sejarah

Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [4]

Posted on Updated on

Berkembangnya beberapa wilayah kekuasaan Islam ini, diakibatkan suatu pendidikan yang telah mewariskan nilai budaya kepada generasi muda dan mengembangkannya. Oleh karena karenanya pendidikan Islam pada hakekatnya adalah mewariskan nilai budaya Islam kepada generasi muda dan mengembangkannya sehingga mencapai dan memberikan manfaat maksimal bagi hidup dan kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Masa keemasan wilayah kekuasaan Islam ini, dimulai berkembang dan pesatnya kebudayaan Islam, yang ditandai dengan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah formal serta universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Hal ini sangat dominan pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan pola budaya muslim. Berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan dan pengembangan berbagai macam aspek budaya kaum muslimin dunia.

Namun, dengan banyaknya ilmuwan dan padatnya umat Islam pada waktu, juga muncul elit politik yang mendominasi ulama tanpa kemampuan mendominasi kehidupan kultural negeri. Sedangkan ikhwan al-Muslimin menekankan aspek Islam kelompok yang memandang bahwasanya musuh utama adalah orang non-Muslim. Kelompok ini menekankan solidaritas dan keadilan sebagai sikap perlawanan terhadap pemberontak negara, dan rezim militer yang korup. Gerakan pembaharuan di beberapa wilayah seperti Baghdad, Mesir dan Andalusia menekankan pada moralitas individu dan lain-lain keluarga sebagai respon dari tekanan perubahan tata sosial. Ia bertahan sebagai sarana perlawanan terhadap negara penjajah dan berbagai kebijakannya.

Wilayah kekuasaan Islam seperti Baghdad, Mesir dan Andalusia merupakan era umat Islam telah mencapai kejayaannya. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Tapi pada abad ke-10 M dunia Islam mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu juga peradabannya. Kemunduran itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada abad pertengahan.

Dengan bekal sejarah sosial dan intelektual Islam ini, baik pengalaman kemajuan maupun kemunduran kekuasaan Islam masa itu seperti Baghdad, Mesir dan Andalusia, para ilmuwan masa kini dapat mengambil intisari dan hikmahnya demi meningkatkan kinerja pemikiran Islami (kerjasama dengan ulama’ dan umaro’ yang terintegrasi) diharapkan selanjutnya dapat mengulangi kembali sejarah keemasan Islam tersebut, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Anbiya ayat 107 yang berarti: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Advertisements

Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [3]

Posted on Updated on

Upaya menganalisis kemajuan intelektual yang terjadi pada era keemasan Islam ini dibagi menjadi tiga sub-pembahasan yaitu: Baghdad, Andalusia, dan perpustakaan.

Baghdad

Dalam jangka waktu satu generasi sejak didirikan, Baghdad telah menjadi pusat pendidikan dan perdagangan. Beberapa sumber memperkirakan ia hanya memiliki lebih dari sejuta penduduk, meski yang lainnya menyatakan bahwa angka sebenarnya bisa jadi hanya sebagian dari jumlah tersebut. Sebagian besar penduduknya berasal dari seluruh Iran terutama dari Khorasan.

Pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid pemerintahan yang baik dan terhormat. Tidak ada khalifah yang paling diminati oleh alim-ulama, para penyair, ahli fiqh, pembaca al-Qur’an, juru-juri dan penulis, selain beliau. Khalifah Harun Ar-Rasyid mempunyai hubungan yang rapat dengan setiap orang, dan beliau seorang sastrawan, penyair, dan pencipta cerita lama dan syair. Contohnya dari buku kisah-kisah dalam Seribu Satu Malam berlokasi di Baghdad pada periode ini yang disebut “Madinat as-Salam” (Kota Kedamaian) oleh Shahrazad yang mengisahkan pemimpinnya paling dihormati, Khalifah kelima yaitu Harun al-Rashid. Kisah Seribu Satu Malam, termasuk cerita Sindbad yang termasyhur, melambangkan kehebatan budaya Baghdad selama masa keemasannya sebagai pemimpin dunia Arab dan Islam yang diakui dunia.

Di masa pemerintahannya Khalifah al-Mansur dan pegawainya sudah mempunyai gambaran di dalam kepala mereka tentang suatu tempat yang istimewa untuk memperindah kota Baghdad dengan hal positif. Hal ini terealisasi, dan digali pula terusan yang membelah negeri Iraq untuk pelayaran dan airnya bersumber dari sungai Furat. Dengan demikian kota Baghdad berhubungan dengan ibukota kerajaan Abbasiyah yang baru itu, dan mempunyai hubungan melalui sungai dengan Asia kecil dan Syiria. Dengan dibangunnya kota Baghdad menjadi sebuah kota makmur, maju, dan kaya dengan tamaddun, ilmu pengetahuan dan kebaikan, Baghdad mendapat perhatian seluruh kaum Muslimin dan terkenal di seluruh dunia. Dengan cepat pula kota ini menjadi tempat yang paling terkemuka di bidang politik dan kegiatan sosial dan ilmu pengetahuan di Timur Tengah seluruhnya.

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ada beberapa ilmu pengetahuan yang terkenal masa itu, yaitu: Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’at, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqh, Ilmu Ushul Fiqh, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawuf, Ilmu Tulen (Matematika), di antarnya yang terkenal adalah Muhammad bin Musa al Khawarizmi yang menulis al jabar dalam bukunya al-Jibr wal Muqabalah, al Qaslawi yang menggunakan symbol dalam matematik, al-Tusi yang menunjukkan kekurangan teori eclideus. Dan Ilmu Falaq, di antara yang terkenal adalah Muhammad al Fazzari, sebagai ahli falaq Islam yang pertama dan penerjemah buku al-Sind Hind. Kemudian Abu Ishaq bin Habib bin Sulaiman yang menulis buku Falaq dan mencipta alat-alat teropong bintang, Musa bin Syakir yang menulis buku ilmu Falaq berjudul Kitab al-Ikhwah al-Thalathah, Abu Ma’asyar bin Muhammad bin Umar al-Balkhi, dengan bukunya al-Madkhal ila ahkam al-Nujum, dan Ibnu Jabir al-Battani (salah seorang pelopor trigonometri), Ilmu Musik, seperti al Kindi al Farabi, dan Ibnu Sina, Ilmu Kealaman dan Eksperimental (Ilmu Kimia, Ilmu Fisika, Ilmu Biologi), serta Ilmu Terapan dan Praktis (Ilmu Kedokteran, Ilmu Farmasi, Ilmu Pertanian).

Para sarjana muslim telah mengembangkan metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui metode observasi dan metode histories (sejarah) sebagaimana yang dikembangkan Ibnu Khaldun. Dalam bidang kebudayaan pada umumnya Islam telah mempersembahkan kepada dunia, suatu tingkat budaya tinggi yang menjadi mercusuar budaya umat manusia beberapa abad sesudahnya. Dalam bidang arsitektur sangat menonjol bangunan masjid dan istana yang indah.

Andalusia

Dengan adanya dukungan politis dari penguasa, akhirnya Cordova, mampu berdiri sejajar dengan Baghdad sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, dan melahirkan banyak filosof terkenal yang wacana perenungan dan pemikirannya mewarnai struktur bangunan ilmu pengetahuan sampai abad sekarang. Tokoh-tokoh filsafat yang lahir pada masa itu, antara lain Abu Bakri Muhammad Ibn As-Sayiqh yang lebih dikenal Ibn Bajah sebagaimana Al-Farabi dan Ibn Sina, Ibn Bajah melalui pemikirannya sering mengembangkan berbagai permasalahan yang bersifat etis dan eskatologis. Filosof selanjutnya adalah Abu Bakar Ibn Thufail. Melalui berbabagi karya filsafatnya yang masyhur berjudul Hay Ibn Yaqzhan. Para filosof lainnya adalah Ibn Maimun, Ibn Arabi, Sulaiman Ibn Yahya, juga Ibn Rusyd yang juga dikenal ahli fiqh.

Andalusia banyak melahirkan tokoh dalam lapangan sains. Dalam bidang matematika, pakar yang sangat terkenal adalah Ibn Sina. Ia juga dikenal sebagai teknokrat dan ahli ekologi. Bidang matematika juga melahirkan nama Ibn Saffat dan al-Kimmy. Dalam bidang fisika dikenal seorang tokoh Ar-Razi. Dialah yang meletakkan dasar ilmu kimia dan menolak kegunaan yang bersifat takhayul. Ia menemukan rumusan klasifikasi binatang, tetumbuhan, numerial. Dan juga ia membuat substansi dan proses kimiawi, sebagian darinya seperti dan kritalisasi yang sekarang digunakan. Dalam bidang kimia dan astronomi, selain Abbas Ibn Farmas, juga dikenal Ibrahim Ibn Yahya An-Naqqosh. Yang pertama dikenal sebagai penemu pembuatan kaca dari batu dan yang kedua sebagai orang yang dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahri. Di bidang kedokteran, Spayol melahirkan pakarnya, yaitu Zahrawi yang menemukan pengobatan lemah syahwat, pembedahan, dan lain-lain.

Bahasa Arab dengan dengan ketinggian sastra dan tata bahasanya telah mendorong lahirnya minat yang besar masyarakat Spanyol. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya bahasa resmi, bahasa pengantar, bahasa ilmu pengetahuan, dan administrasi. Adapun para pakar dalam bidang bahasa dan sastra, seperti al-Qali dengan karyanya al-Kitab al-Bari fi Luqoh, az-Zubaidy ahli tata bahasa dan filologi dan masih banyak lagi. Dalam bidang seni, indikasi kemajuannya adalah berdirinya sekolah musik di Cordova oleh Zaryab. Ia merupakan artis terbesar pada zamannya, siswa sekolah musik Ishak al-Mausuli dari Baghdad. Hal ini, merupakan pencetus bermunculannya didirikannya sekolah musik yang banyak di Andalusia. Selain itu lahirnya model-model syair Spanyol yang khas, sehingga memunculkan pujangga baru mengembangkan lirik arab, dan terkadang sebuah kharja dalam dialek bahasa Romawi. Bait yang berbahasa Arab biasanya merupakan sajak cinta, bertemakan perihal kehidupan istana yang menekankan unsur kelaki-lakian, kharja biasanya menyuarakan kehidupan kelas bawahan, atau menggambarkan budak wanita Kristen, dan inspirasi kewanitaannya lebih menonjol.

Sejak pembukaan sehingga tahun 976 M boleh dianggap sebagai tahap pembinaan tamaddun Islam di Spanyol. Dalam tempo tersebut telah terbina masjid besar di Cordova. Masjid ini dibina dengan begitu rupa sehingga mengagumkan dunia. Keistimewaannya adalah dari segi kehalusan dan keindahan seninya yang tidak terjangkau pada masa itu, sebagai salah satu keajaiban seni dunia. Masjid Cordova tersebut antara 961-966 M diperindah oleh para pekerja mosaik, yang memberinya sebuah interior yang indah dan menakjubkan. Sebagaimana masjid Damascus, masjid Cordova merupakan lambang perpaduan antara nilai-nilai arsitektur lama dengan unsur-unsur peradaban muslim mereka yang menonjol. Pada abad ke-10 M Khalifah membangun sebuah kota kerajaan yakni Madinat al-Zahrab, sebuah kota yang dihiasi dengan berbagai istana, pancuran air, pertanaman yang megah yang menandingi keindahan komplek istana Baghdad.

Dalam bidang sejarah dan geografi, Spanyol Islam khususnya wilayah Islam bagian barat telah melahirkan penulis terkenal, seperti Ibn Zubair dari Valencia, yang telah menulis sejarah tentang negeri muslim Mediterania serta Sisilia. Ibn al-Khathib dari Tunis adalah seorang perumus filsafat sejarah. Contoh lain dalam bidang ini adalah Tarikh Iftitah Al-Andalus, sebuah karya besar yang ditulis oleh Ibn Qutyah. Selain itu juga, ada Ibn Hayyan yang buah karyanya mesih eksis sampai saat ini, yaitu al-Muqrabis fi Tarikh ar-Rizal al-Andalus.

Pada abad ke 9-10 M, perkenalan dengan pertanian dan irigasi yang didasarkan pada pola negeri timur mengantarkan pada pembidayaan sejumlah tanaman pertanian yang dapat diperjualbelikan, meliputi buah ceri, apel, delima, ara, kurma, tebu, pisang, kapas, rami, dan sutera. Tipe irigasi Yamani diterapkan di wilayah Oasis seperti di Valencia yang membagikan air berdasarkan batas waktu pengaliran tertentu. Hal ini mengangkat kepala irigasi lantaran beberapa kota seperti Seville dan Cordova mengalami kemakmuran lantaran melimpahnya produksi pertanian dan perdagangan internasional.

Selepas kematian Ibn Rusyd (1198 M) pengaruh falsafah mula menurun. Kemerosotan ini adalah karena tekanan pihak pemerintah yang dipengaruhi oleh ulama-ulama madzhab Maliki terhadap ahli falsafah di Spayol. Dengan kejadian ini, maka Muhyidin Ibn al-Arabi, atau lebih dikenali sebagai Ibn al-Arabi atau Ibn Suraaka, beliau seorang ahli tasawuf Islam terkemuka dan telah diberi gelar al-Syeikh al-Akhbar (ulama agung). Ia seorang pengembara dan belajar dari berbagai ulama. Mereka ini menganut berbagai madzhab seperti madzhab Hambali, Zahiri, dan Batini. Hasil pengembaraannya beliau, bisa menstabilkan permasalahan ini, sehingga hasil pemikirannya digabung dengan pemikiran falsafah Yunani dan ajaran agama Kristen. Beliau sering menggunakan konsep Logos yang melambangkan hakikat nabi Muhammad SAW. Akan tetapi pada konsep ini, beliau berpendapat bahwa semua kejadian adalah satu dan berasal daripada satu saja yaitu Allah SWT yang menjadikan segala kejadian. Kewujudan Allah SWT adalah kewujudan hakiki, manakala kewujudan alam adalah kewujudan wahmi. Ringkasannya, Allah SWT dan alam adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Konsep Wahdah al-Wujud ini berlawanan dengan konsep wahdah al-Syuhud (kesatuan penyaksian), yakni alam ini hanya penyaksian terhadap kewujudan Allah SWT antara kedua-duanya tidak serupa: Allah SWT adalah Pencipta, dan alam adalah benda yang dicipta.

Umat Islam di Spanyol dikenal sebagai penganut madzhab Maliki yang diperkenalkan oleh Ziyad Ibn Abd Rahman yang kemudian dikembangkan oleh murid-muridnya. Dengan berkembangnya penganut madzhab ini, maka lahirlah sebuah karya berupa kitab fiqh monumental yang menjadi salah satu rujukan dalam lapangan hukum Islam sampai saat ini, khususnya di Indonesia adalah Bidayatul Mujtahid. Kitab tersebut adalah buah karya Ibn Rusyd, filosof dan fiqh Andalusia. Dengan berkembangnya pemerintahan, maka ada perbedaan yang mencerminkan pengelompokan antara elit Arab dan pemeluk Islam masa belakangan. Sekalipun demikian, ulama-ulama Syi’i menerima madzhab Maliki, dan paham Maliki tetap bertahan sebagai identitas keagamaan yang utama bagi Spanyol. Teologi paham Mu’tazilah juga diperkenalkan dari Baghdad pada abad ke-9 M. Muhammad ibn Masarra yang berkesempatan belajar di Basrah, bercampur antara pemikiran neo-Platonik, Syi’i, dan pemikiran sufi. Hal ini yang mengakibatkan beberapa ulama hukum menghambat ekspresi publik terhadap kecenderungan mistikal ini.

Perpustakaan

Kesadaran akan pentingnya membaca sebagai jalan masuknya ilmu telah mendorong generasi terdahulu umat Islam untuk mendirikan fasilitas yang bisa menampung bahan bacaan karya-karya ulama Islam waktu itu. Khlaifah waktu itu bermimpi, dan konon mimpi inilah yang menjadi inspirator bagi Khalifah al-Ma’mun untuk memperkaya Perpustakaan Bait al-Hikmah dengan buku-buku filsafat Yunani. Sebagaimana sudah disebutkan di muka bahwa dari segi istilah yang berbeda-beda, kepustakaan Islam menunjukkan perkembangan dan kematangan (kemajuannya). Istilah Bait al-Hikmah menjadi sangat populer dalam sejarah dan peradaban Islam, karena ia lahir dan berkembang pesat pada masa puncak kemajuan peradaban Islam di Baghdad, Irak. Berbagai periwayatan menyebutkan bahwa perpustakaan Bait al-Hikmah dibangun pada masa Khalifah Harun al-Rasyid pada awal abad ke-3 H (awal abad ke-9 M) dimana berbagai ilmu pengetahuan dalam Islam, baik ilmu-ilmu keagamaan, seni dan kesusasteraan, filsafat, Astronomi, Kimia, Al-Jabar dan yang lainnya tengah mencapai perkembangannya yang pesat.

Perpustakaan Baitul Hakam di Bagdad menyerupai Universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks penting. Koleksi buku Perpustakaan Baghdad berkisar 400-500 ribu jilid.

Adapun di Andalusia kepustakaan Islam yang berpusat di Cordova, tidak dapat dilepaskan juga dari perkembangan kepustakaan Islam di Syiria. Andalusia memiliki hubungan lebih erat dengan Syiria dan dunia Timur (Arab) lainnya, seperti Baghdad. Banyak sekali buku-buku kepustakaan di Andalusia yang diimpor dan berasal dari Syiria dan Iraq, meskipun Syiria lebih berperan banyak daripada Baghdad, dalam pengayaan dan perbendaharaan buku kepustakaan Andalusia.

Para ilmuwan Muslim seperti Ibn Hazm, menjadi pemilik perpustakaan pribadi yang mengoleksi banyak buku. Demikian juga para pengembara dan para pebisnis (penjual) buku. Mereka mengoleksi buku-buku kepustakaan yang baru bahkan paling langka dan sulit diperoleh di kepustakaan khalayak dan membangun bangunan perpustakaan dalam koleksi buku yang sangat banyak.

Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [2]

Posted on Updated on

Dalam analisis hubungan politik dengan kemajuan pendidikan Islam ini dibahas dua wilayah besar yang berkembang pada zamannya, yaitu Baghdad dan Analusia.

Baghdad

Bahgdad (Iraq) tergabung masuk dalam pemerintahan Islamiah, setelah kemenangan besar al-Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Setelah itu, tentara Islam bertolak menaklukan kota-kota di Persia. Maka berakhirlah kekaisaran Persia. Irak kemudian tunduk di bawah raja-raja Islam (Umayah dan Abbasiyah), lalu datang arus penyerbuan Mongolia yang membumihanguskan negeri ini pada tahun 1258 M.

Disentrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di zaman bani Umayah. Akan tetapi bicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah, akan terlihat perbedaan antara bani Umayah dan Abbasiyah. Wilayah kekuasaan bani Umayah, mulai dari awal berdirinya samapai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Berbeda dengan bani Abbas, keuasaannya tidak pernah diakui oleh Spayol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir (Fathimiyah) yang bersifat sebentar dan kebanyakan nominal. Bahkan dalam kenyataannya, banyak daerah tidak dikuasai.

Berkecamuknya politik pada saat itu membuat dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khalifah Abbas, di antaranya adalah: yang berbangsa Persia, seperti Thahiriyah di Khurasan, Shafariyah di Fars, Samaniyah di Transoxania, Sajiyyah di Azerbaijan, Buwaihiyah; yang berbangsa Turki, seperti Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afghanistan, Dinasti Saljuq; yang berbangsa Kurdi, seperti al-Barzuqani, Abu Ali, Ayubiyah; yang berbangsa Arab, seperti Idrisiyah di Maroko, Aghlabiyah di Tunisia; dan yang mengaku dirinya sebagai khalifah, seperti Umawiyah di Spayol dan Fathimiyah di Mesir.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Baghdad di masa bani Abbas, sehingga banyak daerah memerdekan diri adalah: faham keagamaan, luasnya wilayah kekuasaan, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan, profesionalisme angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi, dan keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar.

Di sisi pendidikannya, ada suatu Madrasah Nizamiyah Baghdad yang didirikan di dekat pinggir sungai Dijlah, di tengah-tengah pasar Selasah di Baghdad pada tahun 457 H. Guru-guru madrasah ini diantaranya Abu Ishaq as Syiraji (guru tetap), Abu Nasr as Sabagh, Abul Qasim al’Alawi, Abu Abdullah al-Thabari, Abu Hamid al Ghazali, Radliyudin al Kazwaeni dan al Fairuz Abadi.

Selain itu ada Perguruan Tinggi Baitul Hikmah di Baghdad, didirikan pada amasa Harun al Rasyid (170-193 H), kemudian diperbesar oleh khalifah al Ma’mun (198-218 H). Di Baitul Hikmah bukan saja diajarkan ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu alam, kimia, falaq, dan lain-lain. Guru besar Baitul Hikmah adalah Salam, yang menguraikan teori-teori ilmu pasti dalam al-Maj’sthi (almageste) kitab karangan Bathlimus (Ptolemee). Kemudian guru besar al Khawarazmi, ahli ilmu pasti, ahli falaq, dan pencipta ilmu al-Jabar, guru besar Muhammad bin Musa bin Syakir, seorang ahli ilmu Ukur, ilmu Bintang dan Falaq. Di baitul Hikmah dikumpulkan buku-buku ilmu pengetahuan dalam bermacam-macam bahasa seperti bahasa Arab, Yunani, Suryani, Persia, India, dan Qibtia. Kemudian al Ma’mun mendirikan peneropong bintang yang disebut peneropong al-Ma’muni. Setelah wafat, maka Baitul Hikmah tidak mendapat perhatian penuh dari khalifah-khalifah.

Di lain sisi, pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.

Andalusia

Pada sekitar permulaan abad ke-8 M, Spayol telah membuka cakrawala baru dalam sejarah Islam. Dalam rentang waktu selama kurang lebih tujuh setengah abad, umat Islam di Spayol telah mencapai kemajuan yang pesat, baik di bidang ilmu pengetahuan maupun kebudayaan. Berbagai disiplin ilmu berkembang pesat pada masa itu. Hal ini ditandai dengan banyaknya mermunculan figur-figur imuwan yang cemerlang di bidangnya masing-masing sampai sekarang, buah pikiran mereka menjadi rujukan para akademisi, baik di barat maupun di timur.

Pada abad pertengahan Arab Spayol adalah guru Eropa dan Universitas Cordova, Toledo, sedangkan Seville berfungsi sebagai sumber asli kebudayaan Arab, non Arab, muslim, Kristen, Yahudi, dan agama lain. Cordova sebagai ibukota Spayol merupakan pusat peradaban Islam yang tinggi yang dapat menyamai kemasyhuran Baghdad di timur Kairo di Mesir. Hal ini terjadi karena Eropa masih sangat terbelakang dan diliputi kegelapan, serta kebodohan.

Pendidikan merupakan bidang yang penting walaupun tidak ada sistem pendidikan, namun kegiatan penyelidikan dan pembelajaran amat digalakkan oleh kerajaan Bani Umaiyah di Spayol. Salah satunya galakannya adalah mendirikan masjid-masjid sebagai pusat ibadah dan juga tempat menimba ilmu pengetahuan. Selain itu memberikan kepada para ilmuan yang dari dalam atau dari luar Spayol, Arab atau non-Arab datang mengajar di masjid-masjid tersebut. Penyebaran ilmu-ilmu pengetahuan banyak berlaku selepas zaman Abd Al-Rahman Al-Dakhil.

Adapun sistem pendidikannya terbagi pada tiga tahap, yaitu rendah, menengah, dan tinggi. Pada peringkat rendah (ibtida’iyah dan i’dadiyah) pelajar-pelajar diajar membaca al-Qur’an dan tatabahasa Arab yang biasanya ditempatkan di masjid. Guru yang mengajar tidak diberikan gaji tetap, tetapi sekedar menerima yang dibayar oleh murid secara sukarela. Pendidikan peringkat rendah ini dilakukan secara terbuka. Peringkat menengah (tsanawiyah) pula dijalankan secara tersendiri dan tidak mempunyai kurikulum pelajaran tetap. Oleh sebab itu kurikulum pelajarannya berbeda-beda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Bagi yang tinggi khusus kepada pelajar yang bijak dan berminat saja. Mata pelajarannya yang diajar adalah tatabahasa (nahwu), sastra, sejarah, hadits, fiqh, ilmu kesehatan praktikal, matematik, astronomi, akhlaq, metafisik, dan khat. Pelajar yang lulus mendapatkan diploma atau ijazah. Peringkat tinggi atau universitas yang bermula diwujudkan pada zaman Al-Hakam II. Instusi pengajian tinggi ini diwujudkan informal yang dikendalikan oleh sekumpulan profesor. Ia hanya mengendalikan kursus-kursus di Cordova dan Toledo. Kedua tempat ini merupakan pusat pendidikan utama bagi siswa di barat Eropa.

Dengan berkembangnya zaman, pemerintah menghadapi beberapa pemberontakan. Siasat politik yang pemerintah pakai, antara lain: menumbuhkan pasukan tentara bertaraf profesional, yang kebanyakan terdiri atas kaum hamba; menyatupadukan rakyat yang berkelompok dan agama meneruskan ajaran Islam; menjalankan dasar pemerintahan yang tegas serta mengambil tindakan terhadap siapa yang mencoba menggugat kestabilan negara; mendirikan markas tentara yang kuat bagi tujuan mempertahankan negara daripada serangan dalam dan luar negari; mengadakan pembangunan instratruktur dan intelektual serta meningkatkan ekonomi negara dengan melanjutkan proyek pertanian dan perdagangan; melantik pemimpin yang berkaliber; serta mengadakan beberapa ekspedisi di bagian utara Spanyol.

Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [1]

Posted on Updated on

Kemunculan dan perkembangan tradisi keilmuan dan dinamika pemikiran pendidikan Islam di Nusantara selalu berkaitan dengan kondisi lingkungan yang mengitarinya. Kemunculan dan perkembangan tersebut lebih sebagai formulasi baru perpaduan antara kebudayaan dan peradaban yang sudah ada dan inheren dalam masyarakat itu dengan kebudayaan dan peradaban baru yang datang kepadanya. Dari sudut tersebut, maka perjalanan sejarah pendidikan Islam di nusantara menjadi sangat menarik untuk dikaji karena di samping nuansa spiritualis kental (thariqah) yang mengiringi penyebaran awalnya, lembaga pendidikan tersebut juga telah menjadi agen transformasi nilai dan budaya dalam sebuah komunitas yang bersifat dinamis. Sehingga, keberadaanya diakui memiliki pengaruh besar dalam membentuk bangsa ini, membebaskannya dari belenggu penjajahan, dan menelurkan generasi demi generasi yang mewarnai kemerdekaan negeri ini.

Ketika globalisasi merambah ke seluruh aspek kehidupan, di hampir setiap sudut muka bumi mengalami pergeseran nilai. Banyak tradisi dan gaya hidup yang saling bergesekkan tapi kebanyakan saling mengisi. Bagi sebagian insan ada yang mengikuti arus tetapi bagi sebagian yang lain banyak yang berpegang teguh pada khittah-nya. Tetapi kebanyakan menikmati perubahan itu dengan tetap berpegang pada tradisinya. Konstelasi perubahan dunia ini ketika merembes ke akar rumput atau perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat beragama, yang nilai keagamaannya berbenturan langsung dengan efek globalisasi, sebenarnya telah dapat dikomparasikan dengan berbagai catatan-catatan sejarah yang ada.

Bila keadaan ini dikerucutkan pada permasalahan yang terjadi pada komunitas intelektual Islam dari masa ke masa, di mana polemik pergeseran nilai pernah terjadi. Seperti pertentangan para filsuf Islam dan kaum fuqaha, bahkan pertentangan kepentingan politik untuk membujuk umat muslim dari golongan lain, misalnya syi’ah dan sunni pada masa dinasti Fathimiyah. Dan sebagaimana diketahui, abad awal imperium Islam terkotak-kotak dengan banyak ajaran politik, pergolakan dan perbedaan pendapat.

Dengan cara ini muncul tradisi-tradisi intelektual islam. Tradisi filosofi yang rasionalis, tradisi skolastik sunni, tradisi syiah dan sebagainya. Dan buku ini membahas signifikasi dari kehidupan intelektual dan menganalisis ragam kekuatan internal dan eksternal (politik, religius, filsafat dan sains) yang memunculkan ilmu-ilmu rasional pada abad-abad permulaan islam, perkembangan intelektualitas islam pada abad pertengahan, hubungan antara otoritas politik dan agama disatu sisi dan kehidupan sosial-intelektual Masyarakat Muslim di sisi lain pada era pra-modern hingga era kontemporer.

Penjelasan dan tulisan beberapa buku memang lebih profan (membumi) dari pada transenden (melangit). Karena para penulisnya pun memiliki tradisi yakni pendekatan sejarah. Jadi sebagai historian mereka melakukan kajian literatur dan tekstual yang menganalisa banyak segi intelektualitas yang menjadikannya fenomena majemuk hasil dari pengaruh berbagai kebudayaan, sebagai hasil dari penyebaran islam yang dalam waktu singkat telah meluas dari Spanyol hingga anak benua India. Sehingga konsekuensinya tradisi ke-Islaman di wilayah dan masyarakat baru tersebut berkontribusi secara langsung dan tidak dalam berbagai budaya dan pemikiran. Dari awal penyebaran Islam hingga kini hal tersebut terus berlanjut.

Ada banyak pemikiran Islam modern yang memiliki konklusi yang bisa diperdebatkan, seperti Muhammad Abduh yang menyatakan bahwa dari pengalamannya melakukan studi dan analisa beliau menyatakan bahwa Islam akan maju bila kita kembali memegang teguh ajaran para awalun mukmin, yakni masa-masa kerasulan Muhammad saw. dan sahabat. Apakah ini jawaban beliau terhadap banyaknya sungai kecil tradisi dalam arus sungai besar globalisasi dunia? Kemajemukan tradisi tradisi Intelektual islam yang kaya dari awal Islam hadir hingga masa modern di perkaya lagi oleh fenomena budaya. Bagaimanakah kemajemukan tradisi itu lalu mengerucut dan raib sejengkal demi sejengkal, akankah mengarus menjadi seragam dan tunggal? Mampukah perkembangan pendidikan Islam selanjutnya ini mengisi kekosongan (missing link) antara Islam dan Modernitas atau wajah Islam yang selaras sebagai suatu peradaban besar?

Pada masa pembinaannya yang berlangsung pada zaman Nabi, pendidikan Islam berarti memasukkan ajaran Islam ke dalam unsur budaya Arab pada masa itu, sehingga diwarnai oleh Islam. Dengaan terealisasinya pendidikan, maka terbentuklah suatu aturan nilai budaya Islami yang lengkap dan sempurna dalam ruang lingkupnya yang sepadan, baik dari segi situasi dan kondisi maupun waktu dan perkembangan zaman.

Sebenarnya sasaran pembudayaan Islam tersebut bukan hanya mewariskannya kepada generasi muda saja, tetapi meluas jangkauan penetrasi budaya Islam kepada budaya umat, kepada bangsa-bangsa di luar negeri Arab, sudah dirintis. Dengan demikian pendidikan Islam, pada masa pertumbuhan dan perkembangannya, juga pada masa-masa berikutnya mempunyai dua sasaran, yaitu generasi muda (sebagai generasi penerus) dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam. Tujuan dari keduanya, tak lain penyampaian ajaran Islam dan bisa menerimanya menjadi sistem hidup.

Namun pada masa kejayaan, terjadi dialog yang seru antara prinsip-prinsip Islam sebagaimana terangkum dalam al-Qur’an dengan budaya manusiawi yang telah berkembang pada masa itu. Dialog tersebut nampak dalam perbedaan-perbedaan pemikiran dan pandangan yang menimbulkan sikap kebijaksanaan yang berbeda-beda dalam menghadapi masalah yang baru timbul sebagai akibat bertambah banyaknya pemeluk agama Islam. Bentuk konkritnya adalah tumbuhnya berbagai aliran aliran dan madzhab dalam berbagai aspek budaya Islami. Pada garis besarnya pemikiran Islam dalam pertumbuhannya muncul tiga pola, yaitu: 1) Pola pemikiran yang bersifat skolastik, yang terkait pada dogma-dogma dan berfikir dalam rangka mencari pembenaran terhadap dogma-dogma agama. Mereka terikat pada Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. 2) Pola pemikiran yang bersifat rasional, yang lebih mengutamakan akal pikiran. Pola pikir ini menganggap bahwa akal pikiran sebagaimana juga hanya dengan wahyu, adalah merupakan sumber kebenaran. 3) Pola pemikiran yang bersifat bathiniyah dan intuitif, yang berasal dari mereka yang mempunyai pola kehidupan sufistik. Kebenaran yang diperoleh melalui pengamalan-pengamalan batin dalam kehidupan yang mistis dan dengan jalan berkontemplasi.

Hal ini terjadi di berbagi negara-negara Islam, khususnya Baghdad, Mesir, dan Andalusia. Namun ada nilai positif dari perkembanganya yang membuat negara terangkat, seperti sisi politik, pendidikan, intelektualnya, dan perpustakaan. Selain itu, masa keemasan dan kehancurannya tertuah dalam suatu sejarah, dengan tujuan agar kita bisa menafsirkan, memahami, mengerti, dan belajar dari mereka. Karena sejarah merupakan ilmu yang madiri. Mandiri artinya mempunyai filsafat sendiri, permasalahan sendiri, dan penjelasan sendiri.

Tinjauan Buku Islam Nusantara [3]

Posted on Updated on

Tarekat mempunyai arti jalan atau petunjuk dalam melakukan suatu ibadat sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan Nabi Muhammad saw. dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun-temurun sampai kepada guru-guru secara berantai. Adapun pengertian tarekat: sebagai pendidikan keruhanian yang dilakukan oleh orang-orang yang menjalani kehidupan tasawuf; dan sebagai sebuah perkumpulan atau organisasi yang didirikan menurut aturan yang telah ditetapkan oleh seorang syaikh yang menganut suatu aliran tarekat tertentu. Sebuah tarekat biasanya mengandung unsur-unsur penyucian bathin, kekeluargaan tarekat, upacara keagamaan, dan kesadaran sosial. Terbentuknya kelembagaan tarekat merupakan kelanjutan dari para pengikut para sufi. Munculnya berbagai cabang aliran tarekat merupakan konsekuensi logis dari sistem ijazah yang terdapat dalam organisasi tarekat.

Mulai abad ke-18, murid-murid Jawi di Haramayn sangat tertarik kepada pelajaran yang dikembangkan oleh seorang ulama sufi yang sangat karismatik, Muhammad ‘Abd al-Karim al-Samman (1718-1775) di Madinah. Al-Samman adalah salah seorang penjaga makam Nabi Muhammad saw. dan penulis beberapa buku tentang metafisika sufi. Dia juga dikenal sebagai pendiri tarekat baru yaitu Sammaniyah, sehingga dia menjadi orang yang berpengaruh. Tarekat Sammaniyah ini merupakan perpaduan dari Tarekat Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah dengan tarekat di Afrika Utara, Syadziliyah. Selanjutnya al-Samman mengembangkan cara berdzikir baru yang ekstatik dan menyusun sebuah ratib, bacaan yang mengandung do’a-do’a dan ayat-ayat al-Qur’an. Kemasykuran al-Samman akan kemampuannya melakukan hal-hal yang mengandung keajaiban sangat menunjang penyebaran tarekat ini ke Indonesia dalam waktu singkat. Paling tidak ada tiga ulama asal Palembang yang pernah belajar Tarekat Sammaniyah, yaitu: Syaikh ‘Abd al-Shamad al-Palimbani, Tuan Haji Ahmad, dan Muhyiddin bin Syihabuddin.

Hukum Islam menempati posisi penting dalam pandangan ummat Islam, yang merupakan sekumpulan aturan keagamaan yang mengatur perilaku kehidupan ummat Islam dalam keseluruhan hidupnya, baik yang bersifat individual maupun kolektif, karenanya hukum Islam mempunyai karakteristik yang serba mencakup. Pentingnya syariat atau fiqih bagi ummat Islam didasarkan pada sebuah Hadits Nabi Muhammad saw. yang menyatakan bahwa seorang faqih yang baik dapat mempertahankan dirinya secara lebih baik dibandingkan seribu orang muslim yang menjalankan kewajiban agama tanpa disertai pengetahuan fiqih secara memadai.

Untuk dapat melahirkan mujtahid-mujtahid Indonesia yang mampu mewujudkan persatuan di kalangan Muslim Indonesia serta memapu melakukan ijtihad dalam melahirkan fiqih yang berkepribadian Indonesia, maka sistim pendidikan yang mengkaji ilmu-ilmu keislaman harus mengarah pada interkoneksi antar-entitas ilmu. Penguasaan pengetahuan keislaman dan ilmu-ilmu sosial yang multi-dimensi harus digalakkan dalam Perguruan Tinggi Islam di Indonesia.

Karya-karya tafsir pada periode awal sebagian ditulis dalam bahasa Melayu-Jawi atau Arab-Pegon. Hal ini dimungkinkan terjadi, karena berdasarkan pelacakan Anthony Johns pada akhir abad ke-16 Masehi, terjadi pembahasa-lokalan Islam di berbagai wilayah Nusantara. Indikasinya, penggunaan aksara (script) Arab yang kemudian disebut dengan aksara Jawi atau Pegon, banyaknya kata sserapan yang berasal dari bahasa Arab, dan karya sastra yang terinspirasi oleh model dan corak Arab dan Persia. Dipakainya bahasa Melayu-Jawi ini menemukan kekuatannya, karena bahasa ini merupakan lingua-franca yang dipakai di Nusantara dan menjadi bahasa resmi pemerintahan, perdagangan, dan hubungan antar-negara.

Proses sosialisasi bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional menyebabkan banyaknya karya tafsir yang ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf latin. Dalam taraf tertentu, model penulisan tafsir dalam bahasa Indonesia yang berhuruf latin secara umum mudah diakses oleh masyarakat Indonesia. Karenanya model penulisan tafsir ini lebih bersifat populis. Di Indonesia ada kecenderungan bahwa ummat Islam yang tidak bisa berbahasa Arab dengan baik lebih memilih tafsir berbahasa Indonesia daripada bahasa daerah. Di antara tafsir tersebut adalah tafsir yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.

Pada awal abad ke-19 di Indonesia belum mengenal sistem pendidikan modern, masih bersifat tradisional. Pada masa tersebut Indonesia hanya mengenal satu jenis pendidikan yaitu sekolah agama Islam dengan berbagai bentuknya (masjid, langgar, surau, pesantren).[hlm.367] Setelah Indonesia merdeka, Departemen Agama menyempurnakan kurikulum, sistem pendidikan, dan beberapa aspek kependidikan lainnya, sehingga memunculkan sebuah lembaga pendidikan baru yang disebut madrasah diniyah.

Pembangunan suatu pesantren didorong oleh kebutuhan masyarakat akan adanya pendidikan lanjutan. Sebuah lembaga “pengajian” dapat dikatakan sebagai pesantren jika mempunyai unsur: (1) pondok, sebagai tempat tinggal bersama para santri yang terletak di dalam kompleks pesantren; (2) masjid, yang merupakan tempat tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam beribadah shalat lima waktu, khutbah, shalat Jum’at, dan pengajaran kitab; (3) pengajaran kitab klasik; (4) santri: baik yang mukim (tinggal dalam lingkungan pesantren) maupun kalong (santri yang tidak menetap dalam pesantren); dan (5) kiai sebagai pemilik otoritas pesantren. Tujuan ideal pesantren dan peran para alumninya tersebut, pada gilirannya akan menginternalisasikan ajaran Islam ke dalam masyarakat luas. Peran Islamisasi yang mereka lakukan dengan sendirinya akan mengikis pemahaman agama masyarakat yang sinkretis. Dengan demikian selain sebagai agen perubahan sosial, pesantren juga berperan penting dalam memperjuangkan Islam terhadap sinkretisme Jawa.

Kehadiran madrasah, menurut Muhaimin dan Abdul, sebagai lembaga pendidikan Islam paling karena alasan (1) sebagai manifestasi pembaruan sistem pendidikan Islam, (2) penyempurnaan sistem pesantren, (3) keinginan sebagian kalangan santri terhadap model pendidikan Barat, dan (4) sebagai sintetis sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan Barat.

Dalam dinamika lembaga pendidikan tinggi agama Islam yang berusaha memantapkan eksistensinya terus dilakukan berbagai upaya pembenahan agar lembaga ini menjadi perguruan tinggi agama yang berkualitas. Hal ini diharapkan dapat melahirkan sarjana agama (dari STAIN/IAIN/UIN) yang memiliki pengetahuan dan wawasan keilmuan yang mantap. Dengan memiliki hal tersebut, seorang sarjana agama akan dapat berkomunikasi dengan ilmuwan lain di masyarakat dengan bahasa keilmuan yang sama-sama dimengerti. Hal ini akan memudahkan bagi seorang sarjana agama Islam dalam menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada warga masyarakat terdidik.

Tinjauan Buku Islam Nusantara [2]

Posted on Updated on

Islamisasi merupakan suatu proses yang sangat penting dalam sejarah Islam di Indonesia, dan juga yang paling tidak jelas, sehingga sampai sekarang pun masih dalam perdebatan atau polemik bagi ahli sejarah. Hal ini karena memang tidak bisa dilepaskan dari sudut pandang, data yang ditemukan, dan interpretasi terhadap data peneliti itu sendiri.

Sejak masuk dan berkembangnya, Islam di Indonesia memerlukan proses yang sangat panjang dan melalui saluran Islamisasi yang beragam, seperti perdagangan, perkawinan, tarekat (tasawuf), pendidikan, dan kesenian. Proses Islamisasi di Indonesia terjadi dengan sangat pelik dan panjang. Diterimanya Islam oleh penduduk pribumi, secara bertahap membuat Islam terintegrasi dengan tradisi, norma, dan cara hidup keseharian penduduk lokal. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mudah menerima nilai-nilai dari luar dan menjadi bukti akan keterbukaan sikap mereka.

Islam Indonesia telah membentuk institusi politik paling awal pada abad XIII, namun institusi politik Islam di beberapa daerah tidak sama. Dalam bab II buku ini dibahas berbagai sejarah institusi politik di beberapa wilayah Nusantara, seperti Samudera Pasai (Aceh), Demak (Jawa Tengah), Pajang (Jawa Tengah), Cirebon (Jawa Barat), Banten, Ternate (Maluku Utara), Banjar (Kalimantan Selatan), dan Gowa-Tallo (Sulawesi Selatan).

Pada abad XV ummat Islam mempunyai peran politik yang sangat luas, hal ini dapat dimanfaatkannya untuk Islamisasi ke wilayah yang lebih luas. Namun, sentimen politik dan ekonomi yang begitu kuat tidak jarang melibatkan pergesekan di antara kerajaan Islam itu sendiri. Bahkan di antara kerajaan Islam itu terjadi peperangan untuk memperebutkan pengaruh dan hegemoni politik, yang tidak jarang kepentingan politik-ekonomi tersebut mengalahkan kepentingan agama. Hal ini dimanfaatkan oleh kehadiran imperialisme Barat (Portugis dan Belanda) yang selanjutnya mengancam institusi perpolitikan ummat Islam.

Tumbuhnya kesadaran politik ummat Islam pada dekade awal abad ke-20, sebagian disebabkan oleh ketidakpuasan ummat Islam terhadap kebijakan pemerintah kolonial (Belanda) mengenai Islam, sebagian lagi merupakan konsekuensi logis dari kebijakan pendidikan yang dijalankan oleh pemerintahan Hindia-Belanda. Peta pemikiran dan pergerakan nasionalisme maupun Islam bisa dilihat dari kebangkitan nasionalisme dan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20. Kesadaran dan bangkitnya rasa nasionalisme dalam masyarakat Islam Indonesia juga dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam di Timur Tengah.

Salah satu institusi sosial-politik Islam yang pertama kali muncul dalam awal kemerdekaan adalah terbentuknya Departemen Agama, yang bertitik tolak dari Kantor Urusan Agama masa Jepang (Shumubu). Pembentukan Kementerian Agama ini lebih didasarkan pada pertimbangan politis daripada urgensi peran yang diperlukan dalam sebuah sistem tata pemerintahan yang baru. Makna positif yang diharapkan dari Kementerian Agama ini adalah: kementerian itu menawarkan kemungkinan bagi agama, khususnya Islam, untuk berperan seefektif mungkin dalam negara dan masyarakat; dan dalam sebuah negeri yang warna Islam-nya sangat mencolok, kementerian ini merupakan suatu jalan tengah antara negara sekuler dan suatu negara Islam.

Ada beberapa karakteristik yang menandai format baru gerakan Islam yang terjadi pada 1980-an, seperti kecenderungan semakin pudarnya kepemimpinan politik Islam dan bangkitnya kepemimpinan para intelektual Muslim; kecenderungan semakin lemahnya penonjolan pada masalah ritual dan tampak lebih menonjolkan isu intelektual, sosial, ekonomi, dan estetika dalam Islam; kecenderungan menurunnya sikap sektarian di kalangan ummat Islam; dan kecenderungan memudarnya konsep ummat secara sempit.

Gerakan sosial keagamaan terutama dalam abad XIX mempunyai beragam sebutan, seperti juru selamat, Ratu Adil, gerakan pribumi, gerakan kenabian, penghidupan kembali, atau menghidupkan kembali. Banyak gerakan sosial, termasuk kerusuhan, pemberontakan, sektarianisme, dapat diklasifikasikan sebagai gerakan keagamaan, karena gejala tersebut pada umumnya cenderung untuk berhubungan dengan gerakan yang diilhami oleh agama atau menggunakan cara agama untuk mewujudkan tujuan gaib mereka. Kebanyakan pergolakan tersebut cenderung mempunyai segi yang bercorak keagamaan, seperti gerakan Rifa’iyah pada abad XIX, gerakan Islam-komunis,dan gerakan Fundamentalisme Islam.

Pembentukan tradisi keulamaan dan keilmuan Islam Indonesia atau Asia Tenggara secara keseluruhan membangkitkan terbentuknya jaringan ulama yang berpusat di Haramayn ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Dunia Islam. Sejak abad ke-16, Makkah dan Madinah memainkan peranan yang semakin penting dalam wacana pemikiran intelektual keagamaan Islam, di mana kebangkitan kembali Haramayn ini sebagai salah satu pusat terpenting dalam wacana intelektual keagamaan Islam yang ikut didorong oleh disintegrasi dinasti Muslim di Timur Tengah sejak abad ke-19. Keterlibatan ulama Indonesia dalam jaringan ulama yang berpusat di Haramayn dimulai pada pertengahan abad ke-17. Dilihat dari segi materi, para ulama kita telah melakukan pendekatan “baru” atau memerinci dan memperjelas materi yang ada serta mengontekstualisasikannya ke dalam situasi dan lingkungan tertentu. Mereka juga melakukan adaptasi, baik dalam segi materi maupun penyajian, sehingga bisa lebih sesuai serta dapat difahami dari diterima kaum Muslimin Melayu.

Ulama adalah mereka yang mempunyai keahlian dalam bidang keilmuan Islam dan dengan konsisten mengamalkan ilmunya itu, sehingga mendapat pengakuan dari masyarakat Muslim secara luas. Setidaknya terdapat dua syarat minimal seseorang dapat disebut ulama: mempunyai keilmuan yang tinggi setelah dia menempuh belajar yang cukup lama; dan pengakuan masyarakat akan ketaatannya terhadap ajaran Islam, yang dibuktikan dengan perbuatan nyata. Adanya peran sentral ulama dalam masyarakat Muslim Indonesia, di mana ulama merupakan penerjemah ajaran Islam tekstual menjadi rumusan ajaran yang bersifat kontekstual dan lokal, dengan cara inilah ajaran Islam dapat disampaikan kepada masyarakat.

Abu Hamid al-Ghazali (1111 M) melalui berbagai karya tulisannya (Ihya‘ ’Ulum al-Din) berupaya mengembalikan ajaran tasawuf kepada ajaran al-Qur’an dan Hadits, yang kelak diberi nama tasawuf sunni, pada dasarnya menjadikan tasawuf lebih dekat dengan tasawuf akhlaqi. Bagi al-Ghazali, pemantapan ilmu syariat dan akidah sangat diperlukan sebelum mengamalkan ilmu tasawuf. Kompromi tasawuf dan syariah yang dilakukan al-Ghazali mempunyai dampak luar biasa, di mana upaya harmonisasi tersebut dipandang cukup konstruktif dan positif, tapi belum berhasil memuaskan sepenuhnya.

Pentingnya peran sufi dalam proses Islamisasi di Indonesia didukung oleh fakta kemiripan antara ajaran sufisme dengan kebudayaan Indonesia pra-Islam. Ajaran kosmologis dan metafisis tasawuf Ibn ‘Arabi dapat dengan mudah dipadukan dengan ide-ide sufistik India dan ide sufistik pribumi yang dianut masyarakat setempat. Kecenderungan kuat masyarakat terhadap konsep mistik-filosofis tidak membuat kaum Muslimin di kawasan Melayu-Indonesia tidak mengenal ajaran syariat. Oposisi paling kuat terhadap ajaran sufistik-filosofis di Jawa mungkin dapat diwakili Wali Sanga pada abad XV yang menghukum mati Syaikh Siti Jenar, di mana para Wali di sini digambarkan sebagai ulama konservatif yang berorientasi syariah.

Tinjauan Buku Islam Nusantara [1]

Posted on Updated on

Buku “Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia” ini karangan Nor Huda, yang diterbitkan oleh Ar-Ruzz Media di Jogjakarta pada tahun 2007. Sejarah merupakan sebuah proses interaksi yang terus-menerus antara sejarawan dengan fakta yang dimilikinya. Sejarah juga merupakan suatu dialog yang tiada akhir antara masa kini dan masa lalu. Ini dapat dilihat berdasarkan keanekaragaman, perubahan, dan kesinambungan melalui dimensi waktu.

Islam Nusantara merupakan rangkaian sejarah panjang perkembangan Islam di Indonesia yang menguntai berbagai dimensi sejarah di dalamnya, baik itu sejarah sosial, sejarah intelektual, sampai sejarah kebudayaan, yang bertaut menguntai butiran khazanah keislaman yang tiada ternilai harganya. Dan pada akhirnya perjalanan sejarah itu menjadi bagian yang absolut bagi perjalanan umat Islam di Indonesia.

Buku ini menganalisis perkembangan Islam di Nusantara dengan perspektif Sejarah Sosial Intelektual. Perspektif sosial intelektual yang digunakan untuk meneropong Islam di Indonesia ini adalah untuk menyeimbangkan penulisan sejarah konvensional yang identik dengan sejarah politik. Tema lain yang digarap sejarah sosial adalah peristiwa gerakan sosial. Institusi sosial juga merupakan bidang garapan sejarah sosial, sejarah keluarga para bangsawan atau keluarga yang mungkin menyimpan banyak keterangan sejarah.

Adapun tujuan penulisan buku ini agar para pembaca mengetahui karakter Islam Nusantara itu sendiri, dan menjawab semua pertanyaan yang selama ini ada dalam kehidupan masyarakat sehingga pembaca tahu bahwa Islam Nusantara itu bukanlah agama baru ataupun aliran baru.

Dalam buku ini di tuliskan bahwa Islam Nusantara menjadi jawaban matang terhadap problem keumatan. Jadi ini menjadi refleksi keilmuan dimana Islam konseptual matang dalam teks, Islam faktual matang dalam kehidupan dan masih butuh lagi Islam sosial yang memadukan antara kebutuhan agama dan kebutuhan manusia. Dengan paham Islam Nusantara, orang tidak lagi fanatik dan anti budaya. Termasuk perlu memahami wacana lintas agama dan tidak mudah terprovokasi.

Dalam buku ini pembaca dapat memahami Islam yang ada di Indonesia bukanlah Islam yang sama dengan Islam di negara-negara Timur Tengah, akan tetapi Islam di Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Budaya-budaya sakral yang ada di Indonesia tidak hilangkan begitu saja, melainkan diperbaiki agar lebih baik lagi dan tiak melenceng dari ajaran agama Islam yang sesungguhnya yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Hal yang perlu kita petik dari buku ini adalah tentang bagaimana kita harus memahami Islam Nusantara sebenarnya, agar nantinya agama Islam tidaklah saling berbenturan sehingga menciptakan pemikiran-pemikiran yang saling memecah belah.

Adapun kelebihan buku ini memiliki tata stuktur dari setiap topik yang dijelaskan secara terperinci, dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh para pembaca. Sedangkan kekurangannya bagi pembaca untuk dapat memahami kandungan dari isi buku ini secara komprehensif maka pembaca harus membaca secara berulang-ulang. Buku ini juga tidak secara lengkap membahas tentang Wali Songo yang cukup berperan signifikan terhadap awal mula penyebaran agama Islam di Nusantara.