Month: February 2017

Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [4]

Posted on Updated on

Perkembangan pendidikan Islam mulai dari periode Rasulullah Nabi Muhammad saw. sampai ke Dinasti Abasiyah semakin menyempurnakan dunia pendidikan Islam sejalan dengan situasi dan kondisi pada masanya masing-masing. Adapun misi pendidikan Islam pada hakikatnya mewujudkan manusia sempurna dibekali akhlak mulia yang diimbangi dengan kesehatan jasmani-rohani untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan hidup guna mengolah bumi yang diciptakan Allah SWT sehingga dapat memanfaatkannya demi kesejahteraan ummat manusia.

Kesimpulan

Pendidikan Islam sejak periode Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang sederhana namun kompleks muatannya sampai ke Dinasti Abasiyah yang menjadi acuan pendidikan ilmu pada zaman itu, semakin menyempurnakan sistemnya mulai dari visi-misi-tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, sasaran (peserta didik), tenaga pendidik, metode/pendekatan pembelajaran, tempat pembelajaran (lembaga pendidikan), pembiayaan-fasilitas pendidikan, sampai pada evaluasi dan lulusan pendidikan.

Saran

Pada sistem pendidikan zaman Bani Umayyah dan Dinasti Abasiyah di lembaga pendidikan Islam tidak terdapat dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, karena semua ilmu itu adalah ilmu keislaman, sehingga pada saat itu Islam telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Dengan tidak membedakan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan diharapkan adanya revitalisasi mutu para pemikir/sarjana Islam sehingga dapat kembali berperan serta aktif dalam kontribusi pemikiran Islami baik segi ilmu agama maupun segi dunia ilmu pengetahuan pada umumnya.

Daftar Pustaka

  • A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (terj,) H. Mukhtar Yahya dan M. Sanusi Latief, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983, cet. I.
  • Abudin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
  • Abudin Nata, Pendidikan dalam Perspektif Hadist, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.
  • Abdullah Idi, Etika Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2015.
  • George Thomas White Petrick, dalam H. M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
  • Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2015.
  • Syafi’i Antonio, Muhammad SAW the Super Leader Super Manager, Jakarta: Prophet Leadership & Management Centre (PLM), 2007, cet. IV.
  • Syekh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, (terj.) Masturi Ilham, dari judul asli Min A’lam as-Salaf, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006.
  • Zuhairi dan Tim Penulis, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Ditjen Bimbaga Islam, 1986.
Advertisements

Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [3]

Posted on Updated on

Periode Kekhalifahan

Kekhalifahan Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan pada masa 41-132 H (661-752 M). Beberapa nama khalifah yang terkenal pada masa itu seperti Abd al-Malik ibn Marwan, al-Walid ibn Abd al-Malik, Umar ibn Abd al-Aziz, dan Hisyam ibn Abd al-Malik. Visi pendidikan pada masa itu adalah unggul dalam ilmu agama dan umum sejalan dengan kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah Islam, dengan misi:

  • menyelenggarakan pendidikan agama dan umum secara seimbang;
  • melakukan penataan kelembagaan dan aspek-aspek pendidikan Islam;
  • memberikan pelayanan pendidikan pada seluruh wilayah Islam secara adil dan merata; dan
  • memberdayakan masyarakat agar mandiri, dapat memecahkan masalahnya sesuai dengan kemempuannya sendiri.

Pendidikan bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul secara seimbang dalam ilmu agama dan umum serta mampu menerapkannya bagi kemajuan wilayah Islam, dengan sasaran seluruh ummat atau warga yang terdapat di seluruh wilayah kekuasaan Islam sebagai dasar bagi dirinya dalam membangun masa depan yang lebih baik. Kurikulum pendidikan pada masa dinasti Umayyah meliputi ilmu agama, ilmu sejarah dan geografi, ilmu pengetahuan bidang bahasa, dan ilmu filsafat. Tempat pembelajaran selain seperti masa sebelumnya (rumah, masjid, suffah, kuttab) juga ditambah dengan istana, badiah, perpustakaan, dan bimaristan, dengan masing-masing tenaga pendidik yang disesuaikan dengan tempat pembelajaran tersebut.

Pengelolaan kegiatan pendidikan pada masa Bani Umayyah dilakukan secara desentralisasi, pemerintah pusat hanya menetapkan kebijakan secara umum dan selanjutnya menyerahkan pengelolaan pendidikan kepada kebijakan program masing-masing gubernur di setiap provinsi. Para lulusan pendidikan di masa dinasti Umayyah ini terdiri dari para tabi’in (mereka yang hidup dan berguru kepada para shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw.), atau generasi kedua setelah shahabat, yang banyak menjadi ulama ahli Fiqh dan perawi Hadist.

Masa Bani Umayyah secara politik yang berlangsung selama 90 tahun ini lebih banyak digunakan untuk melakukan perluasan wilayah dan meredam berbagai gejolak dan pemberontakan, sehingga situasi sosial-politik ini berpengaruh pada dunia pendidikan pada saat itu yang lebih dominan ilmu agama daripada ilmu umum.

Periode selanjutnya adalah Dinasti Abasiyah yang selama lima abad dipegang oleh lebih dari 37 khalifah dimulai dari Abu al-Abbas as-Safah di tahun 750 M sampai dengan al-Mu’tashim di tahun 1258 M, dengan beberapa nama yang terkenal seperti Abu Ja’far al-Mansur, al-Mahdi, Harun al-Rasyid, dan al-Ma’mun. Dinasti Abasiyah sebagaimana yang dikenal dalam sejarah sebagai zaman keemasan Islam yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban yang mengagumkan, dengan perluasan kekuasaan Islam seperti wilayah Iraq, Spanyol, India, Mesir, dan sebagian dari Afrika utara.

Lembaga pendidikan selain yang telah ada di periode sebelumnya (masjid, suffah, kuttab, al-badiah, istana, perpustakaan, dan al-bimaristan) pada masa ini juga berkembang al-Hawanit al-Warraqien (toko buku), Manazil al-Ulama (rumah para ulama), al-Sholum al-Adabiyah (sanggar sastra), Madrasah (tempat belajar), al-Ribath dan az-Zawiah, perpustakaan dan observatorium.

Kurikulum dalam masa Dinasti Abasiyah dapat dilihat dari sudut pandang pemikiran dua pakar/ulama pada saat itu yaitu Imam al-Ghazali dan Ibnu Khaldun. Menurut Imam al-Ghazali pembagian ilmu dari segi sumber (syariat Quran-Hadist dan non-syariat seperti ilmu kedokteran, berhitung dan imu perusahaan), segi objeknya jauh dekatnya dengan Tuhan (ilmu pengetahuan yang terpuji, tercela, dan filsafat naturalisme), dan segi hukum (ilmu fardlu ‘ain dan dan ilmu fardhu kifayah). Sedangkan menurut Ibnu Khaldun yang menyusun kurikulum sesuai dengan akal dan kejiwaan peserta didik dengan tujuan agar peserta didik menyukainya dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu tersebut, membagi ilmu menjadi kelompok ilmu lisan (bahasa dan sastra), kelompok ilmu naqli (yang diambil dari Quran-Hadist), dan kelompok ilmu aqli (yang diperoleh melalui kemampuan berfikir).

Tradisi ilmiah dan atmosfer akademik yang terjadi pada masa periode dinasti Abasiyah ini seperti: Muzakarah (pertukaran informasi), Munazarah (perdebatan), Rihlah Ilmiah (perjalanan menuntut ilmu), penerjemahan, koleksi buku dan perpustakaan, pembangunan lembaga penelitian, penelitian ilmiah, pemberian wakaf, dan penulisan buku. Para ilmuwan dan guru besar banyak yang dilahirkan dari masa dinasti Abasiyah ini bukan hanya ahli dalam ilmu agama Islam melainkan juga ahli dalam bidang ilmu pengetahuan umum, seni dan arsitektur, di antaranya adalah: Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibn Miskawaih (ilmu akhlak), Ibn Jama’ah (guru istana), dan Imam al-Juwaini (guru Madrasah Nidzamiah). Pembiayaan pendidikan pada masa dinasti Abasiyah sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah yang per-tahunnya menganggarkan sekitar 600.000 dinar, bisa diasumsikan sekarang setara dengan sekitar Rp 6 triliun. Begitu juga dengan manajemen pendidikan yang diatur oleh pemerintah dan kemudian dikoordinasikan dengan berbagai lembaga pendidikan yang mulai berkembang pesat di zaman dinasi Abasiyah tersebut.

Kemajuan sistem pendidikan yang terjadi di zaman dinasti Abasiyah ini telah memberikan pengaruh yang besar, tak hanya bagi ummat Islam, melainkan bagi dunia pada umumnya. Sistem pendidikan ini telah menjadi model atau kiblat bagi pelaksanaan pendidikan yang terjadi di berbagai belahan dunia pada masa itu. Sehingga keberadaan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan ummat Islam tampil sebagai adikuasa yang dihormati, disegani dan dikagumi oleh bangsa di dunia.

Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [2]

Posted on Updated on

Dalam sejarah, Islam pernah menjadi pusaran peradaban dunia. Semua mata tertuju pada kemajuan Islam yang saat itu di bawah kendali dinasti Abbasiyah II. Pada era keemasan itulah lahir para pemikir Muslim yang menjadi rujukan dunia ilmu pengetahuan, seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Farabi, al-Khawarij, dan lainnya.
Sejarah pendidikan Islam dipelajari untuk dapat mengetahui bagaimana cara pendidikan dan ajarannya baik yang berdampak positif terhadap kemajuan dunia Islam, maupun yang berdampak negatif terhadap kemunduran dunia Islam pada masanya. Adapun manfaat secara akademis kegunaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktik), juga untuk menumbuhkan persepektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu dan teknologi pengetahuan. Sehingga dapat mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam sebagai solusi problematika pendidikan Islam dewasa ini, dan memiliki sikap positif terhadap perubahan dan pembaruan sistem pendidikan Islam.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah perkembangan pemikiran filosofis pendidikan Islam pada periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Rasulullah (610-632 M), periode Khulafaur Rasyidin (632-661 M), periode Bani Umayah (661-752 M), dan periode Dinasti Abasiyah (752-1258 M). Pembahasan pemikiran filosofis pendidikan Islam dari empat periode ini ditinjau dari visi-misi-tujuan pendidikan, kurikulum, sasaran (peserta didik), tenaga pendidik, metode/pendekatan pembelajaran, tempat pembelajaran (lembaga pendidikan), pembiayaan-fasilitas pendidikan, evaluasi dan lulusan pendidikan.

Periode Rasulullah

Visi pendidikan pada periode Rasulullah dapat ditafsirkan menjadi unggul dalam bidang keagamaan, moral, sosial-ekonomi dan kemasyarakatan, serta penerapannya dalam kehidupan dengan aqidah dan akhlak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam; karena sejalan dengan maksud dan kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Sejalan dengan visi tersebut maka misi pendidikan Islami yang berlangsung di Mekkah dan Madinah adalah:

  • memperkuat dan memperkukuh status dan kepribadian Rasulullah saw. yang memiliki aqidah dan keyakinan yang kukuh terhadap pertolongan Allah SWT, berbudi pekerti mulia, dan memiliki komitmen yang tinggi untuk menegakkan kebenaran di muka bumi;
  • memberikan bimbingan kepada Rasulullah Nabi Muhammad saw. dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengemban misi kebenaran;
  • memberikan peringatan dan bimbingan akhlak mulia kepada keluarga dan kerabat dekat Rasulullah Nabi Muhammad saw.;
  • memberikan bimbingan kepada kaum Muslimin menuju jalan yang diridhai Allah SWT;
  • mendorong kaum Muslimin untuk berjihad di jalan Allah SWT;
  • memberikan didikan akhlak yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi;
  • mengajak kelompok di luar Islam (Yahudi dan Nasrani) agar mematuhi dan menjalankan agamanya dengan saleh, sehingga mereka dapat hidup tertib dan berdampingan dengan ummat Islam; dan
  • menyesuaikan didikan dan dakwah dengan keadaan masyarakat saat itu.

Tujuan pendidikan Islam di zaman Rasulullah Nabi Muhammad saw. adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, sebagai landasan bagi ummat saat itu dalam menjalani kehidupannya di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Hal ini juga diimbangi dengan upaya membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan cita-cita Islam, yakni mewujudkan masyarakat yang diridhai Allah SWT dengan cara menjalankan syari’at Islam seutuhnya.
Kurikulum pendidikan Islami di Mekkah dan Madinah berisi materi pengajaran yang berkaitan dengan aqidah dan akhlak mulia dalam arti yang luas, juga berisi ajaran tentang pokok-pokok agama, ibadah dan baca al-Qur’an. Kurikulum ini selanjutnya diperluas dengan pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antar kaum Muslimin, pendidikan kesejahteraan sosial dan kesejahteraan keluarga, pendidikan anak-anak, pendidikan tauhid, pendidikan shalat, pendidikan adab sopan santun, pendidikan kepribadian, dan pendidikan pertahanan keamanan. Sasaran atau peserta didik di Mekkah adalah Asratul Kiraam (10 orang sahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang dijamin masuk surga), sewaktu di Madinah jauh lebih banyak sekitar 60 orang shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. (al-sabiquna al-awwalun).
Tenaga pendidik saat di Mekkah adalah Rasulullah Nabi Muhammad saw. sendiri yang sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 129 dan QS. al-Jumu’ah ayat 2 tentang fungsi Rasulullah saw. yaitu yatlu (membacakan), yu’allimu (mengajarkan) dan yuzakki (menyucikan). Selanjutnya pada masa di Madinah sudah ada beberapa tenaga pengajar dari kalangan shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. dengan kriteria yang telah ditetapkan Rasulullah Nabi Muhammad saw. dengan sifat guru profesional memiliki kompetensi akademik, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
Pengajaran dan pendidikan yang dilakukan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan fitrah manusia, yakni sebagai makhluk yang memiliki berbagai kecenderungan, kekurangan dan kelebihan. Dalam menyikapi hal ini, Rasulullah Nabi Muhammad saw. menggunakan metode ceramah, diskusi, musyawarah, tanya-jawab, bimbingan, teladan, demonstrasi, bercerita, hafalan, penugasan dan bermain peran. Dengan pendekatan fitrah ini, maka pendidikan berlangsung dalam suasana yang menggembirakan dan menyenangkan, hal ini sejalan dengan hadist beliau yang berarti “mudahkanlah dan jangan menyulitkan, gembirakanlah dan janganlah menyedihkannya”.
Rumah merupakan tempat pendidikan awal yang diperkenalkan ketika Islam mulai berkembang di Mekkah dengan menggunakan rumah Arqam bin Abi al-Arqam al-Safa, selain di Dar al-Arqam juga menggunakan tempat seperti di sekitar Masjidil Haram dan Aqabah. Sedangkan pada saat di Madinah, lembaga pendidikan sudah mulai menggunakan Masjid (masjid Nabawi, masjid Kuffah, masjid Bashrah), al-Suffah (ruang/bangunan yang bersambung dengan masjid), dan Kuttab.
Pembiayaan pendidikan diperkirakan berasal dari bantuan dan dukungan dari paman Ali bin Abi Thalib, Siti Khadijah ibn Khuwailid, dan empat shahabat terdekat Rasulullah Nabi Muhammad saw. pada saat di Mekkah. Rasulullah Nabi Muhammad saw. sangat banyak menyumbangkan harta beliau guna menunjang pembiayaan dan fasilitas pendidikan pada saat di Madinah.
Para pengikut Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dapat dikatakan sebagai orang-orang yang telah lulus dalam evaluasi pendidikan saat itu. Shahabat yang dinyatakan sudah menguasai materi pelajaran oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw. diberikan hak untuk mengajar di berbagai wilayah kekuasaan Islam.

Periode Khulafaur Rasyidin

Penggunaan nama Khulafaur Rasyidin diperuntukkan untuk para pemimpin setelah wafatnya Rasulullah Nabi Muhammad saw. Mereka itu adalah:

  1. Abu Bakar ibn Abi Kuhafah (573-634 M) selama 2 tahun : 11-13 H (632-634 M);
  2. Umar ibn Khattab (590-644 M) selama 10 tahun : 13-23 H (634-644 M);
  3. Utsman ibn Affan (573-655 M) selama 12 tahun : 23-35 H (644-655 M);
  4. Ali ibn Abi Thalib (599-661 M) selama 6 tahun : 35-40 H (655-661 M).

Secara eksplisit sulit ditemukan apa visi pendidikan Islam di masa Khulafaur Rasyidin namun tidak berbeda jauh dari periode Rasulullah Nabi Muhammad saw. yaitu unggul dalam bidang keagamaan sebagai landasan membangun kehidupan ummat, yang sejalan dengan berbagai situasi dan kondisi pada masa tersebut. Sejalan dengan visi ini, maka misi pendidikan di masa itu dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • menetapkan dan menguatkan keyaqinan dan kepatuhan kepada ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw. dengan cara memahami, menghayati dan mengamalkannnya secara konsisten;
  • menyediakan sarana-prasarana dan fasilitas yang memungkinkan terlaksananya ajaran agama;
  • menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bela negara yang memungkinkan Islam dapat berkembang ke seluruh dunia; dan
  • melahirkan para kader pemimpin ummat, pendidik, dan da’i yang tangguh dalam mewujudkan syiar Islam.

Hal ini juga tergambar pada tujuan pendidikan pada masa tersebut untuk melahirkan ummat yang memiliki komitmen yang tulus dan kukuh terhadap pelaksanaan ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw. Adapun kurikulum pendidikan di Madinah selain berisi materi pengajaran yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan (al-Qur’an dan al-Hadist), juga mempelajari hukum Islam, kemasyarakatan, ketatanegaraan, pertahanan keamanan, dan kesejahteraan sosial. Sasaran peserta didik terdiri dari masyarakat yang tinggal di kota Madinah dan Mekkah, secara umum untuk membentuk sikap mental keagamaan masyarakat di dua kota suci tersebut, dan secara khusus untuk membentuk ahli ilmu agama sebagian kecil dari kalangan tabi’in yang selanjutnya menjadi ulama.
Tenaga pendidik pada masa itu selain Khulafaur Rasyidin, adalah beberapa dari kalangan shahabat Rasulullah Nabi Muhammad saw. seperti Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Siti Aisyah ra., Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, Abu Dzar al-Ghifari. Ada juga beberapa shahabat yang ditugaskan mengajar di beberapa kota lain seperti Abdurrahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hashim di Bashrah, Abdurrahman bin Ghanam di Syiria, dan Hasan bin Abi Jabalah ke Mesir. Sebagaimana kriteria yang diajarkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw., Khulafaur Rasyidin juga menentukan kriteria pendidik dengan memiliki sifat-sifat pendidik profesional seperti: kompetensi akademik, kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
Halaqah merupakan metode pendekatan pembelajaran yang digunakan pada saat itu yang bertempat di masjid, suffah dan kuttab. Mulai masa Khalifah Umar ibn Khattab pusat pendidikan sudah merambah ke Mesir, Syiria, Basrah, Kuffah dan Damsyik. Kegiatan evaluasi pendidikan masih berlangsung secara lisan dan perbuatan pada kemampuan seseorang dalam menguasai bahan pelajaran dilihat pada kemampuannya untuk mengemukakan, mengajarkan dan mengamalkan ajaran tersebut.
Pada masa ini beberapa hasil pendidikan yang tercatat dalam sejarah seperti upaya mengembalikan dan menyadarkan orang-orang yang membangkang terhadap Islam, mengumpulkan, menyalin dan membukukan al-Qur’an, serta lahirnya sejumlah ulama dari kalangan para shahabat dan tabi’in.

Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam Klasik [1]

Posted on Updated on

Filsafat pendidikan Islam mengkhususkan kajian pemikiran-pemikiran yang menyeluruh dan mendasar tentang pendidikan berdasarkan tuntutan ajaran Islam, dengan upaya pemikiran yang radikal dan mendalam tentang berbagai masalah yang ada hubungannya dengan pendidikan Islam. Filsafat pendidikan Islam didasarkan kepada pemikiran yang bersumber dari wahyu Ilahi, di mana berfikir secara radikal memberikan makna kebebasan manusia untuk berfikir yang dibatasi oleh kebenaran wahyu. Pemikiran ini berupaya menghindarkan diri dari keraguan yang bersifat mendasar, karena dalam berfikir para filosuf mendasarkan diri kepada kebenaran wahyu.

Pada hakikatnya filsafat pendidikan Islam adalah pelaksanaan pandangan dan kaidah falsafah Islam yang diterapkan di bidang pendidikan, dengan aktivitas pemikiran yang teratur menjadikan falsafah Islam sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan Islam dalam upaya menjelaskan nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya.

Metode dan pendekatan yang digunakan oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw., Khalifah al-Rasyidin, dan para ulama’ pada Dinasti Bani Abasyiyah dan Umayyah telah terbukti secara sukses dalam mengajak masyarakat untuk menjadikan Islam sebagai pandangan hidupnya. Metode dan pendekatan yang persuasif, damai dan keteladanan yang baik (uswatun hasanah), akomodatif dan bijak sebagaimana yang diterapkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw., Khalifah al-Rasyidin, dan para ulama’ pada Dinasti Bani Abasyiyah dan Umayyah ada baiknya kembali digunakan dengan kemasan dan logikanya yang disesuaikan dengan kemajuan perkembangan zaman.

Tulisan ini membahas tentang bagaimana situasi dan kondisi pendidikan Islam mulai dari zaman awal permulaan Islam abad ke-7 sampai pada masa keemasan Islam di abad ke-13, dengan tujuan untuk menelaah pemikiran filosofis pendidikan Islam klasik mulai dari periode Rasulullah Nabi Muhammad saw. sampai ke Dinasti Abasiyah.