologi dan manajemen sistim informasi (karena memang hal yang berbeda), melanjutkan penelitian yang didasarkan dari pendekatan MP ini, melanjutkan transformasi pendekatan MP ini ke dalam kelas untuk memperoleh proses pembelajaran dengan mutu yang lebih efektif, serta membagikan pengalaman penerapan MP ini dengan institusi PT lainnya sehingga ke depan memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam kebijakan kurikulum pendidikan tinggi oleh pemerintah setempat.

Daftar Pustaka

  • Idi, Abdullah. 2014. Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat dan Pendidikan, Edisi ke-4. Penerbit Rajawali Pers, Jakarta.
  • Pascu, C., et al. (2008), “Social computing: implications for the EU innovation landscape”, Foresight: the Journal of Futures Studies, Strategic Thinking and Policy. Vol.10 no.1
  • O’Dell, C. and C. J. Grayson Jr. (1998), If Only We Knew What We Know: The Transfer of Internal Knowledge and Best Practice, Free Press, New York

Penerapan Manajemen Pengetahuan untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Perguruan Tinggi [3]

Posted on Updated on

Organisasi atau lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi bukanlah mesin, sehingga model mesin bagi pengembangan organisasi (input yang diproses menjadi output) tidak sepenuhnya sesuai atau bermanfaat dalam pemahaman yang begitu rumit akan fungsi-fungsi perguruan tinggi. Akan lebih bermanfaat bila disadari bahwa lembaga pendidikan yang beradaptasi sebagai suatu sistim sosial di mana orang-orang bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam organisasi Perguruan Tinggi (PT) tersebut.

Bila dianalogikan seperti organisme yang memberdayakan dirinya melalui transformasi dari materi dan energi, selayaknya ekosistem yang memperbaiki lingkungan kembali melalui siklus dan musim, maka lembaga pendidikan juga tumbuh dan revitalisasi dirinya melalui pengetahuan yang dibuatnya, proses transfer ilmu tersebut kepada yang lainnya, dan hubungan kerja sama yang terbentuk antara orang-orang dalam lingkungan organisasi perguruan tinggi tersebut.

Manajemen Pengetahuan
Manajemen Pengetahuan (knowledge management) adalah kumpulan perangkat, teknik, dan strategi untuk mempertahankan, menganalisis, mengorganisasi, meningkatkan, dan membagikan pengertian dan pengalaman. Pengertian dan pengalaman semacam itu terbangun atas pengetahuan, baik yang terwujudkan dalam seorang individu atau yang melekat di dalam proses dan aplikasi nyata suatu organisasi. Fokus dari manajemen pengetahuan adalah untuk menemukan cara-cara baru untuk menyalurkan data mentah ke bentuk informasi yang bermanfaat, hingga akhirnya menjadi pengetahuan.

Melalui manajemen pengetahuan yang diterapkan dapat menyatukan tiga sumber daya utama dalam organisasi, dalam hal ini lembaga perguruan tinggi, yaitu: orang (pendidik-administrasi-siswa), proses (pembelajaran) dan teknologi (sistim informasi), untuk dapat diberdayakan manfaatnya dalam lembaga pendidikan dan membagi informasi secara lebih efektif.

Terdapat beberapa manfaat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) melalui manajemen pengetahuan dalam bidang pendidikan antara lain: berbagi hasil penelitian di mana hasil penelitian yang dimuat dalam internet/intranet akan mudah dimanfaatkan orang lain disegala penjuru dunia dengan cepat; konsultasi dengan pakar yang ahli di bidangnya dapat dilakukan dengan mudah walaupun ahli tersebut berada ditempat yang sangat jauh; perpustakaan online dalam bentuk digital; diskusi online yang dilakukan melalui internet; kelas online melalui aplikasi dapat digunakan untuk lembaga pendidikan jarak jauh, seperti universitas terbuka.

Adapun bagi peserta didik (mahasiswa) keuntungan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) melalui manajemen pengetahuan seperti: dapat mengakses informasi-informasi hasil penelitian mahasiswa/dosen lain, memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan mudah, akses ke para pakar lebih mudah karena tidak dibatasi jarak dan waktu, materi pelajaran dapat disampaikan interaktif dan menarik, dan melalui belajar jarak jauh dapat menghemat biaya dan waktu.

Sedangkan bagi organisasi penyelenggara pendidikan keuntungan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) melalui manajemen pengetahuan dapat berupa: dapat berbagi hasil penelitian dengan lembaga perguruan tinggi lain, dapat memberi layanan lebih baik ke mahasiswa, dapat menjangkau mahasiswa yang tempatnya sangat jauh, melalui perpustakaan online dapat menekan biaya untuk menyediakan buku, dan dapat saling berbagi sumber ilmu dengan institusi PT lain.

Model Penerapan
Penerapan manajemen pengetahuan dengan kerangka kerja untuk mehamami bagaimana dan dimana pusat perhatian guna meningkatkan manfaat edukasi, termasuk tujuan dan visi-misi organisasi di dalamnya. Melalui proses ini, hubungan data-informasi-pengetahuan sebagai kesatuan tiga serangkai siklus yang saling berhubungan secara terus-menerus dan membantu orang-orang fokus ke hasil manfaat sesuai tujuan. Hal ini dapat dijelaskan selanjutnya melalui contoh penerapan dalam tabel berikut ini:

Fungsi

Data

Informasi

Pengetahuan

Misi Data yang dikumpulkan tentang kebutuhan komunitas, dan tentang tujuan utama dari misi lembaga. SDM administrasi dan tim dosen meng-evaluasi kegunaan program dalam mencapai misi lembaga. Penyelenggara PT secara terbuka membahas diskusi permintaan kebutuhan program baru dan kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan informasi misi.
Rencana Strategis Sistim informasi mengumpulkan data manfaat yang didasarkan dari tujuan-tujuan yang terhubung dengan hasil utama. Informasi mengenai hasil/manfaat dibagikan ke bagian program untuk ditinjau ulang dan dibahas kembali. SDM administrasi dan tim dosen mengevaluasi data-informasi, dan menentukan kebutuhan akan tambahan data/informasi.
Bimbingan Akademik Selama semester pertama rencana mahasiswa dimasukkan ke dalam database, dan tersedia bagi pembimbingan melalui situs lembaga. Rencana dimutakhirkan oleh mahasiswa dan/atau pembimbing dalam setahun, dan bimbingan tersebut direkam/simpan. Pembimbing membagikan informasi tersebut dan strategi bagi pendidik lainnya untuk digunakan dalam tujuan pembelajaran.
Rencana Penerimaan peserta didik Rektor memiliki akses sepenuhnya (untuk melihat seluruh unsur lembaga).

Mahasiswa mendaftar secara elektronik, tanpa harus antri menunggu.

Rektor bekerja sama dengan dekan-dekan fakultas sebagai suatu tim membahas tentang bidang/seksi mana saja yang perlu diperhatikan. Rektor dan Dekan (SDM administrasi) rapat diskusi membahas tentang proses pendaftaran mahasiswa, dan program apa saja yang paling diminati/dicari.

Penggunaan teknik dan teknologi dengan manajemen pengetahuan di perguruan tinggi sama pentingnya dengan pemberdayaan layaknya organisasi PT lainnya. Bila dilaksanakan secara efektif maka dapat meningkatkan kemampuan pengampilan keputusan yang lebih baik, mengurangi waktu siklus pengembangan “produk” (seperti pengembangan kurikulum dan riset pendidikan), meningkatkan kualitas pelayanan admnistrasi dan akademik, serta mengurangi biaya-biaya tertentu.

Layaknya suatu lembaga pendidikan yang baru akan bermaksud menggunakan manajemen pengetahuan, dapat belajar dari pengalaman serupa pada institusi PT lain yang telah menerapkan manajemen pengetahuan ini sebelumnya. Terdapat beberapa hal yang sebaiknya perlu dipersiapkan seperti: strategi (apa saja hal yang ingin dicapai), prasarana infrastruktur (SDM, TIK, dan ukuran keberhasilan keuangan), orang yang dipercaya untuk memimpin, rencana detail pilot project, di mana empat hal ini sebaiknya diuji-coba dulu kemudian baru dievaluasi apa saja yang perlu diperbaiki untuk pengembangan selanjutnya.

Ilustrasi berikut ini menggambarkan bagaimana penerapan manajemen pengetahuan (MP) dapat menghasilkan sejumlah manfaat penting bagi proses pelayanan dalam perguruan tinggi seperti: proses riset, proses pengembangan kurikulum, pelayanan mahasiswa dan alumni, pelayanan administrasi, dan rencana strategis.

Proses Riset

  • Penerapan MP sebagai suatu tempat penyimpanan untuk: rencana riset dalam lembaga atau pihak ketiga yang potensial, hasil riset dan organisasi penyedia dana dengan kemampuan pencarian yang mudah untuk memfasilitasi peluang antar disiplin ilmu riset, peluang komersil bagi hasil riset.
  • Penerapan MP dalam bentuk portal (website) untuk prosedur administrasi riset yang berhubungan dengan: peluang pendanaan, proposal (anggaran, kebijakan, dan prosedur), kontrak (prosedur dan kebijakan), laporan teknis keuangan, serta overview layanan internal dan SDM yang ada.
  • Manfaat yang diperoleh: peningkatan daya saing pada kontrak riset dan peluang komersil, pengurangan waktu (siklus) dalam riset, fasilitas dalam riset antar disiplin ilmu (dan antar fakultas), meningkatkan mutu riset dan proposal sebelumnya, layanan internal dan eksternal yang meningkat, dan pengurangan biaya administrasi.

Proses Pengembangan Kurikulum

  • Penerapan MP sebagai suatu tempat penyimpanan untuk: upaya perbaikan kurikulum yang pernah dievaluasi sebelumnya, teknik penilaian pedagogik, penilaian mahasiswa yang dianalisa dan dimutakhirkan per semester.
  • Penghubung informasi antar disiplin ilmu, termasuk materi yang telah dimutakhirkan, dan publikasi/riset terbaru. Portal informasi yang berhubungan dengan proses pembelajaran menggunakan teknologi, termasuk peluang pengembangan fakultas/jurusan, penelusuran hasil, lessons learned, best practices, dan technology overview.
  • Manfaat yang diperoleh: peningkatan mutu kurikulum dan program, waktu yang digunakan untuk perbaikan lebih cepat, peluang pengembangan fakultas/jurusan baru, meningkatnya layanan administrasi yang berhubungan dengan teknologi, dan meningkatnya proses pembelajaran yang berhubungan dengan teknologi.

Pelayanan Peserta Didik dan Alumni

  • Penerapan MP dalam bentuk portal (website) untuk: layanan baik dosen maupun mahasiswa sehingga keduanya dapat memperoleh informasi yang lebih efektif dan mutakhir, layanan peluang kerja baik untuk mahasiswa maupun alumni, dan layanan informasi mahasiswa tentang seluruh hal mengenai lembaga pendidikan.
  • Manfaat yang diperoleh: pelayanan mahasiswa yang meningkat, meningkatnya kemampuan layanan SDM perguruan tinggi, dan meningkatnya layanan informasi bagi alumni.

Pelayanan Administrasi

  • Penerapan MP dalam bentuk portal (website) untuk: pelayanan keuangan, layanan pengadaan, dan sumberdaya manusia perguruan tinggi.
  • Manfaat yang diperoleh: layanan administrasi yang lebih efektif dan efisien, informasi yang lebih baik tentunya mengarah kepada keputusan yang berkualitas lebih baik.

Rencana Strategis

  • Penerapan MP dalam bentuk portal (website) untuk: informasi internal yang dengan katalog tentang renstra dan berbagai laporan pihak terkait (berkas audit, akreditasi), dan informasi eksternal termasuk studi patokan, lingkungan institusi PT, data lembaga saingan, tautan ke kelompok peneliti dan publikasi.
  • Penerapan MP sebagai suatu tempat penyimpanan untuk: akuntabilitas dan hasil dari penilaian pemantauan, dan indikator kinerja.
  • Kantor atau ruangan riset diubah menjadi Kantor Manajemen Pengetahuan.
  • Manfaat yang diperoleh: peningkatan kemampuan penunjang renstra dan pengambilan keputusan, pembagian informasi internal-eksternal yang meningkat, dan peningkatan kemampuan untuk mengembangkan renstra yang lebih fokus dan mutakhir.

Penerapan Manajemen Pengetahuan untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Perguruan Tinggi [2]

Posted on Updated on

Pembahasan masalah dalam tulisan ini menggunakan dua teori yang saling menunjang yaitu sosiologi pendidikan dan informatika sosial.

Sosiologi Pendidikan
Ditinjau dari segi estimologi istilah sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata yaitu Sosiologi dan Pendidikan. Dalam sosiologi pendidikan, berlaku dan bekerja sama antara prinsip sosiologi dan prinsip pedagogik beserta ilmu bantuan lainnya, misalnya psikologi pendidikan. Sosiologi pendidikan adalah analisis ilmiah atas proses sosial dan pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan. Sosiologi memiliki alat dan teknik ilmiah untuk mempelajari pendidikan dan memberikan sumbangan berharga kepada sistem pendidikan dalam masyarakat. Bila ditinjau dari perspektif sebab lahirnya sosiologi pendidikan adalah dikarenakan adanya perkembangan masyarakat yang cepat dan berakibat pada merosotnya peran pendidik, dan perubahan interaksi antar manusia. Dikarenakan manusia bertumbuh dan berkembang bukan di sekolah melainkan di masyarakat.

Sosiologi pendidikan merupakan spesialisasi daripada psikologi pendidikan di dalam situasi sosial, dalam kondisi kelompok. Sosiologi pendidikan juga merupakan perpaduan antara psikologi pendidikan yang banyak menggunakan prinsip psikologi sosial dengan implikasi psikologi pendidikan dalam kehidupan berkelompok.

Kontribusi ilmu sosiologi dengan dengan segala komponen konseptualnya mendapat tangapan positif dari berbagi kalangan sosial melalui pendidikan. Manifestasi tersebut ditandai dengan kelahiran sosiologi pendidikan sebagai produk keilmuan baru. Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat sosial dari pendidikan dan memandang masalah pendidikan dari sudut totalitas lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomi bagi masyarakat.

Adapun konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan adalah: menganalisis proses sosialisasi anak (peserta didik) baik dalam keluarga, sekolah maupun dalam masyarakat (lingkungan); menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial; menganalisis status pendidikan dalam masyarakat; menganalisis partisipasi orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan sosial; membantu menentukan tujuan pendidikan; dan memberi kepada pendidik dengan latihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangan solusi kepada masalah pendidikan. Pada dasarnya tujuan sosiologi pendidikan untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak menyimpang dari upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.

Informatika Sosial
Informatika sosial merupakan studi yang mempelajari aspek-aspek sosial dari komputerisasi termasuk peran teknologi informasi dalam perubahan sosial dan organisasi. Penelitian-penelitian SI juga berkonsentrasi pada bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dipengaruhi oleh nilai dan praktik-praktik sosial-budaya di sebuah masyarakat. Informatika sosial dilandasi oleh cara pandang (paradigma) yang menganggap bahwa hubungan yang saling mempengaruhi antara teknologi informasi dan masyarakat pengguna.

Informatika sosial ini juga mempelajari tentang bagaimana membangun atau men-design teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mempelajari dampak sosial dari adanya TIK. Dengan melihat perkembangan dan kemajuan teknologi banyak pengamat mengatakan bahwa negara-negara maju sekarang ini sedang memasuki jaman informasi yang disebabkan oleh peledakan atau revolusi teknologi informasi. Ciri utama tumbuhnya masyarakat informasi adalah terjadinya perkembangan teknologi yang semakin canggih di bidang komputer dengan segala perangkat keras dan perangkat lunak serta peralatan telekomunikasi yang memungkinkan cara penggunaannya lebih efisien dan efektif.

Masalah yang dihadapi dalam konteks sosial mengenai masyarakat informasi ini yaitu begitu cepatnya revolusi informasi itu berlangsung. Kalau kita mengambil perbandingan dari peristiwa perubahan masyarakat pertanian ke masyarakat industri, perubahan tersebut membutuhkan waktu lebih kurang 100 tahun (hampir 1 abad). Sementara itu perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi terjadi dalam waktu puluhan tahun saja. Perubahan yang berlangsung demikian cepat ini membuat masyarakat harus mengantisipasi terhadap masa depannya. Segi lain yang berpengaruh atas perubahan masyarakat industri ke masyarakat informasi menyangkut orientasi masyarakat yang menjurus pada masalah ekonomi. Bidang informasi dan komunikasi banyak memberi kesempatan kerja bagi masyarakat.

Bagi Indonesia, masalah-masalah yang dihadapi mengenai dampak teknologi modern terhadap kehidupan budaya adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari sejumlah suku bangsa dengan latar belakang kebudayaan, agama/kepercayaan dan sejarah yang berbeda-beda. Masyarakat yang majemuk ini sedang mengalami pergeseran sistem nilai sebagai akibat pembangunan yang pada hakikatnya merupakan proses pembaharuan di segala sektor kehidupan. Derasnya arus informasi dan komunikasi yang dibawa media massa modern dan para wisatawan memperlancar kontak-kontak antar budaya.

Pertambahan penduduk yang menuntut pertambahan sarana hidup baik dalam kuantitas, kualitas maupun variasi. Dalam hubungan ini bangsa Indonesia harus mampu menumbuhkan serta mengembangkan sistem nilai yang sesuai dengan tuntutan pembangunan melalui sistem pembelajaran yang terintegrasi dengan perkembangan TIK terkini. Dalam proses pemanfaatan teknologi informasi yang sangat penting adalah mempersiapkan diri dalam penggunaan teknologi tersebut termasuk di dalamnya pembelajaran sikap mental, disiplin kepribadian, ketrampilan dasar dan kemampuan menyusun suatu sistem informasi dalam skala nasional.