Tinjauan Buku Islam Nusantara [3]

Posted on Updated on

Tarekat mempunyai arti jalan atau petunjuk dalam melakukan suatu ibadat sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan Nabi Muhammad saw. dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun-temurun sampai kepada guru-guru secara berantai. Adapun pengertian tarekat: sebagai pendidikan keruhanian yang dilakukan oleh orang-orang yang menjalani kehidupan tasawuf; dan sebagai sebuah perkumpulan atau organisasi yang didirikan menurut aturan yang telah ditetapkan oleh seorang syaikh yang menganut suatu aliran tarekat tertentu. Sebuah tarekat biasanya mengandung unsur-unsur penyucian bathin, kekeluargaan tarekat, upacara keagamaan, dan kesadaran sosial. Terbentuknya kelembagaan tarekat merupakan kelanjutan dari para pengikut para sufi. Munculnya berbagai cabang aliran tarekat merupakan konsekuensi logis dari sistem ijazah yang terdapat dalam organisasi tarekat.

Mulai abad ke-18, murid-murid Jawi di Haramayn sangat tertarik kepada pelajaran yang dikembangkan oleh seorang ulama sufi yang sangat karismatik, Muhammad ‘Abd al-Karim al-Samman (1718-1775) di Madinah. Al-Samman adalah salah seorang penjaga makam Nabi Muhammad saw. dan penulis beberapa buku tentang metafisika sufi. Dia juga dikenal sebagai pendiri tarekat baru yaitu Sammaniyah, sehingga dia menjadi orang yang berpengaruh. Tarekat Sammaniyah ini merupakan perpaduan dari Tarekat Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah dengan tarekat di Afrika Utara, Syadziliyah. Selanjutnya al-Samman mengembangkan cara berdzikir baru yang ekstatik dan menyusun sebuah ratib, bacaan yang mengandung do’a-do’a dan ayat-ayat al-Qur’an. Kemasykuran al-Samman akan kemampuannya melakukan hal-hal yang mengandung keajaiban sangat menunjang penyebaran tarekat ini ke Indonesia dalam waktu singkat. Paling tidak ada tiga ulama asal Palembang yang pernah belajar Tarekat Sammaniyah, yaitu: Syaikh ‘Abd al-Shamad al-Palimbani, Tuan Haji Ahmad, dan Muhyiddin bin Syihabuddin.

Hukum Islam menempati posisi penting dalam pandangan ummat Islam, yang merupakan sekumpulan aturan keagamaan yang mengatur perilaku kehidupan ummat Islam dalam keseluruhan hidupnya, baik yang bersifat individual maupun kolektif, karenanya hukum Islam mempunyai karakteristik yang serba mencakup. Pentingnya syariat atau fiqih bagi ummat Islam didasarkan pada sebuah Hadits Nabi Muhammad saw. yang menyatakan bahwa seorang faqih yang baik dapat mempertahankan dirinya secara lebih baik dibandingkan seribu orang muslim yang menjalankan kewajiban agama tanpa disertai pengetahuan fiqih secara memadai.

Untuk dapat melahirkan mujtahid-mujtahid Indonesia yang mampu mewujudkan persatuan di kalangan Muslim Indonesia serta memapu melakukan ijtihad dalam melahirkan fiqih yang berkepribadian Indonesia, maka sistim pendidikan yang mengkaji ilmu-ilmu keislaman harus mengarah pada interkoneksi antar-entitas ilmu. Penguasaan pengetahuan keislaman dan ilmu-ilmu sosial yang multi-dimensi harus digalakkan dalam Perguruan Tinggi Islam di Indonesia.

Karya-karya tafsir pada periode awal sebagian ditulis dalam bahasa Melayu-Jawi atau Arab-Pegon. Hal ini dimungkinkan terjadi, karena berdasarkan pelacakan Anthony Johns pada akhir abad ke-16 Masehi, terjadi pembahasa-lokalan Islam di berbagai wilayah Nusantara. Indikasinya, penggunaan aksara (script) Arab yang kemudian disebut dengan aksara Jawi atau Pegon, banyaknya kata sserapan yang berasal dari bahasa Arab, dan karya sastra yang terinspirasi oleh model dan corak Arab dan Persia. Dipakainya bahasa Melayu-Jawi ini menemukan kekuatannya, karena bahasa ini merupakan lingua-franca yang dipakai di Nusantara dan menjadi bahasa resmi pemerintahan, perdagangan, dan hubungan antar-negara.

Proses sosialisasi bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional menyebabkan banyaknya karya tafsir yang ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf latin. Dalam taraf tertentu, model penulisan tafsir dalam bahasa Indonesia yang berhuruf latin secara umum mudah diakses oleh masyarakat Indonesia. Karenanya model penulisan tafsir ini lebih bersifat populis. Di Indonesia ada kecenderungan bahwa ummat Islam yang tidak bisa berbahasa Arab dengan baik lebih memilih tafsir berbahasa Indonesia daripada bahasa daerah. Di antara tafsir tersebut adalah tafsir yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.

Pada awal abad ke-19 di Indonesia belum mengenal sistem pendidikan modern, masih bersifat tradisional. Pada masa tersebut Indonesia hanya mengenal satu jenis pendidikan yaitu sekolah agama Islam dengan berbagai bentuknya (masjid, langgar, surau, pesantren).[hlm.367] Setelah Indonesia merdeka, Departemen Agama menyempurnakan kurikulum, sistem pendidikan, dan beberapa aspek kependidikan lainnya, sehingga memunculkan sebuah lembaga pendidikan baru yang disebut madrasah diniyah.

Pembangunan suatu pesantren didorong oleh kebutuhan masyarakat akan adanya pendidikan lanjutan. Sebuah lembaga “pengajian” dapat dikatakan sebagai pesantren jika mempunyai unsur: (1) pondok, sebagai tempat tinggal bersama para santri yang terletak di dalam kompleks pesantren; (2) masjid, yang merupakan tempat tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam beribadah shalat lima waktu, khutbah, shalat Jum’at, dan pengajaran kitab; (3) pengajaran kitab klasik; (4) santri: baik yang mukim (tinggal dalam lingkungan pesantren) maupun kalong (santri yang tidak menetap dalam pesantren); dan (5) kiai sebagai pemilik otoritas pesantren. Tujuan ideal pesantren dan peran para alumninya tersebut, pada gilirannya akan menginternalisasikan ajaran Islam ke dalam masyarakat luas. Peran Islamisasi yang mereka lakukan dengan sendirinya akan mengikis pemahaman agama masyarakat yang sinkretis. Dengan demikian selain sebagai agen perubahan sosial, pesantren juga berperan penting dalam memperjuangkan Islam terhadap sinkretisme Jawa.

Kehadiran madrasah, menurut Muhaimin dan Abdul, sebagai lembaga pendidikan Islam paling karena alasan (1) sebagai manifestasi pembaruan sistem pendidikan Islam, (2) penyempurnaan sistem pesantren, (3) keinginan sebagian kalangan santri terhadap model pendidikan Barat, dan (4) sebagai sintetis sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan Barat.

Dalam dinamika lembaga pendidikan tinggi agama Islam yang berusaha memantapkan eksistensinya terus dilakukan berbagai upaya pembenahan agar lembaga ini menjadi perguruan tinggi agama yang berkualitas. Hal ini diharapkan dapat melahirkan sarjana agama (dari STAIN/IAIN/UIN) yang memiliki pengetahuan dan wawasan keilmuan yang mantap. Dengan memiliki hal tersebut, seorang sarjana agama akan dapat berkomunikasi dengan ilmuwan lain di masyarakat dengan bahasa keilmuan yang sama-sama dimengerti. Hal ini akan memudahkan bagi seorang sarjana agama Islam dalam menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada warga masyarakat terdidik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s