Internasionalisasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia [2]

Posted on Updated on

Dalam upaya menganalisis perkembangan kebijakan kurikulum IAIN dengan perannya dalam internasionalisasi Perguruan Tinggi Keagamaan Indonesia ini perlu dibahas mengenai internasionalisasi dan kurikulum baik dari sisi terminologi maupun teori yang mendukung kedua isitilah tersebut.

Globalisasi

Istilah globalisasi’ diambil dari kata globalize yang mengacu pada kemunculan jaringan sistem sosial dan ekonomi berskala internasional. Istilah ini pertama kali digunakan sebagai kata benda dalam sebuah tulisan berjudul Towards New Education; kata ‘globalisasi’ di sini menunjukkan pandangan pengalaman manusia secara menyeluruh di bidang pendidikan. Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Pertukaran informasi adalah aspek yang tidak dapat dilepaskan dari globalisasi, yang sering kali dilupakan. Misalnya investasi asing secara langsung tidak hanya membawa modal fisik, tetapi juga membawa teknologi dan ketrampilan. Teknologi dan ketrampilan ini meliputi bidang teknik manajemen, metoda produksi, pasar ekspor, kebijakan ekonomi dan sebagainya. Apabila dapat dimanfaatkan, teknologi dan ketrampilan baru ini merupakan cara dan alat yang murah bagi pengenalan dan penguasaan teknologi bagi negara-negara yang sedang berkembang. Dalam konteks pendidikan tinggi, globalisasi dapat berbentuk kebebasan masuk dan beroperasinya perguruan tinggi asing ke dalam negeri tanpa dapat dicegah atau dihindarkan.

Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain. Internasionalisasi adalah makin berkembangnya kerja sama internasional dalam bidang ekonomi, perdagangan, pendidikan, politik, budaya dan sebagainya. Internasional berarti antar negara dan di antara negara. Unit basis masih ekonomi nasional, identitas dan budaya masih budaya nasional masing-masing. Internasionalisasi adalah kegiatan atas dasar kesadaran masing-masing, atas dasar suka rela, atas dasar pilihan tertentu, bukan suatu tindakan yang terpaksa. Dalam perdagangan internasional, kompetisi berdasarkan keunggulan kompetitif, dan tata cara dapat diatur atas kesepakatan pihak-pihak yang terkait. Dalam teori klasik Adam Smith dan Ricardo, masyarakat nasional menerima baik pekerja nasional maupun kapital nasional dan dua kelas ini bekerja-sama, meskipun kadang-kadang dengan konflik, untuk menghasilkan produk nasional dari sumberdaya nasional. Produk nasional ini bersaing dalam pasar internasional dengan produk negara lain, yang dihasilkan dengan kapital, pekerja, dan sumberdaya negara masing-masing. Ini adalah internasionalisasi dalam perdagangan. Dalam internasionalisasi, masing-masing negara masih sepenuhnya berdaulat dan mengatur persyaratan perdagangan sedemikian rupa sehingga kepentingan rakyat negara dapat tetap diperhatikan.

Pendidikan difahami sebagai proses pengalihan nilai dan pengetahuan dari pendidik ke peserta didik. Dalam hal ini proses pengalihan nilai dan pengetahuan dari dosen ke mahasiswa. Untuk dapat bersaing dalam globalisasi informasi ini selayaknya perguruan tinggi mulai dapat meningkatkan kualitas proses tersebut agar setara dengan negara lain. Sedangkan menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-112 dari 112 negara di Asia.

Dari aspek upaya peningkatan kualitas SDM tersebut bila diterapkan dalam perguruan tinggi, internasionalisasi dapat berupa pertukaran dosen dan mahasiswa, pengadaan program penelitian bersama, bantuan program studi lanjut bagi para dosen, penyelenggaraan dual-degree program, program kuliah bersama, dan sebagainya. Setiap perguruan tinggi bebas untuk memilih universitas mitra di luar negeri, memilih jenis program kerja-sama, memilih waktu dan durasi kerja-sama.

Kurikulum

Firman Allah SWT dalam QS. al-‘Alaq ayat 1-5 yang artinya:

“Bacalah! dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ditinjau dari segi kurikulum, sebenarnya Firman Allah SWT tersebut di atas merupakan prinsip dasar pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia. Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan, ingatan, pengamatan, pengucapan dan daya cipta. Oleh karena itu al-Qur’an dianggap sebagai azaz dari pada teori pendidikan Islam, maka prinsip-prinsip al-Qur’an merupakan bahagian tak dapat dipisahkan yang memadukan antara mata pelajaran yang membentuk sebuah kurikulum.

Kurikulum merupakan proses yang sangat penting dalam proses pendidikan. Karena kurikulum merupakan substansi utama dalam materi yang diajarkan, di mana di dalam kurikulum itu tergambar secara jelas dan rencana bagaimana dan apa saja yang harus terjadi dalam proses belajar-mengajar yang dilakukan seorang guru/dosen guna mencapai tujuan pendidikan.

Kurikulum pendidikan Islam bersumber dari tujuan pendidikan Islam yang memiliki perbedaan dengan tujuan pendidikan lain. Menurut M. Arifin, rumusan tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada Sang Khalik dengan sikap dan kepribadian bulat menyerahkan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupan dalam rangka mencari keridhaan-Nya.

Dalam kaitannya dengan kurikulum yang Islami, al-Syaibany memberikan kerangka dasar yang jelas tentang kurikulum Islam, yaitu:

  • dasar agama, yang menjadi ruh dan target tertinggi dalam kurikulum;
  • dasar falsafah, yang memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis;
  • dasar psikologis, yang memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan perkembangan psikis peserta didik;
  • dasar sosial, memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada dasar sosial mengandung ciri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s