Revitalisasi Kontribusi Ilmuwan Islam dalam Dunia Ilmu Pengetahuan [2]

Posted on Updated on

Membahas masalah ilmu pengetahuan dalam Islam berarti kita membicarakan kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam serta pemberdayaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan dakwah Islam. Islam mengajarkan kepada kita memikirkan ayat-ayat Allah baik ayat Qouliyah (al-Qur’an dan Hadist) maupun ayat-ayat Kauniyah (fenomena alam semesta), di mana di dalamnya syarat muatan multi ilmu pengetahuan. Dalam al-Qur’an juga banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh kita untuk mempelajari, meneliti, dan memperhatikan ilmu pengetahuan.

Sejarah Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Di masa-masa awal, masyarakat muslim sudah bangkit di atas pondasi keilmuan yang begitu kokoh. Bahkan mereka telah melangkah jauh pada jalan yang ditunjukkan agamanya yang agung dan suci, hingga kemudian duduk dengan penuh wibawa sebagai pusat rujukan keilmuan yang paling berpengaruh di seluruh dunia.
Kemajuan perkembangan sistem pendidikan yang terjadi baik di masa Bani Umayyah (41-132 H) maupun di Dinasti Abasiyah (750-1258 M) telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Keberadaan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh Islam, dan ummat Islam tampil sebagai bangsa yang dihormati, disegani, dan dikagumi oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Sejarah menyaksikan sekaligus menetapkan bahwa ummat Islam adalah penyumbang terbesar peradaban dunia yang sedang mekar dan berdiri tegak dewasa ini. Kalangan sejarawan sepakat untuk menyatakan bahwa kebangkitan Eropa muncul dari kemajuan peradaban bangsa Arab berikut pelbagai peninggalannya yang bersifat logis dan etis yang tersebar di segala penjuru dunia.
Sistem pendidikan yang terjadi di zaman Dinasti Abasiyah telah menjadi model bagi pelaksanaan pendidikan yang terjadi di berbagai belahan dunia, dan hingga saat ini pada disiplin ilmu tertentu pengaruhnya masih terasa.
Peradaban Islam telah membawa ummatnya pada posisi yang lebih utama seraya mempersembahkan sejumlah ilmuwan besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan secara keseluruhan, seperti:

  • Ibnu Khaldun dalam bidang sosiologi, sejarah dan arsitektur.
  • Ibnu Sina dalam bidang ilmu kedokteran.
  • Abu Bakar al-Khawarizmi dalam bidang ilmu matematika dan astronomi.
  • Ibnu Haisam dalam bidang ilmu fisika dan optik.
  • Abu Zakaria dalam bidang ilmu kedokteran.
  • Abu Zakaria al-Awwam dalam bidang ilmu botani.
  • Abu al-Qasim az-Zahrawi dalam bidang ilmu bedah.

Masih banyak lagi tokoh lainnya. Sejarah telah mengabadikan nama dan kecemerlangan mereka. Para cendekiawan dari waktu ke waktu selalu mendiskusikan warisan ilmiah mereka yang begitu mengagumkan. Karya dan buku-buku mereka dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan telah mengajarkan, bahkan mengubah dunia menjadi jauh lebih baik dan dapat mengecap kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Dunia senantiasa haus terhadap ilmu dan pengetahuan berikut segenap warisannya. Bangsa Eropa sungguh benar-benar mengetahui hal ini. Para pelopor dan pakar bangsa itu telah menyaksikan keutamaan dan keandalan ilmu pengetahuannya. Termasuk kontribusi peradaban Islam bagi dunia ilmu pengetahuan dan peradaban mereka.
Demikianlah kondisi ummat Islam saat berpegang teguh kepada agama mereka. Seyogyanya ummat Islam menyadari kondisi saat ini di mata ummat dan bangsa yang ada. Untuk kemudian membandingkannya dengan kondisi mereka di masa awal sejarah. Ini agar mereka mengetahui bahwa sikap ketidakpedulian yang tentu saja tidak mengurangi nilai ajaran Islam itu sendiri, menjadi penyebab keterbelakangan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sejarah Islam dalam Ilmu Pengetahuan
Masa jaya Baghdad sebelum abad ke-13 dikenal sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan. Namun penyerangan bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan tahun 1250 M mengakibatkan hancurnya pusat ilmu pengetahuan seperti perpustakaan dan lembaga pendidikan. Hal ini berakibat pada putusnya akar sejarah intelektual yang telah dibangun pada masa awal Islam. Kekalahan politik berimplikasi pada cara pandang dan berfikir ummat Islam yang telah mulai mengalihkan pandangan dan pemikiran ummat Islam yang semula dinamis berubah menjadi fatalis. Pada masa ini terjadi kegelisahan dan frustasi sehingga berusaha menjauhi kehidupan duniawi termasuk meninggalkan kehidupan intelektual. Kehidupan para sufi muncul dan berkembang dengan mengadakan riyadhah di bawah bimbingan dan otoritas Syaikh dan berkembang menjadi lembaga tarekat.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya.
Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim. Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan pengetahuan Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumber daya manusianya.

Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Ilmu pengetahuan amat penting bagi setiap individu bahkan dapat meningkatkan martabat manusia. Di dalam Islam, menuntut ilmu juga merupakan suatu ibadah kepada Allah dan terdapat beberapa hal tertentu dalam proses menuntut ilmu. Pentingnya mempunyai ilmu adalah untuk membuktikan kekuasaan Allah. Hal ini adalah untuk menguatkan kepercayaan dan keimanan manusia terhadap Allah. Dengan adanya ilmu, manusia dapat membaca al-Qur’an yang mana terkandung segala persoalan yang ada di muka bumi ini. Ilmu juga membolehkan manusia mengkaji alam semesta ciptaan Allah ini. Menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja,tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Rasulullah pernah bersabda “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
Untuk kehidupan dunia kita memerlukan ilmu yang dapat menopang kehidupan dunia, untuk persiapan di akhirat. Kita juga memerlukan ilmu yang sekiranya dapat membekali kehidupan akhirat. Dengan demikian, kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai tujuan hidup insya Allah akan tercapai. Melalui ilmu juga lah manusia dapat menjalankan tugas sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini. Sebagai hamba Allah, manusia perlu melaksanakan ibadah-ibadah umum dan khusus. Dalam pada masa yang sama, manusia juga merupakan khalifah Allah di muka bumi ini. Ilmu yang diperoleh dengan keizinan Allah perlulah dipelajari dan disampaikan kepada individu dan masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s