Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [2]

Posted on Updated on

Dalam sejarah, Islam pernah menjadi pusaran peradaban dunia. Semua mata tertuju pada kemajuan Islam yang saat itu di bawah kendali dinasti Abbasiyah II. Pada era keemasan itulah lahir para pemikir Muslim yang menjadi rujukan dunia ilmu pengetahuan, seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Farabi, al-Khawarij, dan lainnya.
Sejarah pendidikan Islam dipelajari untuk dapat mengetahui bagaimana cara pendidikan dan ajarannya baik yang berdampak positif terhadap kemajuan dunia Islam, maupun yang berdampak negatif terhadap kemunduran dunia Islam pada masanya. Adapun manfaat secara akademis kegunaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktik), juga untuk menumbuhkan persepektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu dan teknologi pengetahuan. Sehingga dapat mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam sebagai solusi problematika pendidikan Islam dewasa ini, dan memiliki sikap positif terhadap perubahan dan pembaruan sistem pendidikan Islam.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah perkembangan pemikiran filosofis pendidikan Islam pada periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Rasulullah (610-632 M), periode Khulafaur Rasyidin (632-661 M), periode Bani Umayah (661-752 M), dan periode Dinasti Abasiyah (752-1258 M). Pembahasan pemikiran filosofis pendidikan Islam dari empat periode ini ditinjau dari visi-misi-tujuan pendidikan, kurikulum, sasaran (peserta didik), tenaga pendidik, metode/pendekatan pembelajaran, tempat pembelajaran (lembaga pendidikan), pembiayaan-fasilitas pendidikan, evaluasi dan lulusan pendidikan.

Periode Rasulullah

Visi pendidikan pada periode Rasulullah dapat ditafsirkan menjadi unggul dalam bidang keagamaan, moral, sosial-ekonomi dan kemasyarakatan, serta penerapannya dalam kehidupan dengan aqidah dan akhlak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam; karena sejalan dengan maksud dan kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Sejalan dengan visi tersebut maka misi pendidikan Islami yang berlangsung di Mekkah dan Madinah adalah:

  • memperkuat dan memperkukuh status dan kepribadian Rasulullah saw. yang memiliki aqidah dan keyakinan yang kukuh terhadap pertolongan Allah SWT, berbudi pekerti mulia, dan memiliki komitmen yang tinggi untuk menegakkan kebenaran di muka bumi;
  • memberikan bimbingan kepada Rasulullah Nabi Muhammad saw. dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengemban misi kebenaran;
  • memberikan peringatan dan bimbingan akhlak mulia kepada keluarga dan kerabat dekat Rasulullah Nabi Muhammad saw.;
  • memberikan bimbingan kepada kaum Muslimin menuju jalan yang diridhai Allah SWT;
  • mendorong kaum Muslimin untuk berjihad di jalan Allah SWT;
  • memberikan didikan akhlak yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi;
  • mengajak kelompok di luar Islam (Yahudi dan Nasrani) agar mematuhi dan menjalankan agamanya dengan saleh, sehingga mereka dapat hidup tertib dan berdampingan dengan ummat Islam; dan
  • menyesuaikan didikan dan dakwah dengan keadaan masyarakat saat itu.

Tujuan pendidikan Islam di zaman Rasulullah Nabi Muhammad saw. adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, sebagai landasan bagi ummat saat itu dalam menjalani kehidupannya di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Hal ini juga diimbangi dengan upaya membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan cita-cita Islam, yakni mewujudkan masyarakat yang diridhai Allah SWT dengan cara menjalankan syari’at Islam seutuhnya.
Kurikulum pendidikan Islami di Mekkah dan Madinah berisi materi pengajaran yang berkaitan dengan aqidah dan akhlak mulia dalam arti yang luas, juga berisi ajaran tentang pokok-pokok agama, ibadah dan baca al-Qur’an. Kurikulum ini selanjutnya diperluas dengan pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antar kaum Muslimin, pendidikan kesejahteraan sosial dan kesejahteraan keluarga, pendidikan anak-anak, pendidikan tauhid, pendidikan shalat, pendidikan adab sopan santun, pendidikan kepribadian, dan pendidikan pertahanan keamanan. Sasaran atau peserta didik di Mekkah adalah Asratul Kiraam (10 orang sahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang dijamin masuk surga), sewaktu di Madinah jauh lebih banyak sekitar 60 orang shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. (al-sabiquna al-awwalun).
Tenaga pendidik saat di Mekkah adalah Rasulullah Nabi Muhammad saw. sendiri yang sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 129 dan QS. al-Jumu’ah ayat 2 tentang fungsi Rasulullah saw. yaitu yatlu (membacakan), yu’allimu (mengajarkan) dan yuzakki (menyucikan). Selanjutnya pada masa di Madinah sudah ada beberapa tenaga pengajar dari kalangan shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. dengan kriteria yang telah ditetapkan Rasulullah Nabi Muhammad saw. dengan sifat guru profesional memiliki kompetensi akademik, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
Pengajaran dan pendidikan yang dilakukan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan fitrah manusia, yakni sebagai makhluk yang memiliki berbagai kecenderungan, kekurangan dan kelebihan. Dalam menyikapi hal ini, Rasulullah Nabi Muhammad saw. menggunakan metode ceramah, diskusi, musyawarah, tanya-jawab, bimbingan, teladan, demonstrasi, bercerita, hafalan, penugasan dan bermain peran. Dengan pendekatan fitrah ini, maka pendidikan berlangsung dalam suasana yang menggembirakan dan menyenangkan, hal ini sejalan dengan hadist beliau yang berarti “mudahkanlah dan jangan menyulitkan, gembirakanlah dan janganlah menyedihkannya”.
Rumah merupakan tempat pendidikan awal yang diperkenalkan ketika Islam mulai berkembang di Mekkah dengan menggunakan rumah Arqam bin Abi al-Arqam al-Safa, selain di Dar al-Arqam juga menggunakan tempat seperti di sekitar Masjidil Haram dan Aqabah. Sedangkan pada saat di Madinah, lembaga pendidikan sudah mulai menggunakan Masjid (masjid Nabawi, masjid Kuffah, masjid Bashrah), al-Suffah (ruang/bangunan yang bersambung dengan masjid), dan Kuttab.
Pembiayaan pendidikan diperkirakan berasal dari bantuan dan dukungan dari paman Ali bin Abi Thalib, Siti Khadijah ibn Khuwailid, dan empat shahabat terdekat Rasulullah Nabi Muhammad saw. pada saat di Mekkah. Rasulullah Nabi Muhammad saw. sangat banyak menyumbangkan harta beliau guna menunjang pembiayaan dan fasilitas pendidikan pada saat di Madinah.
Para pengikut Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dapat dikatakan sebagai orang-orang yang telah lulus dalam evaluasi pendidikan saat itu. Shahabat yang dinyatakan sudah menguasai materi pelajaran oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw. diberikan hak untuk mengajar di berbagai wilayah kekuasaan Islam.

Periode Khulafaur Rasyidin

Penggunaan nama Khulafaur Rasyidin diperuntukkan untuk para pemimpin setelah wafatnya Rasulullah Nabi Muhammad saw. Mereka itu adalah:

  1. Abu Bakar ibn Abi Kuhafah (573-634 M) selama 2 tahun : 11-13 H (632-634 M);
  2. Umar ibn Khattab (590-644 M) selama 10 tahun : 13-23 H (634-644 M);
  3. Utsman ibn Affan (573-655 M) selama 12 tahun : 23-35 H (644-655 M);
  4. Ali ibn Abi Thalib (599-661 M) selama 6 tahun : 35-40 H (655-661 M).

Secara eksplisit sulit ditemukan apa visi pendidikan Islam di masa Khulafaur Rasyidin namun tidak berbeda jauh dari periode Rasulullah Nabi Muhammad saw. yaitu unggul dalam bidang keagamaan sebagai landasan membangun kehidupan ummat, yang sejalan dengan berbagai situasi dan kondisi pada masa tersebut. Sejalan dengan visi ini, maka misi pendidikan di masa itu dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • menetapkan dan menguatkan keyaqinan dan kepatuhan kepada ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw. dengan cara memahami, menghayati dan mengamalkannnya secara konsisten;
  • menyediakan sarana-prasarana dan fasilitas yang memungkinkan terlaksananya ajaran agama;
  • menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bela negara yang memungkinkan Islam dapat berkembang ke seluruh dunia; dan
  • melahirkan para kader pemimpin ummat, pendidik, dan da’i yang tangguh dalam mewujudkan syiar Islam.

Hal ini juga tergambar pada tujuan pendidikan pada masa tersebut untuk melahirkan ummat yang memiliki komitmen yang tulus dan kukuh terhadap pelaksanaan ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw. Adapun kurikulum pendidikan di Madinah selain berisi materi pengajaran yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan (al-Qur’an dan al-Hadist), juga mempelajari hukum Islam, kemasyarakatan, ketatanegaraan, pertahanan keamanan, dan kesejahteraan sosial. Sasaran peserta didik terdiri dari masyarakat yang tinggal di kota Madinah dan Mekkah, secara umum untuk membentuk sikap mental keagamaan masyarakat di dua kota suci tersebut, dan secara khusus untuk membentuk ahli ilmu agama sebagian kecil dari kalangan tabi’in yang selanjutnya menjadi ulama.
Tenaga pendidik pada masa itu selain Khulafaur Rasyidin, adalah beberapa dari kalangan shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. seperti Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Siti Aisyah ra., Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, Abu Dzar al-Ghifari. Ada juga beberapa shahabat yang ditugaskan mengajar di beberapa kota lain seperti Abdurrahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hashim di Bashrah, Abdurrahman bin Ghanam di Syiria, dan Hasan bin Abi Jabalah ke Mesir. Sebagaimana kriteria yang diajarkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw., Khulafaur Rasyidin juga menentukan kriteria pendidik dengan memiliki sifat-sifat pendidik profesional seperti: kompetensi akademik, kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
Halaqah merupakan metode pendekatan pembelajaran yang digunakan pada saat itu yang bertempat di masjid, suffah dan kuttab. Mulai masa Khalifah Umar ibn Khattab pusat pendidikan sudah merambah ke Mesir, Syiria, Basrah, Kuffah dan Damsyik. Kegiatan evaluasi pendidikan masih berlangsung secara lisan dan perbuatan pada kemampuan seseorang dalam menguasai bahan pelajaran dilihat pada kemampuannya untuk mengemukakan, mengajarkan dan mengamalkan ajaran tersebut.
Pada masa ini beberapa hasil pendidikan yang tercatat dalam sejarah seperti upaya mengembalikan dan menyadarkan orang-orang yang membangkang terhadap Islam, mengumpulkan, menyalin dan membukukan al-Qur’an, serta lahirnya sejumlah ulama dari kalangan para shahabat dan tabi’in.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s