Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [3]

Posted on Updated on

Periode Kekhalifahan

Kekhalifahan Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan pada masa 41-132 H (661-752 M). Beberapa nama khalifah yang terkenal pada masa itu seperti Abd al-Malik ibn Marwan, al-Walid ibn Abd al-Malik, Umar ibn Abd al-Aziz, dan Hisyam ibn Abd al-Malik. Visi pendidikan pada masa itu adalah unggul dalam ilmu agama dan umum sejalan dengan kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah Islam, dengan misi:

  • menyelenggarakan pendidikan agama dan umum secara seimbang;
  • melakukan penataan kelembagaan dan aspek-aspek pendidikan Islam;
  • memberikan pelayanan pendidikan pada seluruh wilayah Islam secara adil dan merata; dan
  • memberdayakan masyarakat agar mandiri, dapat memecahkan masalahnya sesuai dengan kemempuannya sendiri.

Pendidikan bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul secara seimbang dalam ilmu agama dan umum serta mampu menerapkannya bagi kemajuan wilayah Islam, dengan sasaran seluruh ummat atau warga yang terdapat di seluruh wilayah kekuasaan Islam sebagai dasar bagi dirinya dalam membangun masa depan yang lebih baik. Kurikulum pendidikan pada masa dinasti Umayyah meliputi ilmu agama, ilmu sejarah dan geografi, ilmu pengetahuan bidang bahasa, dan ilmu filsafat. Tempat pembelajaran selain seperti masa sebelumnya (rumah, masjid, suffah, kuttab) juga ditambah dengan istana, badiah, perpustakaan, dan bimaristan, dengan masing-masing tenaga pendidik yang disesuaikan dengan tempat pembelajaran tersebut.

Pengelolaan kegiatan pendidikan pada masa Bani Umayyah dilakukan secara desentralisasi, pemerintah pusat hanya menetapkan kebijakan secara umum dan selanjutnya menyerahkan pengelolaan pendidikan kepada kebijakan program masing-masing gubernur di setiap provinsi. Para lulusan pendidikan di masa dinasti Umayyah ini terdiri dari para tabi’in (mereka yang hidup dan berguru kepada para shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw.), atau generasi kedua setelah shahabat, yang banyak menjadi ulama ahli Fiqh dan perawi Hadist.

Masa Bani Umayyah secara politik yang berlangsung selama 90 tahun ini lebih banyak digunakan untuk melakukan perluasan wilayah dan meredam berbagai gejolak dan pemberontakan, sehingga situasi sosial-politik ini berpengaruh pada dunia pendidikan pada saat itu yang lebih dominan ilmu agama daripada ilmu umum.

Periode selanjutnya adalah Dinasti Abasiyah yang selama lima abad dipegang oleh lebih dari 37 khalifah dimulai dari Abu al-Abbas as-Safah di tahun 750 M sampai dengan al-Mu’tashim di tahun 1258 M, dengan beberapa nama yang terkenal seperti Abu Ja’far al-Mansur, al-Mahdi, Harun al-Rasyid, dan al-Ma’mun. Dinasti Abasiyah sebagaimana yang dikenal dalam sejarah sebagai zaman keemasan Islam yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban yang mengagumkan, dengan perluasan kekuasaan Islam seperti wilayah Iraq, Spanyol, India, Mesir, dan sebagian dari Afrika utara.

Lembaga pendidikan selain yang telah ada di periode sebelumnya (masjid, suffah, kuttab, al-badiah, istana, perpustakaan, dan al-bimaristan) pada masa ini juga berkembang al-Hawanit al-Warraqien (toko buku), Manazil al-Ulama (rumah para ulama), al-Sholum al-Adabiyah (sanggar sastra), Madrasah (tempat belajar), al-Ribath dan az-Zawiah, perpustakaan dan observatorium.

Kurikulum dalam masa Dinasti Abasiyah dapat dilihat dari sudut pandang pemikiran dua pakar/ulama pada saat itu yaitu Imam al-Ghazali dan Ibnu Khaldun. Menurut Imam al-Ghazali pembagian ilmu dari segi sumber (syariat Quran-Hadist dan non-syariat seperti ilmu kedokteran, berhitung dan imu perusahaan), segi objeknya jauh dekatnya dengan Tuhan (ilmu pengetahuan yang terpuji, tercela, dan filsafat naturalisme), dan segi hukum (ilmu fardlu ‘ain dan dan ilmu fardhu kifayah). Sedangkan menurut Ibnu Khaldun yang menyusun kurikulum sesuai dengan akal dan kejiwaan peserta didik dengan tujuan agar peserta didik menyukainya dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu tersebut, membagi ilmu menjadi kelompok ilmu lisan (bahasa dan sastra), kelompok ilmu naqli (yang diambil dari Quran-Hadist), dan kelompok ilmu aqli (yang diperoleh melalui kemampuan berfikir).

Tradisi ilmiah dan atmosfer akademik yang terjadi pada masa periode dinasti Abasiyah ini seperti: Muzakarah (pertukaran informasi), Munazarah (perdebatan), Rihlah Ilmiah (perjalanan menuntut ilmu), penerjemahan, koleksi buku dan perpustakaan, pembangunan lembaga penelitian, penelitian ilmiah, pemberian wakaf, dan penulisan buku. Para ilmuwan dan guru besar banyak yang dilahirkan dari masa dinasti Abasiyah ini bukan hanya ahli dalam ilmu agama Islam melainkan juga ahli dalam bidang ilmu pengetahuan umum, seni dan arsitektur, di antaranya adalah: Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibn Miskawaih (ilmu akhlak), Ibn Jama’ah (guru istana), dan Imam al-Juwaini (guru Madrasah Nidzamiah). Pembiayaan pendidikan pada masa dinasti Abasiyah sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah yang per-tahunnya menganggarkan sekitar 600.000 dinar, bisa diasumsikan sekarang setara dengan sekitar Rp 6 triliun. Begitu juga dengan manajemen pendidikan yang diatur oleh pemerintah dan kemudian dikoordinasikan dengan berbagai lembaga pendidikan yang mulai berkembang pesat di zaman dinasi Abasiyah tersebut.

Kemajuan sistem pendidikan yang terjadi di zaman dinasti Abasiyah ini telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Sistem pendidikan ini telah menjadi model atau kiblat bagi pelaksanaan pendidikan yang terjadi di berbagai belahan dunia pada masa itu. Sehingga keberadaan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan ummat Islam tampil sebagai adikuasa yang dihormati, disegani dan dikagumi oleh bangsa di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s