Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [4]

Posted on Updated on

Adanya penggunaan media sosial (online interaction) dalam komunitas pendidikan madrasah dapat memberikan pengaruh negatif terhadap menurunnya frekuensi pergaulan fisik (offline interaction) sehingga hal ini dapat berdampak negatif terhadap perilaku peserta didik yang selanjutnya juga berpengaruh dalam proses pembelajaran.

Untuk membentuk sinergi offline-online di komunitas madrasah perlu diperhatikan beberapa komponen terkait seperti: interaksi edukatif di madrasah, pemakaian internet dalam proses belajar mengajar madrasah, dan interaksi sosial antar PTK-siswa melalui koneksi dunia maya. Pemahaman akan ketiga komponen ini akan membantu konsep kreatif dan proses inovatif dalam pembuatan aplikasi kolaborasi edukatif yang secara online berfungsi sebagai wadah komunitas edukatif antara seluruh insan lembaga pendidikan madrasah mulai dari pihak yayasan (bila lembaga swasta), kepala madrasah, PTK, peserta didik, sampai kepada orang tua/wali siswa.

Pengembangan inovatif dalam penerapan aplikasi kolaborasi edukatif di lembaga pendidikan madrasah ini diharapkan dapat membentuk komunitas edukatif yang siap menjawab tantangan kemajuan zaman dalam adaptasi sosial di era teknologi yang semakin pesat ini.

Daftar Pustaka

  • Nata, Abuddin, Sosiologi Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
  • Idi, Abdullah. Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat dan Pendidikan, Edisi ke-4. Penerbit Rajawali Pers: 2014, Jakarta.
  • Pascu, C., et al. (2008), Social computing: implications for the EU innovation landscape dalam Foresight : the Journal of Futures Studies, Strategic Thinking and Policy. Vol. 10 no. 1; hal. 37-52
  • Rusman, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Jakarta: RajaGrafindo Perkasa, 2015, h. 98.

Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [3]

Posted on Updated on

Pembelajaran berbasis komputer (PBK) dapat menunjang proses belajar-mengajar (PBM) sepanjang semua prosesnya berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Interaksi Edukatif di Madrasah
Di madrasah terjadi interaksi antara kepala madrasah dengan para guru, staf administrasi, para orang tua siswa, dan sebagainya. PTK adalah Pendidik (guru) dan Tenaga Kependidikan (administrasi, pustakawan, laboran, kebersihan, penjaga sekolah, keamanan, sopir dan lainnya). Semua unsur lainnya yang ada di madrasah tidak ada yang berdiri sendiri. Masing-masing berkomunikasi, berinteraksi, beradaptasi, berasimilasi, berkolaborasi, berintegritas, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Dalam melakukan proses-proses tersebut mereka juga memperhatikan peran dan fungsinya yang berbeda antara satu dan lainnya sesuai dengan posisi masing-masing, sesuai dengan struktur dan stratifikasi sosial di madrasah. Para siswa harus berkomunikasi dan interaksi serta berbagai kegiatan lainnya dengan para siswa dan komunitas lainnya, yang memiliki latar belakang biologis, intelektual dan psikologis yang berbeda-beda.

Aspek yang cukup penting diperhatikan dalam lingkungan edukatif madrasah adalah interaksi sosial-edukatif, di mana hal ini bila diabaikan akan menimbulkan permasalahan di antara kelompok-kelompok siswa berdasarkan: status sosial orang tua siswa, hobi/minat, jenjang kelas, dan asal daerah. Hal ini dapat diatasi dengan upaya: pemberian informasi dengan diskusi kelompok, penjelasan guru tentang pengaruh antara satu kelompok dengan yang lainnya, menanamkan nilai-nilai toleransi antar siswa, membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan interaksi sosial antar siswa dari berbagai kelompok/golongan, menggunakan teknik bermain peranan (sosiodrama), dan menggunakan kegiatan ekstra kurikuler.

Pemakaian internet dalam proses belajar mengajar madrasah
Internet sesungguhnya sangat membantu proses pembelajaran bila digunakan secara baik dan benar. Namun tidak dipungkiri bahwa cukup banyak website (situs) yang tidak layak untuk diakses baik oleh PTK maupun siswa, karena unsur negatif yang terkandung di dalamnya. Terdapat beberapa kategori situs yang mengandung unsur negatif, seperti: pornografi, seksual, perjudian, penipuan, SARA, radikalisme, kekerasan, narkoba, aborsi, pelacuran, meresahkan, sampah, money game, MLM ilegal, malware, hijacking, exploit, spyware, flood, banner/iklan, proxy/VPN, torrent, warez, dan LGBT.

Dampak positif-negatif pemakaian internet dalam proses belajar mengajar madrasah ini dapat diatasi dengan cara membatasi akses internet siswa/PTK pada situs yang mengandung unsur negatif. Pengendalian akses internet warga madrasah ini berupa kebijakan dari pimpinan madrasah berupa prosedur filter content, di mana semua kategori situs yang mengandung content (isi) negatif tersebut disaring (filter) terlebih dahulu sehingga baik PTK maupun siswa terhindar dari hal-hal yang dapat mengganggu proses pembelajaran madrasah.

Interaksi sosial antar PTK-siswa melalui koneksi dunia maya
Media sosial dewasa ini hampir digunakan oleh setiap orang termasuk warga madrasah dalam hal ini baik pendidik, tenaga kependidikan, maupun siswa. Sehingga pola perilaku ini mulai terasa pengaruhnya terhadap interaksi edukatif antara PTK dengan siswa. Bagi PTK/siswa yang mulai terbiasa menggunakan media sosial melalui internet ini sudah merasakan ketergantungan yang cenderung mengarah kecanduan, karena banyak hal atau manfaat baginya jauh lebih mudah dan praktis diakses melalui media sosial ini. Sehingga pada tahap tertentu siswa merasa tidak perlu lagi bergaul secara aktif karena semua pihak telah “bertemu” di dunia maya (online). Hal ini berdampak negatif terhadap interaksi fisik yang semestinya berjalan secara seimbang yang nantinya akan berpengaruh buruk pada kepribadian siswa tersebut. Perlu adanya pengarahan dan bimbingan dari guru terkait mengenai pentingnya keseimbangan antara kedua hal tersebut.

Pengarahan dan bimbingan tersebut juga dapat dilakukan dengan metode ikut-sertanya tim pendidik dalam media sosial melalui contoh-contoh yang baik sehingga diharapkan contoh arahan yang baik tersebut dapat berpengaruh positif terhadap kontribusi siswa dalam dunia media sosial.

Sinergi OfflineOnline
Dengan semakin maraknya penggunaan media sosial baik dari kalangan peserta didik maupun pendidik dan tenaga kependidikan, tidak menutup kemungkinan hal ini mulai dan akan berdampak terhadap proses pembelajaran meskipun belum secara langsung dan signifikan. PTK yang juga ikut-serta dalam dunia online ini dapat memberikan contoh yang baik bagi siswa bagaimana berperilaku yang sesuai dengan tuntunan ajaran pendidikan seperti ilmu aqidah akhlak. Karena media sosial yang banyak dipakai oleh siswa dan PTK secara umumnya berisi informasi-informasi yang tidak relevan dengan proses pembelajaran, maka sebaiknya pihak madrasah membentuk sendiri komunitas online yang beranggotakan semua insan lembaga pendidikan madrasah tersebut, mulai dari pihak yayasan (bila lembaga swasta), kepala madrasah, PTK, peserta didik, sampai kepada orang tua/wali siswa.

Agar terbentuk pola pergaulan yang seimbang antara online dan offline ini, lembaga pendidikan dapat mengembangkan pola pembelajaran (learning models) pada program ekstra-kurikuler tertentu sehingga dapat menambah frekuensi interaksi edukatif secara langsung (physical interaction) antar peserta didik dalam lingkungan madrasah.

Penggunaan aplikasi tim kolaborasi edukatif antar komponen inti madrasah: Pendidik (yayasan, kepala madrasah, & wakil), Peserta Didik (siswa, OSIS, & komite), dan Tenaga Kependidikan (admin, pustaka, laboran, dan lainnya).

Kolaborasi Edukatif ini juga ditambah dengan ulama/pakar dalam bidangnya, bisa dari guru pondok pesantren yang ahli kitab kuning, atau dari anggota komite (orang tua/wali siswa yang profesional di bidangnya). Kesulitan belajar PAI dengan kendala bahasa Arab pada sumber belajar, di mana hal ini bisa diatasi dengan ikut peran serta guru pondok pesantren ahli kitab kuning yang aktif membantu penjelasan mengenai pelajaran terkait.

Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [2]

Posted on Updated on

Pembahasan masalah dalam makalah ini menggunakan beberapa teori yang saling menunjang yaitu sosiologi pendidikan, informatika sosial, dan teknologi pendidikan.

Sosiologi Pendidikan
Ditinjau dari segi estimologi istilah sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata yaitu Sosiologi dan Pendidikan. Dalam sosiologi pendidikan, berlaku dan bekerja sama antara prinsip sosiologi dan prinsip pedagogik beserta ilmu bantuan lainnya, misalnya psikologi pendidikan. Sosiologi pendidikan adalah analisis ilmiah atas proses sosial dan pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan. Sosiologi memiliki alat dan teknik ilmiah untuk mempelajari pendidikan dan memberikan sumbangan berharga kepada sistem pendidikan dalam masyarakat. Bila ditinjau dari perspektif sebab lahirnya sosiologi pendidikan adalah dikarenakan adanya perkembangan masyarakat yang cepat dan berakibat pada merosotnya peran pendidik, dan perubahan interaksi antar manusia. Dikarenakan manusia bertumbuh dan berkembang bukan di sekolah melainkan di masyarakat.

Sosiologi pendidikan merupakan spesialisasi daripada psikologi pendidikan di dalam situasi sosial, dalam kondisi kelompok. Sosiologi pendidikan juga merupakan perpaduan antara psikologi pendidikan yang banyak menggunakan prinsip psikologi sosial dengan implikasi psikologi pendidikan dalam kehidupan berkelompok.

Kontribusi ilmu sosiologi dengan dengan segala komponen konseptualnya mendapat tanggapan positif dari berbagi kalangan sosial melalui pendidikan. Manifestasi tersebut ditandai dengan kelahiran sosiologi pendidikan sebagai produk keilmuan baru. Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat sosial dari pendidikan dan memandang masalah pendidikan dari sudut totalitas lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomi bagi masyarakat.

Adapun konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan adalah: menganalisis proses sosialisasi anak (peserta didik) baik dalam keluarga, sekolah maupun dalam masyarakat (lingkungan); menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial; menganalisis status pendidikan dalam masyarakat; menganalisis partisipasi orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan sosial; membantu menentukan tujuan pendidikan; dan memberi kepada pendidik dengan latihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangan solusi kepada masalah pendidikan. Pada dasarnya tujuan sosiologi pendidikan untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak menyimpang dari upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.

Informatika Sosial
Informatika sosial merupakan studi yang mempelajari aspek-aspek sosial dari komputerisasi termasuk peran teknologi informasi dalam perubahan sosial dan organisasi. Penelitian-penelitian informatika sosial ini juga berkonsentrasi pada bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dipengaruhi oleh nilai dan praktik-praktik sosial-budaya di sebuah masyarakat. Informatika sosial dilandasi oleh cara pandang (paradigma) yang menganggap bahwa hubungan yang saling mempengaruhi antara teknologi informasi dan masyarakat pengguna.

Informatika sosial ini juga mempelajari tentang bagaimana membangun atau men-design teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mempelajari dampak sosial dari adanya TIK. Dengan melihat perkembangan dan kemajuan teknologi banyak pengamat mengatakan bahwa negara-negara maju sekarang ini sedang memasuki jaman informasi yang disebabkan oleh peledakan atau revolusi teknologi informasi. Ciri utama tumbuhnya masyarakat informasi adalah terjadinya perkembangan teknologi yang semakin canggih di bidang komputer dengan segala perangkat keras dan perangkat lunak serta peralatan telekomunikasi yang memungkinkan cara penggunaannya lebih efisien dan efektif.

Masalah yang dihadapi dalam konteks sosial mengenai masyarakat informasi ini yaitu begitu cepatnya revolusi informasi itu berlangsung. Kalau kita mengambil perbandingan dari peristiwa perubahan masyarakat pertanian ke masyarakat industri, perubahan tersebut membutuhkan waktu lebih kurang 100 tahun (hampir 1 abad). Sementara itu perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi terjadi dalam waktu puluhan tahun saja. Perubahan yang berlangsung demikian cepat ini membuat masyarakat harus mengantisipasi terhadap masa depannya. Segi lain yang berpengaruh atas perubahan masyarakat industri ke masyarakat informasi menyangkut orientasi masyarakat yang menjurus pada masalah ekonomi. Bidang informasi dan komunikasi banyak memberi kesempatan kerja bagi masyarakat.

Bagi Indonesia, masalah-masalah yang dihadapi mengenai dampak teknologi modern terhadap kehidupan budaya adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari sejumlah suku bangsa dengan latar belakang kebudayaan, agama/kepercayaan dan sejarah yang berbeda-beda. Masyarakat yang majemuk ini sedang mengalami pergeseran sistem nilai sebagai akibat pembangunan yang pada hakikatnya merupakan proses pembaharuan di segala sektor kehidupan. Derasnya arus informasi dan komunikasi yang dibawa media massa modern dan para wisatawan memperlancar kontak-kontak antar budaya.

Pertambahan penduduk yang menuntut pertambahan sarana hidup baik dalam kuantitas, kualitas maupun variasi. Dalam hubungan ini bangsa Indonesia harus mampu menumbuhkan serta mengembangkan sistem nilai yang sesuai dengan tuntutan pembangunan melalui sistem pembelajaran yang terintegrasi dengan perkembangan TIK terkini. Dalam proses pemanfaatan teknologi informasi yang sangat penting adalah mempersiapkan diri dalam penggunaan teknologi tersebut termasuk di dalamnya pembelajaran sikap mental, disiplin kepribadian, ketrampilan dasar dan kemampuan menyusun suatu sistem informasi dalam skala nasional melalui lembaga pendidikan.

Teknologi Pendidikan
Dalam sistem informasi terdapat lima komponen yang saling berhubungan dan menunjang kelancaran proses sistem informasi, yaitu: Software (perangkat lunak), Hardware (perangkat keras), Brainware (sumber daya manusia), Infoware (data dan informasi), dan Netware (lembaga). Semua komponen ini bila diterapkan ke dalam lembaga pendidikan dapat menunjang proses pembelajaran.

Software (perangkat lunak)
Perangkat lunak ini dapat berupa aplikasi yang dirancang sedemikian rupa untuk membantu proses belajar siswa dalam bentuk pembelajaran berbasis komputer.
Menurut Rusman, secara konsep pembelajaran berbasis komputer adalah bentuk penyajian bahan-bahan pembelajaran dan keahlian atau keterampilan dalam satuan unit-unit kecil, sehingga mudah dipelajari dan difahami oleh siswa.

Hardware (perangkat keras)
Perangkat keras yang digunakan dalam membantu proses pembelajaran ini seperti komputer, laptop/netbook, server, printer, projector, tablet, ponsel, dan sarana-prasarana lain yang terkait dengan proses pembelajaran berbasis komputer. Hardware sebagai media dalam pembelajaran ini berfungsi sebagai alat bantu guna memperjelas pelajaran yang disampaikan oleh pendidik.

Brainware (sumber daya manusia)
Sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini baik pendidik maupun tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi profesional dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia guna memperlancar pemahaman siswa pada pelajaran tertentu.

Infoware (informasi)
Informasi dapat diartikan sebagai bahan atau materi pelajaran yang telah diintegrasikan dengan aplikasi (software) tertentu menggunakan media (hardware) yang telah diprogram oleh SDM (Brainware) untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Netware (lembaga)
Lembaga pendidikan (madrasah) yang bertanggung jawab terhadap segala proses pembelajaran, mulai dari penyediaan sarana-prasarana (hardware), manajerial SDM (Brainware), pengaturan integritas aplikasi pembelajaran (software), sampai kepada penentuan materi pembelajaran (infoware) yang sesuai dengan kurikulum.

Sinergi Interaksi Edukatif dengan Media Sosial untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran di Madrasah [1]

Posted on Updated on

Adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cukup pesat dewasa ini sangat berpengaruh kepada hampir setiap bidang kehidupan yang dijalani ummat manusia di abad ke-21. Dalam hal ini bidang pendidikan dihadapkan pada tantangan era globalisasi yang dituntut untuk beradaptasi secara optimal dalam perkembangan zaman. Seluruh komponen pendidikan harus bisa menyesuaikan diri ke dalam pesatnya laju perkembangan dunia teknologi, baik dari sisi lembaga, pendidik, maupun peserta didik.

Kecenderungan yang terjadi saat ini peserta didik yang lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi bila dibandingkan dengan pendidik atau lembaga, di mana hal ini akan berdampak negatif terhadap proses pembelajaran karena adanya kesenjangan pemahaman akan pemanfaatan teknologi komunikasi-informatif yang semestinya harus dapat digunakan secara optimal untuk peningkatan mutu pendidikan.

Media sosial yang sedang marak di kalangan remaja, dalam hal ini peserta didik, sangat berperan aktif di dalam kehidupan mereka terutama yang tinggal di kota-kota besar. Gaya pergaulan sosial pelajar saat ini dengan pengaruh media-sosial (online interaction) yang cenderung mengurangi interaksi edukatif (physical interaction). Padahal sekolah atau madrasah tempat siswa belajar merupakan lingkungan masyarakat edukatif di mana siswa dituntut untuk berperan aktif dalam interaksi edukatif, bukan hanya pasif seperti pergaulan dunia-maya melalui media sosial.

Penggunaan media sosial dengan frekuensi yang tinggi di kalangan pelajar ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif terhadap kelangsungan proses pendidikan di sekolah atau madrasah. Dalam makalah ini menitik-beratkan pembahasan yang terjadi di lingkungan madrasah aliyah, dengan permasalahan:

  • Bagaimana pengaruh interaksi edukatif terhadap mutu pembelajaran madrasah?
  • Bagaimana pengaruh penggunaan media sosial terhadap mutu pembelajaran madrasah?

Diharapkan adanya pemecahan masalah terhadap fenomena ini demi masa depan pendidikan madrasah dalam menghadapi tantangan kemajuan zaman khususnya perkembangan teknologi di era globalisasi, dalam hal ini mencari cara atau metode kombinasi antara interaksi edukatif (offline) dengan media sosial (online) sehingga menjadi suatu sinergi yang efektif dalam model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran madrasah.

Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [4]

Posted on Updated on

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang Allah karuniakan akal sebagai alat untuk berfikir. Dengan akal manusia mampu menyerap ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi, serta menghasilkan karya seni, sehingga dapat menciptakan peradaban di muka bumi. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan panca indra, intuisi dan firasat. Jadi ilmu pengetahuan dalam Islam sangat mempengaruhi bagi kemajuan agama Islam. Serta dengan keiman dan ketakwaan terhadap Allah SWT, manusia diberikan derajat yang lebih tinggi dan manusia juga memiliki tanggung jawab terhadap Allah yaitu beribadah kepada Allah dan menjaga keindahan dan keaslian alam.

Kesimpulan

Hal yang dapat dilakukan untuk menggiatkan kembali (revitalisasi) peran serta sumbangan (kontribusi) ilmuwan Islam dengan pemikiran Islami dalam dunia ilmu pengetahuan melalui tiga upaya seperti: tidak membedakan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, perbaikan kurikulum yang sesuai dengan syari’at Islam, dan islamisasi ilmu pengetahuan.

Saran

Diharapkan seluruh ummat Islam baik dari sisi pemerintah (Kementerian Agama, Kemendikbud, dan instansi yang terkait lainnya) maupun masyarakat pada umumnya (perguruan tinggi, lembaga penelitian, ormas Islam, dan lembaga masyarakat lainnya) saling bahu-membahu bekerja sama melalui berbagai upaya/metode di atas untuk menggiatkan kembali kualitas para ilmuwan Islam sehingga dapat kembali berperan serta aktif lagi menyumbangkan pemikiran Islami baik dalam ilmu agama maupun dalam dunia ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka

  • Edang Saifuddin Ansari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Jakarta: Grafindo Persada: 2009.
  • Hafudhuddin, Didin. 2003. Islam Aplikatif. Jakarta: Gema Insani.
  • Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2011.
  • Samsul Nizar, 2007, Sejarah Pendidikan Islam, Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana.
  • Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1994.
  • Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2015.
  • Romli SA. & Dian Mursyidah, Kajian Islam Komprehensif: Tela’ah Metodologi dan Ajaran, Yogyakarta: Fadilatama, 2014.
  • Jujun Suriasumatri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Obor Indonesia, 2003.
  • Mansur, Hamdan, dkk., 2004. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI.

Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [3]

Posted on Updated on

Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul Islam. Di dalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah, syari’ah, dan akhlak, dengan kata lain iman, ilmu, dan amal salih. Ketiga inti ajaran yaitu iman, ilmu dan ikhsan terintegrasi dalam dinul Islam.

Dalam (QS. Ibrahim: 24-25) dinyatakan: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (dinul Islam) seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh (menghujam ke bumi) dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”

Dari ayat di atas menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu, dan amal. Ketiga tersebut tidak dapat dipisahkan antar satu sama lain. Iman diartikan dengan akar dari sebuah pohon yang menopak tegaknya ajaran Islam. Ilmu diartikan sebagai batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal saleh bukan kerusakan alam.

Tidak Ada Perbedaan antara Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan
Ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan, yang digunakan dalam proses pencapaian tujuan. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Secara definisi dari KBBI, ilmu agama adalah pengetahuan tentang ajaran (sejarah dan sebagainya) agama; teologi. Sedangkan ilmu pengetahuan gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.

Menurut Jujun Suriasumantri hakikat ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan yang dapat diandalkan dan berguna bagi kita dalam menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam.

Ilmu memiliki dua objek yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah seluruh lapangan penyelidikan atau bahan yang dijadikan objek penyelidikan (material object) seperti tubuh manusia untuk objek material ilmu kedokteran. Sedangkan objek formalnya adalah metode untuk memahami material tersebut.

Ilmu mengandung arti pengetahuan, tetapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis, rasional, empiris dan konsisten dengan kajiannya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan dan pemikiran manusia, dibantu dengan pengindraan manusia itu serta kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental.

Sebagai agama yang universal islam tidak hanya menitikberatkan pada persoalan ukhrawi saja seperti ibadah, aqidah dan tauhid. Pada kenyataannya, Islam juga sangat memperhatikan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan umat manusia. Itulah sebabnya dalam al-Qur’an tidak hanya mengatur tentang ubudiah saja tetapi juga banyak memuat ayat-ayat yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Hal itu karena disamping ditentukan oleh nilai-nilai peribadatannya kepada Allah, martabat manusia juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan ilmu pengetahuan, untuk kemanfaatan hidupnya. Dengan ilmu pengetahuan, alam dan isinya yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan manusia. Sedangkan dengan seni manusia bias menjaga keasrian alam, agar selalu tetap dalam fitrahnya sebagai alam dan menjega ketidak seimbangan yang mungkin terjadi sebagi akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itulah Islam tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan masalah peribadatan lainnya.

Perbaikan Kurikulum

Para penanggung jawab pendidikan di negara muslim pada umumnya, dalam hal ini di Indonesia pada khususnya, harus segera menempuh langkah-langkah perbaikan kurikulum antara lain:

  • Menolak dan membuang kurikulum pendidikan yang bertentangan dengan Islam, menyusun kurikulum pendidikan baru yang sesuai dengan aqidah dan prinsip hidup ummat Islam.
  • Menghilangkan kesenjangan antara tujuan ilmu pengetahuan dan ilmu agama dalam seluruh materi pelajaran, seraya menjelaskan kepalsuan teori atheis Barat yang telah sebelumnya dimasukkan ke dalam materi pelajaran tersebut. Ini agar para pelajar memiliki pemahaman yang benar mengenai aqidah Islam dan tuntutan ilmu pengetahuan.
  • Merancang dan memberlakukan materi pelajaran agama Islam dan bahasa Arab di sekolah/madrasah mulai dari tingkat dasar, menengah sampai ke level perguruan tinggi.
  • Meluruskan sejarah Islam agar para pemuda muslim mengetahui kebesaran dan keagungan sejarahnya, sehingga dapat dipetik hikmah baik yang positif (kesuksesan ummat terdahulu) maupun negatif (kemunduran kejayaan Islam).
  • Memperhatikan pentingnya pelajaran bahasa Arab yang memiliki kedudukan sebagai bahasa al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad saw. Selain pula melakukan proses Islamisasi terhadap sistem pendidikan di perguruan tinggi, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Pemerintah melalui Kementerian Agama dan Kemendikbud harus menambah porsi pendidikan al-Qur’an, baik untuk dihafalkan maupun dikaji sehingga menambah wawasan pemahaman nilai al-Qur’an untuk dapat diterapkan selanjutnya ke dalam ilmu pengetahuan.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, kini jarak tidak lagi menjadi masalah yang berarti dalam dimensi hidup manusia. Dunia menjadi kecil. Siapapun bisa saling bercerita panjang lebar dari dua sisi dunia yang berbeda. Semua pekerjaan rutin bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi ternyata itu tak membuat manusia mengaku lebih bahagia. Manusia menjadi miskin terhadap perasaan kemanusiaannya sendiri. Satu sisi, pengetahuan menghasilkan kemajuan material yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sementara di sisi lain menimbulkan proses dehumanisasi dan gagal menyelesaikan problema manusia. Krisis berpangkal pada materi kebenaran dari ilmu, atau dengan kata lain berpangkal pada asas ontologi, epistemologi dan aksiologi keilmuan yang tidak tepat.

Selain itu, sudah terlalu banyak krisis sains modern akibat dari adanya sekulerisasi antara agama dan ilmu pengetahuan. Banyak pandangan bahwa Agama, ilmu dan seni terpisah, sehingga satu sama lain tidak saling menopang. Ilmu tidak memiliki kendali moral, baik dalam kegunaan maupun ruang lingkup pengkajian. Padahal semestinya, ilmu didasarkan pada agama (Islam) dan digunakan berdasarkan syari’ah untuk kebaikan manusia dan alam semesta.

Untuk itu, diperlukan Islamisasi dalam menyikapi berbagai ilmu pengetahuan baru yang masuk. Hal ini bertujuan untuk: Penguasaan disiplin ilmu modern, termasuk teknologi dan seni yang sampai saat ini masih mayoritas non-muslim. Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern, sehingga di tiap unsur pengembangan teknologi mengandung nilai-nilai Islami.

Penguasaan warisan Islam, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya (sejarah Islam dalam ilmu pengetahuan) untuk dikaji ulang kesuksesan para ulama-sains Islam. Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan umat manusia seluruhnya).

Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah, ke arah penerapan Islamisasi ilmu pengetahuan. Realisasi praktis islamisasi pengetahuan ini melalui: penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan Islam.

Kepentingan aqidah, bahwa aqidah Islam adalah dasar ilmu pengetahuan, pengkajian dan aplikasi keilmuan. Kepentingan kemanusiaan, bahwa aktivitas keilmuan yang didasarkan dan dikontrol iman akan mewujudkan manusia seutuhnya sesuai dengan hakikat penciptaannya. Kepentingan peradaban, bahwa kehidupan dengan sistem Islam, dan segala aktivitasnya yang berjalan dalam koridor aturan Allah SWT secara konsisten akan membawa manusia pada peradaban yang agung. Kepentingan ilmiah, bahwa segala aktivitas keilmuan selalu dapat dipertanggung-jawabkan secara horisontal disertai nilai keikhlasan layaknya ibadah ke hadirat Allah SWT.

Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [2]

Posted on Updated on

Membahas masalah ilmu pengetahuan dalam Islam berarti kita membicarakan kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam serta pemberdayaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan dakwah Islam. Islam mengajarkan kepada kita memikirkan ayat-ayat Allah baik ayat Qouliyah (al-Qur’an dan Hadist) maupun ayat-ayat Kauniyah (fenomena alam semesta), di mana di dalamnya syarat muatan multi ilmu pengetahuan. Dalam al-Qur’an juga banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh kita untuk mempelajari, meneliti, dan memperhatikan ilmu pengetahuan.

Sejarah Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Di masa-masa awal, masyarakat muslim sudah bangkit di atas pondasi keilmuan yang begitu kokoh. Bahkan mereka telah melangkah jauh pada jalan yang ditunjukkan agamanya yang agung dan suci, hingga kemudian duduk dengan penuh wibawa sebagai pusat rujukan keilmuan yang paling berpengaruh di seluruh dunia.
Kemajuan perkembangan sistem pendidikan yang terjadi baik di masa Bani Umayyah (41-132 H) maupun di Dinasti Abasiyah (750-1258 M) telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Keberadaan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh Islam, dan ummat Islam tampil sebagai bangsa yang dihormati, disegani, dan dikagumi oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Sejarah menyaksikan sekaligus menetapkan bahwa ummat Islam adalah penyumbang terbesar peradaban dunia yang sedang mekar dan berdiri tegak dewasa ini. Kalangan sejarawan sepakat untuk menyatakan bahwa kebangkitan Eropa muncul dari kemajuan peradaban bangsa Arab berikut pelbagai peninggalannya yang bersifat logis dan etis yang tersebar di segala penjuru dunia.
Sistem pendidikan yang terjadi di zaman Dinasti Abasiyah telah menjadi model bagi pelaksanaan pendidikan yang terjadi di berbagai belahan dunia, dan hingga saat ini pada disiplin ilmu tertentu pengaruhnya masih terasa.
Peradaban Islam telah membawa ummatnya pada posisi yang lebih utama seraya mempersembahkan sejumlah ilmuwan besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan secara keseluruhan, seperti:

  • Ibnu Khaldun dalam bidang sosiologi, sejarah dan arsitektur.
  • Ibnu Sina dalam bidang ilmu kedokteran.
  • Abu Bakar al-Khawarizmi dalam bidang ilmu matematika dan astronomi.
  • Ibnu Haisam dalam bidang ilmu fisika dan optik.
  • Abu Zakaria dalam bidang ilmu kedokteran.
  • Abu Zakaria al-Awwam dalam bidang ilmu botani.
  • Abu al-Qasim az-Zahrawi dalam bidang ilmu bedah.

Masih banyak lagi tokoh lainnya. Sejarah telah mengabadikan nama dan kecemerlangan mereka. Para cendekiawan dari waktu ke waktu selalu mendiskusikan warisan ilmiah mereka yang begitu mengagumkan. Karya dan buku-buku mereka dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan telah mengajarkan, bahkan mengubah dunia menjadi jauh lebih baik dan dapat mengecap kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Dunia senantiasa haus terhadap ilmu dan pengetahuan berikut segenap warisannya. Bangsa Eropa sungguh benar-benar mengetahui hal ini. Para pelopor dan pakar bangsa itu telah menyaksikan keutamaan dan keandalan ilmu pengetahuannya. Termasuk kontribusi peradaban Islam bagi dunia ilmu pengetahuan dan peradaban mereka.
Demikianlah kondisi ummat Islam saat berpegang teguh kepada agama mereka. Seyogyanya ummat Islam menyadari kondisi saat ini di mata ummat dan bangsa yang ada. Untuk kemudian membandingkannya dengan kondisi mereka di masa awal sejarah. Ini agar mereka mengetahui bahwa sikap ketidakpedulian yang tentu saja tidak mengurangi nilai ajaran Islam itu sendiri, menjadi penyebab keterbelakangan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sejarah Islam dalam Ilmu Pengetahuan
Masa jaya Baghdad sebelum abad ke-13 dikenal sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan. Namun penyerangan bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan tahun 1250 M mengakibatkan hancurnya pusat ilmu pengetahuan seperti perpustakaan dan lembaga pendidikan. Hal ini berakibat pada putusnya akar sejarah intelektual yang telah dibangun pada masa awal Islam. Kekalahan politik berimplikasi pada cara pandang dan berfikir ummat Islam yang telah mulai mengalihkan pandangan dan pemikiran ummat Islam yang semula dinamis berubah menjadi fatalis. Pada masa ini terjadi kegelisahan dan frustasi sehingga berusaha menjauhi kehidupan duniawi termasuk meninggalkan kehidupan intelektual. Kehidupan para sufi muncul dan berkembang dengan mengadakan riyadhah di bawah bimbingan dan otoritas Syaikh dan berkembang menjadi lembaga tarekat.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya.
Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim. Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan pengetahuan Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumber daya manusianya.

Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Ilmu pengetahuan amat penting bagi setiap individu bahkan dapat meningkatkan martabat manusia. Di dalam Islam, menuntut ilmu juga merupakan suatu ibadah kepada Allah dan terdapat beberapa hal tertentu dalam proses menuntut ilmu. Pentingnya mempunyai ilmu adalah untuk membuktikan kekuasaan Allah. Hal ini adalah untuk menguatkan kepercayaan dan keimanan manusia terhadap Allah. Dengan adanya ilmu, manusia dapat membaca al-Qur’an yang mana terkandung segala persoalan yang ada di muka bumi ini. Ilmu juga membolehkan manusia mengkaji alam semesta ciptaan Allah ini. Menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja,tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Rasulullah pernah bersabda “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
Untuk kehidupan dunia kita memerlukan ilmu yang dapat menopang kehidupan dunia, untuk persiapan di akhirat. Kita juga memerlukan ilmu yang sekiranya dapat membekali kehidupan akhirat. Dengan demikian, kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai tujuan hidup insya Allah akan tercapai. Melalui ilmu juga lah manusia dapat menjalankan tugas sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini. Sebagai hamba Allah, manusia perlu melaksanakan ibadah-ibadah umum dan khusus. Dalam pada masa yang sama, manusia juga merupakan khalifah Allah di muka bumi ini. Ilmu yang diperoleh dengan keizinan Allah perlulah dipelajari dan disampaikan kepada individu dan masyarakat.