Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [1]

Posted on Updated on

Adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cukup pesat dewasa ini sangat berpengaruh kepada hampir setiap bidang kehidupan yang dijalani ummat manusia di abad ke-21. Dalam hal ini bidang pendidikan dihadapkan pada tantangan era globalisasi yang dituntut untuk beradaptasi secara optimal dalam perkembangan zaman. Seluruh komponen pendidikan harus bisa menyesuaikan diri ke dalam pesatnya laju perkembangan dunia teknologi, baik dari sisi lembaga, pendidik, maupun peserta didik.

Kecenderungan yang terjadi saat ini peserta didik yang lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi bila dibandingkan dengan pendidik atau lembaga, di mana hal ini akan berdampak negatif terhadap proses pembelajaran karena adanya kesenjangan pemahaman akan pemanfaatan teknologi komunikasi-informatif yang semestinya harus dapat digunakan secara optimal untuk peningkatan mutu pendidikan.

Media sosial yang sedang marak di kalangan remaja, dalam hal ini peserta didik, sangat berperan aktif di dalam kehidupan mereka terutama yang tinggal di kota-kota besar. Gaya pergaulan sosial pelajar saat ini dengan pengaruh media-sosial (online interaction) yang cenderung mengurangi interaksi edukatif (physical interaction). Padahal sekolah atau madrasah tempat siswa belajar merupakan lingkungan masyarakat edukatif di mana siswa dituntut untuk berperan aktif dalam interaksi edukatif, bukan hanya pasif seperti pergaulan dunia-maya melalui media sosial.

Penggunaan media sosial dengan frekuensi yang tinggi di kalangan pelajar ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif terhadap kelangsungan proses pendidikan di sekolah atau madrasah. Dalam makalah ini menitik-beratkan pembahasan yang terjadi di lingkungan madrasah aliyah, dengan permasalahan:

  • Bagaimana pengaruh interaksi edukatif terhadap mutu pembelajaran madrasah?
  • Bagaimana pengaruh penggunaan media sosial terhadap mutu pembelajaran madrasah?

Diharapkan adanya pemecahan masalah terhadap fenomena ini demi masa depan pendidikan madrasah dalam menghadapi tantangan kemajuan zaman khususnya perkembangan teknologi di era globalisasi, dalam hal ini mencari cara atau metode kombinasi antara interaksi edukatif (offline) dengan media sosial (online) sehingga menjadi suatu sinergi yang efektif dalam model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran madrasah.

Advertisements

Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [4]

Posted on Updated on

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang Allah karuniakan akal sebagai alat untuk berfikir. Dengan akal manusia mampu menyerap ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi, serta menghasilkan karya seni, sehingga dapat menciptakan peradaban di muka bumi. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan panca indra, intuisi dan firasat. Jadi ilmu pengetahuan dalam Islam sangat mempengaruhi bagi kemajuan agama Islam. Serta dengan keiman dan ketakwaan terhadap Allah SWT, manusia diberikan derajat yang lebih tinggi dan manusia juga memiliki tanggung jawab terhadap Allah yaitu beribadah kepada Allah dan menjaga keindahan dan keaslian alam.

Kesimpulan

Hal yang dapat dilakukan untuk menggiatkan kembali (revitalisasi) peran serta sumbangan (kontribusi) ilmuwan Islam dengan pemikiran Islami dalam dunia ilmu pengetahuan melalui tiga upaya seperti: tidak membedakan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, perbaikan kurikulum yang sesuai dengan syari’at Islam, dan islamisasi ilmu pengetahuan.

Saran

Diharapkan seluruh ummat Islam baik dari sisi pemerintah (Kementerian Agama, Kemendikbud, dan instansi yang terkait lainnya) maupun masyarakat pada umumnya (perguruan tinggi, lembaga penelitian, ormas Islam, dan lembaga masyarakat lainnya) saling bahu-membahu bekerja sama melalui berbagai upaya/metode di atas untuk menggiatkan kembali kualitas para ilmuwan Islam sehingga dapat kembali berperan serta aktif lagi menyumbangkan pemikiran Islami baik dalam ilmu agama maupun dalam dunia ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka

  • Edang Saifuddin Ansari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Jakarta: Grafindo Persada: 2009.
  • Hafudhuddin, Didin. 2003. Islam Aplikatif. Jakarta: Gema Insani.
  • Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2011.
  • Samsul Nizar, 2007, Sejarah Pendidikan Islam, Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana.
  • Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1994.
  • Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2015.
  • Romli SA. & Dian Mursyidah, Kajian Islam Komprehensif: Tela’ah Metodologi dan Ajaran, Yogyakarta: Fadilatama, 2014.
  • Jujun Suriasumatri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Obor Indonesia, 2003.
  • Mansur, Hamdan, dkk., 2004. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI.

Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [3]

Posted on Updated on

Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul Islam. Di dalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah, syari’ah, dan akhlak, dengan kata lain iman, ilmu, dan amal salih. Ketiga inti ajaran yaitu iman, ilmu dan ikhsan terintegrasi dalam dinul Islam.

Dalam (QS. Ibrahim: 24-25) dinyatakan: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (dinul Islam) seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh (menghujam ke bumi) dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”

Dari ayat di atas menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu, dan amal. Ketiga tersebut tidak dapat dipisahkan antar satu sama lain. Iman diartikan dengan akar dari sebuah pohon yang menopak tegaknya ajaran Islam. Ilmu diartikan sebagai batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal saleh bukan kerusakan alam.

Tidak Ada Perbedaan antara Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan
Ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan, yang digunakan dalam proses pencapaian tujuan. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Secara definisi dari KBBI, ilmu agama adalah pengetahuan tentang ajaran (sejarah dan sebagainya) agama; teologi. Sedangkan ilmu pengetahuan gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.

Menurut Jujun Suriasumantri hakikat ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan yang dapat diandalkan dan berguna bagi kita dalam menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam.

Ilmu memiliki dua objek yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah seluruh lapangan penyelidikan atau bahan yang dijadikan objek penyelidikan (material object) seperti tubuh manusia untuk objek material ilmu kedokteran. Sedangkan objek formalnya adalah metode untuk memahami material tersebut.

Ilmu mengandung arti pengetahuan, tetapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis, rasional, empiris dan konsisten dengan kajiannya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan dan pemikiran manusia, dibantu dengan pengindraan manusia itu serta kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental.

Sebagai agama yang universal islam tidak hanya menitikberatkan pada persoalan ukhrawi saja seperti ibadah, aqidah dan tauhid. Pada kenyataannya, Islam juga sangat memperhatikan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan umat manusia. Itulah sebabnya dalam al-Qur’an tidak hanya mengatur tentang ubudiah saja tetapi juga banyak memuat ayat-ayat yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Hal itu karena disamping ditentukan oleh nilai-nilai peribadatannya kepada Allah, martabat manusia juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan ilmu pengetahuan, untuk kemanfaatan hidupnya. Dengan ilmu pengetahuan, alam dan isinya yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan manusia. Sedangkan dengan seni manusia bias menjaga keasrian alam, agar selalu tetap dalam fitrahnya sebagai alam dan menjega ketidak seimbangan yang mungkin terjadi sebagi akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itulah Islam tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan masalah peribadatan lainnya.

Perbaikan Kurikulum

Para penanggung jawab pendidikan di negara muslim pada umumnya, dalam hal ini di Indonesia pada khususnya, harus segera menempuh langkah-langkah perbaikan kurikulum antara lain:

  • Menolak dan membuang kurikulum pendidikan yang bertentangan dengan Islam, menyusun kurikulum pendidikan baru yang sesuai dengan aqidah dan prinsip hidup ummat Islam.
  • Menghilangkan kesenjangan antara tujuan ilmu pengetahuan dan ilmu agama dalam seluruh materi pelajaran, seraya menjelaskan kepalsuan teori atheis Barat yang telah sebelumnya dimasukkan ke dalam materi pelajaran tersebut. Ini agar para pelajar memiliki pemahaman yang benar mengenai aqidah Islam dan tuntutan ilmu pengetahuan.
  • Merancang dan memberlakukan materi pelajaran agama Islam dan bahasa Arab di sekolah/madrasah mulai dari tingkat dasar, menengah sampai ke level perguruan tinggi.
  • Meluruskan sejarah Islam agar para pemuda muslim mengetahui kebesaran dan keagungan sejarahnya, sehingga dapat dipetik hikmah baik yang positif (kesuksesan ummat terdahulu) maupun negatif (kemunduran kejayaan Islam).
  • Memperhatikan pentingnya pelajaran bahasa Arab yang memiliki kedudukan sebagai bahasa al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad saw. Selain pula melakukan proses Islamisasi terhadap sistem pendidikan di perguruan tinggi, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Pemerintah melalui Kementerian Agama dan Kemendikbud harus menambah porsi pendidikan al-Qur’an, baik untuk dihafalkan maupun dikaji sehingga menambah wawasan pemahaman nilai al-Qur’an untuk dapat diterapkan selanjutnya ke dalam ilmu pengetahuan.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, kini jarak tidak lagi menjadi masalah yang berarti dalam dimensi hidup manusia. Dunia menjadi kecil. Siapapun bisa saling bercerita panjang lebar dari dua sisi dunia yang berbeda. Semua pekerjaan rutin bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi ternyata itu tak membuat manusia mengaku lebih bahagia. Manusia menjadi miskin terhadap perasaan kemanusiaannya sendiri. Satu sisi, pengetahuan menghasilkan kemajuan material yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sementara di sisi lain menimbulkan proses dehumanisasi dan gagal menyelesaikan problema manusia. Krisis berpangkal pada materi kebenaran dari ilmu, atau dengan kata lain berpangkal pada asas ontologi, epistemologi dan aksiologi keilmuan yang tidak tepat.

Selain itu, sudah terlalu banyak krisis sains modern akibat dari adanya sekulerisasi antara agama dan ilmu pengetahuan. Banyak pandangan bahwa Agama, ilmu dan seni terpisah, sehingga satu sama lain tidak saling menopang. Ilmu tidak memiliki kendali moral, baik dalam kegunaan maupun ruang lingkup pengkajian. Padahal semestinya, ilmu didasarkan pada agama (Islam) dan digunakan berdasarkan syari’ah untuk kebaikan manusia dan alam semesta.

Untuk itu, diperlukan Islamisasi dalam menyikapi berbagai ilmu pengetahuan baru yang masuk. Hal ini bertujuan untuk: Penguasaan disiplin ilmu modern, termasuk teknologi dan seni yang sampai saat ini masih mayoritas non-muslim. Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern, sehingga di tiap unsur pengembangan teknologi mengandung nilai-nilai Islami.

Penguasaan warisan Islam, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya (sejarah Islam dalam ilmu pengetahuan) untuk dikaji ulang kesuksesan para ulama-sains Islam. Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan umat manusia seluruhnya).

Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah, ke arah penerapan Islamisasi ilmu pengetahuan. Realisasi praktis islamisasi pengetahuan ini melalui: penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan Islam.

Kepentingan aqidah, bahwa aqidah Islam adalah dasar ilmu pengetahuan, pengkajian dan aplikasi keilmuan. Kepentingan kemanusiaan, bahwa aktivitas keilmuan yang didasarkan dan dikontrol iman akan mewujudkan manusia seutuhnya sesuai dengan hakikat penciptaannya. Kepentingan peradaban, bahwa kehidupan dengan sistem Islam, dan segala aktivitasnya yang berjalan dalam koridor aturan Allah SWT secara konsisten akan membawa manusia pada peradaban yang agung. Kepentingan ilmiah, bahwa segala aktivitas keilmuan selalu dapat dipertanggung-jawabkan secara horisontal disertai nilai keikhlasan layaknya ibadah ke hadirat Allah SWT.

Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [2]

Posted on Updated on

Membahas masalah ilmu pengetahuan dalam Islam berarti kita membicarakan kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam serta pemberdayaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan dakwah Islam. Islam mengajarkan kepada kita memikirkan ayat-ayat Allah baik ayat Qouliyah (al-Qur’an dan Hadist) maupun ayat-ayat Kauniyah (fenomena alam semesta), di mana di dalamnya syarat muatan multi ilmu pengetahuan. Dalam al-Qur’an juga banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh kita untuk mempelajari, meneliti, dan memperhatikan ilmu pengetahuan.

Sejarah Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Di masa-masa awal, masyarakat muslim sudah bangkit di atas pondasi keilmuan yang begitu kokoh. Bahkan mereka telah melangkah jauh pada jalan yang ditunjukkan agamanya yang agung dan suci, hingga kemudian duduk dengan penuh wibawa sebagai pusat rujukan keilmuan yang paling berpengaruh di seluruh dunia.
Kemajuan perkembangan sistem pendidikan yang terjadi baik di masa Bani Umayyah (41-132 H) maupun di Dinasti Abasiyah (750-1258 M) telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Keberadaan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh Islam, dan ummat Islam tampil sebagai bangsa yang dihormati, disegani, dan dikagumi oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Sejarah menyaksikan sekaligus menetapkan bahwa ummat Islam adalah penyumbang terbesar peradaban dunia yang sedang mekar dan berdiri tegak dewasa ini. Kalangan sejarawan sepakat untuk menyatakan bahwa kebangkitan Eropa muncul dari kemajuan peradaban bangsa Arab berikut pelbagai peninggalannya yang bersifat logis dan etis yang tersebar di segala penjuru dunia.
Sistem pendidikan yang terjadi di zaman Dinasti Abasiyah telah menjadi model bagi pelaksanaan pendidikan yang terjadi di berbagai belahan dunia, dan hingga saat ini pada disiplin ilmu tertentu pengaruhnya masih terasa.
Peradaban Islam telah membawa ummatnya pada posisi yang lebih utama seraya mempersembahkan sejumlah ilmuwan besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan secara keseluruhan, seperti:

  • Ibnu Khaldun dalam bidang sosiologi, sejarah dan arsitektur.
  • Ibnu Sina dalam bidang ilmu kedokteran.
  • Abu Bakar al-Khawarizmi dalam bidang ilmu matematika dan astronomi.
  • Ibnu Haisam dalam bidang ilmu fisika dan optik.
  • Abu Zakaria dalam bidang ilmu kedokteran.
  • Abu Zakaria al-Awwam dalam bidang ilmu botani.
  • Abu al-Qasim az-Zahrawi dalam bidang ilmu bedah.

Masih banyak lagi tokoh lainnya. Sejarah telah mengabadikan nama dan kecemerlangan mereka. Para cendekiawan dari waktu ke waktu selalu mendiskusikan warisan ilmiah mereka yang begitu mengagumkan. Karya dan buku-buku mereka dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan telah mengajarkan, bahkan mengubah dunia menjadi jauh lebih baik dan dapat mengecap kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Dunia senantiasa haus terhadap ilmu dan pengetahuan berikut segenap warisannya. Bangsa Eropa sungguh benar-benar mengetahui hal ini. Para pelopor dan pakar bangsa itu telah menyaksikan keutamaan dan keandalan ilmu pengetahuannya. Termasuk kontribusi peradaban Islam bagi dunia ilmu pengetahuan dan peradaban mereka.
Demikianlah kondisi ummat Islam saat berpegang teguh kepada agama mereka. Seyogyanya ummat Islam menyadari kondisi saat ini di mata ummat dan bangsa yang ada. Untuk kemudian membandingkannya dengan kondisi mereka di masa awal sejarah. Ini agar mereka mengetahui bahwa sikap ketidakpedulian yang tentu saja tidak mengurangi nilai ajaran Islam itu sendiri, menjadi penyebab keterbelakangan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sejarah Islam dalam Ilmu Pengetahuan
Masa jaya Baghdad sebelum abad ke-13 dikenal sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan. Namun penyerangan bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan tahun 1250 M mengakibatkan hancurnya pusat ilmu pengetahuan seperti perpustakaan dan lembaga pendidikan. Hal ini berakibat pada putusnya akar sejarah intelektual yang telah dibangun pada masa awal Islam. Kekalahan politik berimplikasi pada cara pandang dan berfikir ummat Islam yang telah mulai mengalihkan pandangan dan pemikiran ummat Islam yang semula dinamis berubah menjadi fatalis. Pada masa ini terjadi kegelisahan dan frustasi sehingga berusaha menjauhi kehidupan duniawi termasuk meninggalkan kehidupan intelektual. Kehidupan para sufi muncul dan berkembang dengan mengadakan riyadhah di bawah bimbingan dan otoritas Syaikh dan berkembang menjadi lembaga tarekat.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya.
Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim. Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan pengetahuan Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumber daya manusianya.

Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Ilmu pengetahuan amat penting bagi setiap individu bahkan dapat meningkatkan martabat manusia. Di dalam Islam, menuntut ilmu juga merupakan suatu ibadah kepada Allah dan terdapat beberapa hal tertentu dalam proses menuntut ilmu. Pentingnya mempunyai ilmu adalah untuk membuktikan kekuasaan Allah. Hal ini adalah untuk menguatkan kepercayaan dan keimanan manusia terhadap Allah. Dengan adanya ilmu, manusia dapat membaca al-Qur’an yang mana terkandung segala persoalan yang ada di muka bumi ini. Ilmu juga membolehkan manusia mengkaji alam semesta ciptaan Allah ini. Menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja,tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Rasulullah pernah bersabda “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
Untuk kehidupan dunia kita memerlukan ilmu yang dapat menopang kehidupan dunia, untuk persiapan di akhirat. Kita juga memerlukan ilmu yang sekiranya dapat membekali kehidupan akhirat. Dengan demikian, kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai tujuan hidup insya Allah akan tercapai. Melalui ilmu juga lah manusia dapat menjalankan tugas sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini. Sebagai hamba Allah, manusia perlu melaksanakan ibadah-ibadah umum dan khusus. Dalam pada masa yang sama, manusia juga merupakan khalifah Allah di muka bumi ini. Ilmu yang diperoleh dengan keizinan Allah perlulah dipelajari dan disampaikan kepada individu dan masyarakat.

Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [1]

Posted on Updated on

Ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama Islam, dalam berbagai bentuk kata ilmu ini dijumpai sebanyak 854 kali yang terdapat di kita suci al-Qur’an. Ilmu bukan sekedar pengetahuan, tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.

Di zaman modern saat ini ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan dalam kemajuan suatu bangsa, serta ilmu tersebut akan berpengaruh terhadap taraf ekonomi, sosial dan intelektual seseorang. Dari tahun ke tahun ilmu pengetahuan sudah berkembang dengan pesat. Bahkan untuk elemen/unsur tertentu ilmu pengetahuan merupakan suatu kebutuhan primer. Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam kehidupan dalam umat manusia. Martabat manusia di samping ditentukan oleh peribadahannya kepada Allah, juga ditentukan oleh kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan di dalam al-Qur’an sendiri Allah menyatakan bahwa hanya orang yang berilmulah yang benar takut kepada Allah.

Sumber utama dari ilmu pengetahuan dalam Islam adalah kitab suci al-Qur’an, yang merupakan kebenaran langsung disampaikan Allah kepada Rasulullah. Karena hal ini maka dimana ilmu yang berguna untuk kehidupan di dunia dan di akhirat wajib dipelajari, dan merupakan kurikulum pada lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu di lembaga pendidikan Islam tidak terdapat dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, karena semua ilmu itu adalah ilmu keislaman.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata revitalisasi berarti proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Sedangkan arti kata kontribusi adalah sumbangan.

Adapun masalah yang ditelaah dalam makalah ini tentang bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk revitalisasi (menggiatkan kembali) peran serta kontribusi (sumbangan) ilmuwan Islam dengan pemikiran Islami dalam dunia ilmu pengetahuan.

Tulisan ini bertujuan untuk mencari upaya pemecahan masalah yang dihadapi oleh dunia Islam dewasa ini dari bidang kontribusi pemikiran ilmuwan Islam terhadap dunia ilmu pengetahuan, sehingga nantinya diharapkan para ilmuwan Islam dapat kembali berperan serta aktif lagi menyumbangkan pemikiran Islami dalam dunia ilmu pengetahuan.

Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [4]

Posted on Updated on

Perkembangan pendidikan Islam mulai dari periode Rasulullah Nabi Muhammad saw. sampai ke Dinasti Abasiyah semakin menyempurnakan dunia pendidikan Islam sejalan dengan situasi dan kondisi pada masanya masing-masing. Adapun misi pendidikan Islam pada hakikatnya mewujudkan manusia sempurna dibekali akhlak mulia yang diimbangi dengan kesehatan jasmani-rohani untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan hidup guna mengolah bumi yang diciptakan Allah SWT sehingga dapat memanfaatkannya demi kesejahteraan ummat manusia.

Kesimpulan

Pendidikan Islam sejak periode Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang sederhana namun kompleks muatannya sampai ke Dinasti Abasiyah yang menjadi acuan pendidikan ilmu pada zaman itu, semakin menyempurnakan sistemnya mulai dari visi-misi-tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, sasaran (peserta didik), tenaga pendidik, metode/pendekatan pembelajaran, tempat pembelajaran (lembaga pendidikan), pembiayaan-fasilitas pendidikan, sampai pada evaluasi dan lulusan pendidikan.

Saran

Pada sistem pendidikan zaman Bani Umayyah dan Dinasti Abasiyah di lembaga pendidikan Islam tidak terdapat dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, karena semua ilmu itu adalah ilmu keislaman, sehingga pada saat itu Islam telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Dengan tidak membedakan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan diharapkan adanya revitalisasi mutu para pemikir/sarjana Islam sehingga dapat kembali berperan serta aktif dalam kontribusi pemikiran Islami baik segi ilmu agama maupun segi dunia ilmu pengetahuan pada umumnya.

Daftar Pustaka

  • A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (terj,) H. Mukhtar Yahya dan M. Sanusi Latief, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983, cet. I.
  • Abudin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
  • Abudin Nata, Pendidikan dalam Perspektif Hadist, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.
  • Abdullah Idi, Etika Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2015.
  • George Thomas White Petrick, dalam H. M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
  • Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2015.
  • Syafi’i Antonio, Muhammad SAW the Super Leader Super Manager, Jakarta: Prophet Leadership & Management Centre (PLM), 2007, cet. IV.
  • Syekh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, (terj.) Masturi Ilham, dari judul asli Min A’lam as-Salaf, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006.
  • Zuhairi dan Tim Penulis, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Ditjen Bimbaga Islam, 1986.

Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [3]

Posted on Updated on

Periode Kekhalifahan

Kekhalifahan Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan pada masa 41-132 H (661-752 M). Beberapa nama khalifah yang terkenal pada masa itu seperti Abd al-Malik ibn Marwan, al-Walid ibn Abd al-Malik, Umar ibn Abd al-Aziz, dan Hisyam ibn Abd al-Malik. Visi pendidikan pada masa itu adalah unggul dalam ilmu agama dan umum sejalan dengan kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah Islam, dengan misi:

  • menyelenggarakan pendidikan agama dan umum secara seimbang;
  • melakukan penataan kelembagaan dan aspek-aspek pendidikan Islam;
  • memberikan pelayanan pendidikan pada seluruh wilayah Islam secara adil dan merata; dan
  • memberdayakan masyarakat agar mandiri, dapat memecahkan masalahnya sesuai dengan kemempuannya sendiri.

Pendidikan bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul secara seimbang dalam ilmu agama dan umum serta mampu menerapkannya bagi kemajuan wilayah Islam, dengan sasaran seluruh ummat atau warga yang terdapat di seluruh wilayah kekuasaan Islam sebagai dasar bagi dirinya dalam membangun masa depan yang lebih baik. Kurikulum pendidikan pada masa dinasti Umayyah meliputi ilmu agama, ilmu sejarah dan geografi, ilmu pengetahuan bidang bahasa, dan ilmu filsafat. Tempat pembelajaran selain seperti masa sebelumnya (rumah, masjid, suffah, kuttab) juga ditambah dengan istana, badiah, perpustakaan, dan bimaristan, dengan masing-masing tenaga pendidik yang disesuaikan dengan tempat pembelajaran tersebut.

Pengelolaan kegiatan pendidikan pada masa Bani Umayyah dilakukan secara desentralisasi, pemerintah pusat hanya menetapkan kebijakan secara umum dan selanjutnya menyerahkan pengelolaan pendidikan kepada kebijakan program masing-masing gubernur di setiap provinsi. Para lulusan pendidikan di masa dinasti Umayyah ini terdiri dari para tabi’in (mereka yang hidup dan berguru kepada para shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw.), atau generasi kedua setelah shahabat, yang banyak menjadi ulama ahli Fiqh dan perawi Hadist.

Masa Bani Umayyah secara politik yang berlangsung selama 90 tahun ini lebih banyak digunakan untuk melakukan perluasan wilayah dan meredam berbagai gejolak dan pemberontakan, sehingga situasi sosial-politik ini berpengaruh pada dunia pendidikan pada saat itu yang lebih dominan ilmu agama daripada ilmu umum.

Periode selanjutnya adalah Dinasti Abasiyah yang selama lima abad dipegang oleh lebih dari 37 khalifah dimulai dari Abu al-Abbas as-Safah di tahun 750 M sampai dengan al-Mu’tashim di tahun 1258 M, dengan beberapa nama yang terkenal seperti Abu Ja’far al-Mansur, al-Mahdi, Harun al-Rasyid, dan al-Ma’mun. Dinasti Abasiyah sebagaimana yang dikenal dalam sejarah sebagai zaman keemasan Islam yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban yang mengagumkan, dengan perluasan kekuasaan Islam seperti wilayah Iraq, Spanyol, India, Mesir, dan sebagian dari Afrika utara.

Lembaga pendidikan selain yang telah ada di periode sebelumnya (masjid, suffah, kuttab, al-badiah, istana, perpustakaan, dan al-bimaristan) pada masa ini juga berkembang al-Hawanit al-Warraqien (toko buku), Manazil al-Ulama (rumah para ulama), al-Sholum al-Adabiyah (sanggar sastra), Madrasah (tempat belajar), al-Ribath dan az-Zawiah, perpustakaan dan observatorium.

Kurikulum dalam masa Dinasti Abasiyah dapat dilihat dari sudut pandang pemikiran dua pakar/ulama pada saat itu yaitu Imam al-Ghazali dan Ibnu Khaldun. Menurut Imam al-Ghazali pembagian ilmu dari segi sumber (syariat Quran-Hadist dan non-syariat seperti ilmu kedokteran, berhitung dan imu perusahaan), segi objeknya jauh dekatnya dengan Tuhan (ilmu pengetahuan yang terpuji, tercela, dan filsafat naturalisme), dan segi hukum (ilmu fardlu ‘ain dan dan ilmu fardhu kifayah). Sedangkan menurut Ibnu Khaldun yang menyusun kurikulum sesuai dengan akal dan kejiwaan peserta didik dengan tujuan agar peserta didik menyukainya dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu tersebut, membagi ilmu menjadi kelompok ilmu lisan (bahasa dan sastra), kelompok ilmu naqli (yang diambil dari Quran-Hadist), dan kelompok ilmu aqli (yang diperoleh melalui kemampuan berfikir).

Tradisi ilmiah dan atmosfer akademik yang terjadi pada masa periode dinasti Abasiyah ini seperti: Muzakarah (pertukaran informasi), Munazarah (perdebatan), Rihlah Ilmiah (perjalanan menuntut ilmu), penerjemahan, koleksi buku dan perpustakaan, pembangunan lembaga penelitian, penelitian ilmiah, pemberian wakaf, dan penulisan buku. Para ilmuwan dan guru besar banyak yang dilahirkan dari masa dinasti Abasiyah ini bukan hanya ahli dalam ilmu agama Islam melainkan juga ahli dalam bidang ilmu pengetahuan umum, seni dan arsitektur, di antaranya adalah: Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibn Miskawaih (ilmu akhlak), Ibn Jama’ah (guru istana), dan Imam al-Juwaini (guru Madrasah Nidzamiah). Pembiayaan pendidikan pada masa dinasti Abasiyah sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah yang per-tahunnya menganggarkan sekitar 600.000 dinar, bisa diasumsikan sekarang setara dengan sekitar Rp 6 triliun. Begitu juga dengan manajemen pendidikan yang diatur oleh pemerintah dan kemudian dikoordinasikan dengan berbagai lembaga pendidikan yang mulai berkembang pesat di zaman dinasi Abasiyah tersebut.

Kemajuan sistem pendidikan yang terjadi di zaman dinasti Abasiyah ini telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Sistem pendidikan ini telah menjadi model atau kiblat bagi pelaksanaan pendidikan yang terjadi di berbagai belahan dunia pada masa itu. Sehingga keberadaan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan ummat Islam tampil sebagai adikuasa yang dihormati, disegani dan dikagumi oleh bangsa di dunia.