Kebijakan dan Pengembangan Madrasah [1]

Posted on Updated on

Dalam pandangan Islam pendidikan sama sekali tak dapat dilepaskan dari kewajiban agama. Dengan demikian institusi pendidikan juga terkait dengan amanah dan tanggung jawab keagamaan. Sehubungan dengan itu maka dalam pendekatan pendekatan Islam, institusi pendidikan itu terbagi menjadi institusi pendidikan yang kodrati dan yang syar’i. Institusi yang pertama dan utama adalah keluarga. Sedangkan yang di luar itu seperti masjid, organisasi keagamaan maupun sekolah/madrasah termasuk ke institusi pendidikan yang syar’i.

Adapun institusi pendidikan berfungsi memenuhi keperluan penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna. Lazimnya para ahli pendidikan mengelompokkan institusi pendidikan ini menjadi institusi formal, non-formal dan institusi informal. Ada pula yang menyebutnya sebagai institusi yang kodrati (alami) dan institusi yang artifisialis.

Berdasarkan pembagian itu, maka sekolah atau dalam hal ini seperti madrasah dan sejenisnya dimasukkan ke dalam institusi pendidikan formal. Sebagai penyelenggara pendidikan resmi, maka pendidikan di sekolah/madrasah mengacu ke peraturan yang sudah ditentukan. Lembaga pendidikan ini juga dibangun secara sengaja (artifisial) sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan secara profesional oleh tenaga pendidik profesional yang sengaja dipersiapkan untuk meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan.

Istilah madrasah telah dikenal oleh masyarakat muslim sejak masa kejayaan Islam klasik. Dilihat dari segi bahasa, madrasah merupakan isim makãn (nama tempat) berasal dari kata darasa yang berarti tempat orang belajar (Munawir, 1997: 397). Dengan demikian madrasah dipahami sebagai tempat atau lembaga pendidikan Islam. Di Indonesia, madrasah dikhususkan sebagai sekolah (umum) yang kurikulumnya terdapat pelajaran-pelajaran tentang keislaman. Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara dengan Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Aliyah (MA) setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia madrasah adalah sekolah atau perguruan yang biasanya berdasarkan agama Islam (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994: 611). Madrasah di Indonesia merupakan istilah bagi sekolah agama Islam terutama sekolah dasar dan menengah, sedangkan di negara-negara Timur Tengah madrasah merupakan sekolah secara umum atau lembaga pendidikan pada umumnya terutama pendidikan tinggi (Poerbakawatja, 1982: 199).

Secara historis pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dalam perjalanan bangsa Indonesia, pendidikan Islam dalam hal ini seperti pesantren yang kemudian disusul madrasah, merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, sebelum pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan “sekolah” pada abad ke-19, dan sejak itulah terjadi dualisme penyelenggaraan pendidikan, di mana di satu sisi pendidikan Islam terus berjalan dan di lain sisi sekolah yang dibangun pemerintah kolonial juga terus berjalan. Keduanya berjalan dalam kondisi yang sangat berbeda baik dalam pemberian materi pembelajaran maupun segi kinerjanya.

Setelah Indonesia merdeka, pendidikan Islam tidak serta merta dimasukkan di dalam sistem pendidikan nasional. Organisasi pendidikan Islam memang terus hidup dan berkembang, namun tidak memperoleh perhatian sepenuhnya dari pemerintah. Lembaga-lembaga pendidikan Islam dibiarkan hidup meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana.

Pada sekitar tahun 1946 di awal kemerdekaan bangsa Indonesia, Departemen Agama telah meletakkan cita-cita pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi pendidikan nasional, khususnya pendidikan keagamaan. Pengembangan pendidikan keagamaan semula memang dilakukan oleh masyarakat sendiri melalui berbagai perkumpulan dan organisasi kemasyarakat dengan mencoba menyelenggarakan sistem pendidikan keagamaan dalam bentuk pesantren, diniyah dan madrasah.

Pemerintah memandang bahwa agama mempunyai kedudukan dan peranan sangat penting dan strategis. Peran utama agama sebagai landasan spiritual, moral dan etika dalam pembangunan nasional, agama juga berpengaruh untuk membersihkan jiwa manusia dan kemakmuran rakyat. Agama sebagai sistem nilai seharusnya difahami dan diamalkan oleh setiap individu, warga dan masyarakat hingga akhirnya dapat menjiwai kehidupan bangsa dan negara.

Adapun permasalahan yang dibahas adalah bagaimana dampak kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan terhadap reposisi pendidikan madrasah di Indonesia, dan bagaimana peran Kementerian Agama dalam kebijakan dan pengembangan madrasah di Indonesia. Tujuan dalam analisis ini adalah untuk mengetahui dampak kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan terhadap reposisi pendidikan madrasah di Indonesia, dan peran Kementerian Agama dalam kebijakan dan pengembangan madrasah di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s