Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [4]

Posted on Updated on

Berkembangnya beberapa wilayah kekuasaan Islam ini, diakibatkan suatu pendidikan yang telah mewariskan nilai budaya kepada generasi muda dan mengembangkannya. Oleh karena karenanya pendidikan Islam pada hakekatnya adalah mewariskan nilai budaya Islam kepada generasi muda dan mengembangkannya sehingga mencapai dan memberikan manfaat maksimal bagi hidup dan kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Masa keemasan wilayah kekuasaan Islam ini, dimulai berkembang dan pesatnya kebudayaan Islam, yang ditandai dengan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah formal serta universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Hal ini sangat dominan pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan pola budaya muslim. Berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan dan pengembangan berbagai macam aspek budaya kaum muslimin dunia.

Namun, dengan banyaknya ilmuwan dan padatnya umat Islam pada waktu, juga muncul elit politik yang mendominasi ulama tanpa kemampuan mendominasi kehidupan kultural negeri. Sedangkan ikhwan al-Muslimin menekankan aspek Islam kelompok yang memandang bahwasanya musuh utama adalah orang non-Muslim. Kelompok ini menekankan solidaritas dan keadilan sebagai sikap perlawanan terhadap pemberontak negara, dan rezim militer yang korup. Gerakan pembaharuan di beberapa wilayah seperti Baghdad, Mesir dan Andalusia menekankan pada moralitas individu dan lain-lain keluarga sebagai respon dari tekanan perubahan tata sosial. Ia bertahan sebagai sarana perlawanan terhadap negara penjajah dan berbagai kebijakannya.

Wilayah kekuasaan Islam seperti Baghdad, Mesir dan Andalusia merupakan era umat Islam telah mencapai kejayaannya. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Tapi pada abad ke-10 M dunia Islam mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu juga peradabannya. Kemunduran itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada abad pertengahan.

Dengan bekal sejarah sosial dan intelektual Islam ini, baik pengalaman kemajuan maupun kemunduran kekuasaan Islam masa itu seperti Baghdad, Mesir dan Andalusia, para ilmuwan masa kini dapat mengambil intisari dan hikmahnya demi meningkatkan kinerja pemikiran Islami (kerjasama dengan ulama’ dan umaro’ yang terintegrasi) diharapkan selanjutnya dapat mengulangi kembali sejarah keemasan Islam tersebut, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Anbiya ayat 107 yang berarti: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Advertisements

Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [3]

Posted on Updated on

Upaya menganalisis kemajuan intelektual yang terjadi pada era keemasan Islam ini dibagi menjadi tiga sub-pembahasan yaitu: Baghdad, Andalusia, dan perpustakaan.

Baghdad

Dalam jangka waktu satu generasi sejak didirikan, Baghdad telah menjadi pusat pendidikan dan perdagangan. Beberapa sumber memperkirakan ia hanya memiliki lebih dari sejuta penduduk, meski yang lainnya menyatakan bahwa angka sebenarnya bisa jadi hanya sebagian dari jumlah tersebut. Sebagian besar penduduknya berasal dari seluruh Iran terutama dari Khorasan.

Pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid pemerintahan yang baik dan terhormat. Tidak ada khalifah yang paling diminati oleh alim-ulama, para penyair, ahli fiqh, pembaca al-Qur’an, juru-juri dan penulis, selain beliau. Khalifah Harun Ar-Rasyid mempunyai hubungan yang rapat dengan setiap orang, dan beliau seorang sastrawan, penyair, dan pencipta cerita lama dan syair. Contohnya dari buku kisah-kisah dalam Seribu Satu Malam berlokasi di Baghdad pada periode ini yang disebut “Madinat as-Salam” (Kota Kedamaian) oleh Shahrazad yang mengisahkan pemimpinnya paling dihormati, Khalifah kelima yaitu Harun al-Rashid. Kisah Seribu Satu Malam, termasuk cerita Sindbad yang termasyhur, melambangkan kehebatan budaya Baghdad selama masa keemasannya sebagai pemimpin dunia Arab dan Islam yang diakui dunia.

Di masa pemerintahannya Khalifah al-Mansur dan pegawainya sudah mempunyai gambaran di dalam kepala mereka tentang suatu tempat yang istimewa untuk memperindah kota Baghdad dengan hal positif. Hal ini terealisasi, dan digali pula terusan yang membelah negeri Iraq untuk pelayaran dan airnya bersumber dari sungai Furat. Dengan demikian kota Baghdad berhubungan dengan ibukota kerajaan Abbasiyah yang baru itu, dan mempunyai hubungan melalui sungai dengan Asia kecil dan Syiria. Dengan dibangunnya kota Baghdad menjadi sebuah kota makmur, maju, dan kaya dengan tamaddun, ilmu pengetahuan dan kebaikan, Baghdad mendapat perhatian seluruh kaum Muslimin dan terkenal di seluruh dunia. Dengan cepat pula kota ini menjadi tempat yang paling terkemuka di bidang politik dan kegiatan sosial dan ilmu pengetahuan di Timur Tengah seluruhnya.

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ada beberapa ilmu pengetahuan yang terkenal masa itu, yaitu: Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’at, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqh, Ilmu Ushul Fiqh, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawuf, Ilmu Tulen (Matematika), di antarnya yang terkenal adalah Muhammad bin Musa al Khawarizmi yang menulis al jabar dalam bukunya al-Jibr wal Muqabalah, al Qaslawi yang menggunakan symbol dalam matematik, al-Tusi yang menunjukkan kekurangan teori eclideus. Dan Ilmu Falaq, di antara yang terkenal adalah Muhammad al Fazzari, sebagai ahli falaq Islam yang pertama dan penerjemah buku al-Sind Hind. Kemudian Abu Ishaq bin Habib bin Sulaiman yang menulis buku Falaq dan mencipta alat-alat teropong bintang, Musa bin Syakir yang menulis buku ilmu Falaq berjudul Kitab al-Ikhwah al-Thalathah, Abu Ma’asyar bin Muhammad bin Umar al-Balkhi, dengan bukunya al-Madkhal ila ahkam al-Nujum, dan Ibnu Jabir al-Battani (salah seorang pelopor trigonometri), Ilmu Musik, seperti al Kindi al Farabi, dan Ibnu Sina, Ilmu Kealaman dan Eksperimental (Ilmu Kimia, Ilmu Fisika, Ilmu Biologi), serta Ilmu Terapan dan Praktis (Ilmu Kedokteran, Ilmu Farmasi, Ilmu Pertanian).

Para sarjana muslim telah mengembangkan metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui metode observasi dan metode histories (sejarah) sebagaimana yang dikembangkan Ibnu Khaldun. Dalam bidang kebudayaan pada umumnya Islam telah mempersembahkan kepada dunia, suatu tingkat budaya tinggi yang menjadi mercusuar budaya umat manusia beberapa abad sesudahnya. Dalam bidang arsitektur sangat menonjol bangunan masjid dan istana yang indah.

Andalusia

Dengan adanya dukungan politis dari penguasa, akhirnya Cordova, mampu berdiri sejajar dengan Baghdad sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, dan melahirkan banyak filosof terkenal yang wacana perenungan dan pemikirannya mewarnai struktur bangunan ilmu pengetahuan sampai abad sekarang. Tokoh-tokoh filsafat yang lahir pada masa itu, antara lain Abu Bakri Muhammad Ibn As-Sayiqh yang lebih dikenal Ibn Bajah sebagaimana Al-Farabi dan Ibn Sina, Ibn Bajah melalui pemikirannya sering mengembangkan berbagai permasalahan yang bersifat etis dan eskatologis. Filosof selanjutnya adalah Abu Bakar Ibn Thufail. Melalui berbabagi karya filsafatnya yang masyhur berjudul Hay Ibn Yaqzhan. Para filosof lainnya adalah Ibn Maimun, Ibn Arabi, Sulaiman Ibn Yahya, juga Ibn Rusyd yang juga dikenal ahli fiqh.

Andalusia banyak melahirkan tokoh dalam lapangan sains. Dalam bidang matematika, pakar yang sangat terkenal adalah Ibn Sina. Ia juga dikenal sebagai teknokrat dan ahli ekologi. Bidang matematika juga melahirkan nama Ibn Saffat dan al-Kimmy. Dalam bidang fisika dikenal seorang tokoh Ar-Razi. Dialah yang meletakkan dasar ilmu kimia dan menolak kegunaan yang bersifat takhayul. Ia menemukan rumusan klasifikasi binatang, tetumbuhan, numerial. Dan juga ia membuat substansi dan proses kimiawi, sebagian darinya seperti dan kritalisasi yang sekarang digunakan. Dalam bidang kimia dan astronomi, selain Abbas Ibn Farmas, juga dikenal Ibrahim Ibn Yahya An-Naqqosh. Yang pertama dikenal sebagai penemu pembuatan kaca dari batu dan yang kedua sebagai orang yang dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahri. Di bidang kedokteran, Spayol melahirkan pakarnya, yaitu Zahrawi yang menemukan pengobatan lemah syahwat, pembedahan, dan lain-lain.

Bahasa Arab dengan dengan ketinggian sastra dan tata bahasanya telah mendorong lahirnya minat yang besar masyarakat Spanyol. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya bahasa resmi, bahasa pengantar, bahasa ilmu pengetahuan, dan administrasi. Adapun para pakar dalam bidang bahasa dan sastra, seperti al-Qali dengan karyanya al-Kitab al-Bari fi Luqoh, az-Zubaidy ahli tata bahasa dan filologi dan masih banyak lagi. Dalam bidang seni, indikasi kemajuannya adalah berdirinya sekolah musik di Cordova oleh Zaryab. Ia merupakan artis terbesar pada zamannya, siswa sekolah musik Ishak al-Mausuli dari Baghdad. Hal ini, merupakan pencetus bermunculannya didirikannya sekolah musik yang banyak di Andalusia. Selain itu lahirnya model-model syair Spanyol yang khas, sehingga memunculkan pujangga baru mengembangkan lirik arab, dan terkadang sebuah kharja dalam dialek bahasa Romawi. Bait yang berbahasa Arab biasanya merupakan sajak cinta, bertemakan perihal kehidupan istana yang menekankan unsur kelaki-lakian, kharja biasanya menyuarakan kehidupan kelas bawahan, atau menggambarkan budak wanita Kristen, dan inspirasi kewanitaannya lebih menonjol.

Sejak pembukaan sehingga tahun 976 M boleh dianggap sebagai tahap pembinaan tamaddun Islam di Spanyol. Dalam tempo tersebut telah terbina masjid besar di Cordova. Masjid ini dibina dengan begitu rupa sehingga mengagumkan dunia. Keistimewaannya adalah dari segi kehalusan dan keindahan seninya yang tidak terjangkau pada masa itu, sebagai salah satu keajaiban seni dunia. Masjid Cordova tersebut antara 961-966 M diperindah oleh para pekerja mosaik, yang memberinya sebuah interior yang indah dan menakjubkan. Sebagaimana masjid Damascus, masjid Cordova merupakan lambang perpaduan antara nilai-nilai arsitektur lama dengan unsur-unsur peradaban muslim mereka yang menonjol. Pada abad ke-10 M Khalifah membangun sebuah kota kerajaan yakni Madinat al-Zahrab, sebuah kota yang dihiasi dengan berbagai istana, pancuran air, pertanaman yang megah yang menandingi keindahan komplek istana Baghdad.

Dalam bidang sejarah dan geografi, Spanyol Islam khususnya wilayah Islam bagian barat telah melahirkan penulis terkenal, seperti Ibn Zubair dari Valencia, yang telah menulis sejarah tentang negeri muslim Mediterania serta Sisilia. Ibn al-Khathib dari Tunis adalah seorang perumus filsafat sejarah. Contoh lain dalam bidang ini adalah Tarikh Iftitah Al-Andalus, sebuah karya besar yang ditulis oleh Ibn Qutyah. Selain itu juga, ada Ibn Hayyan yang buah karyanya mesih eksis sampai saat ini, yaitu al-Muqrabis fi Tarikh ar-Rizal al-Andalus.

Pada abad ke 9-10 M, perkenalan dengan pertanian dan irigasi yang didasarkan pada pola negeri timur mengantarkan pada pembidayaan sejumlah tanaman pertanian yang dapat diperjualbelikan, meliputi buah ceri, apel, delima, ara, kurma, tebu, pisang, kapas, rami, dan sutera. Tipe irigasi Yamani diterapkan di wilayah Oasis seperti di Valencia yang membagikan air berdasarkan batas waktu pengaliran tertentu. Hal ini mengangkat kepala irigasi lantaran beberapa kota seperti Seville dan Cordova mengalami kemakmuran lantaran melimpahnya produksi pertanian dan perdagangan internasional.

Selepas kematian Ibn Rusyd (1198 M) pengaruh falsafah mula menurun. Kemerosotan ini adalah karena tekanan pihak pemerintah yang dipengaruhi oleh ulama-ulama madzhab Maliki terhadap ahli falsafah di Spayol. Dengan kejadian ini, maka Muhyidin Ibn al-Arabi, atau lebih dikenali sebagai Ibn al-Arabi atau Ibn Suraaka, beliau seorang ahli tasawuf Islam terkemuka dan telah diberi gelar al-Syeikh al-Akhbar (ulama agung). Ia seorang pengembara dan belajar dari berbagai ulama. Mereka ini menganut berbagai madzhab seperti madzhab Hambali, Zahiri, dan Batini. Hasil pengembaraannya beliau, bisa menstabilkan permasalahan ini, sehingga hasil pemikirannya digabung dengan pemikiran falsafah Yunani dan ajaran agama Kristen. Beliau sering menggunakan konsep Logos yang melambangkan hakikat nabi Muhammad SAW. Akan tetapi pada konsep ini, beliau berpendapat bahwa semua kejadian adalah satu dan berasal daripada satu saja yaitu Allah SWT yang menjadikan segala kejadian. Kewujudan Allah SWT adalah kewujudan hakiki, manakala kewujudan alam adalah kewujudan wahmi. Ringkasannya, Allah SWT dan alam adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Konsep Wahdah al-Wujud ini berlawanan dengan konsep wahdah al-Syuhud (kesatuan penyaksian), yakni alam ini hanya penyaksian terhadap kewujudan Allah SWT antara kedua-duanya tidak serupa: Allah SWT adalah Pencipta, dan alam adalah benda yang dicipta.

Umat Islam di Spanyol dikenal sebagai penganut madzhab Maliki yang diperkenalkan oleh Ziyad Ibn Abd Rahman yang kemudian dikembangkan oleh murid-muridnya. Dengan berkembangnya penganut madzhab ini, maka lahirlah sebuah karya berupa kitab fiqh monumental yang menjadi salah satu rujukan dalam lapangan hukum Islam sampai saat ini, khususnya di Indonesia adalah Bidayatul Mujtahid. Kitab tersebut adalah buah karya Ibn Rusyd, filosof dan fiqh Andalusia. Dengan berkembangnya pemerintahan, maka ada perbedaan yang mencerminkan pengelompokan antara elit Arab dan pemeluk Islam masa belakangan. Sekalipun demikian, ulama-ulama Syi’i menerima madzhab Maliki, dan paham Maliki tetap bertahan sebagai identitas keagamaan yang utama bagi Spanyol. Teologi paham Mu’tazilah juga diperkenalkan dari Baghdad pada abad ke-9 M. Muhammad ibn Masarra yang berkesempatan belajar di Basrah, bercampur antara pemikiran neo-Platonik, Syi’i, dan pemikiran sufi. Hal ini yang mengakibatkan beberapa ulama hukum menghambat ekspresi publik terhadap kecenderungan mistikal ini.

Perpustakaan

Kesadaran akan pentingnya membaca sebagai jalan masuknya ilmu telah mendorong generasi terdahulu umat Islam untuk mendirikan fasilitas yang bisa menampung bahan bacaan karya-karya ulama Islam waktu itu. Khlaifah waktu itu bermimpi, dan konon mimpi inilah yang menjadi inspirator bagi Khalifah al-Ma’mun untuk memperkaya Perpustakaan Bait al-Hikmah dengan buku-buku filsafat Yunani. Sebagaimana sudah disebutkan di muka bahwa dari segi istilah yang berbeda-beda, kepustakaan Islam menunjukkan perkembangan dan kematangan (kemajuannya). Istilah Bait al-Hikmah menjadi sangat populer dalam sejarah dan peradaban Islam, karena ia lahir dan berkembang pesat pada masa puncak kemajuan peradaban Islam di Baghdad, Irak. Berbagai periwayatan menyebutkan bahwa perpustakaan Bait al-Hikmah dibangun pada masa Khalifah Harun al-Rasyid pada awal abad ke-3 H (awal abad ke-9 M) dimana berbagai ilmu pengetahuan dalam Islam, baik ilmu-ilmu keagamaan, seni dan kesusasteraan, filsafat, Astronomi, Kimia, Al-Jabar dan yang lainnya tengah mencapai perkembangannya yang pesat.

Perpustakaan Baitul Hakam di Bagdad menyerupai Universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks penting. Koleksi buku Perpustakaan Baghdad berkisar 400-500 ribu jilid.

Adapun di Andalusia kepustakaan Islam yang berpusat di Cordova, tidak dapat dilepaskan juga dari perkembangan kepustakaan Islam di Syiria. Andalusia memiliki hubungan lebih erat dengan Syiria dan dunia Timur (Arab) lainnya, seperti Baghdad. Banyak sekali buku-buku kepustakaan di Andalusia yang diimpor dan berasal dari Syiria dan Iraq, meskipun Syiria lebih berperan banyak daripada Baghdad, dalam pengayaan dan perbendaharaan buku kepustakaan Andalusia.

Para ilmuwan Muslim seperti Ibn Hazm, menjadi pemilik perpustakaan pribadi yang mengoleksi banyak buku. Demikian juga para pengembara dan para pebisnis (penjual) buku. Mereka mengoleksi buku-buku kepustakaan yang baru bahkan paling langka dan sulit diperoleh di kepustakaan khalayak dan membangun bangunan perpustakaan dalam koleksi buku yang sangat banyak.

Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [2]

Posted on Updated on

Dalam analisis hubungan politik dengan kemajuan pendidikan Islam ini dibahas dua wilayah besar yang berkembang pada zamannya, yaitu Baghdad dan Analusia.

Baghdad

Bahgdad (Iraq) tergabung masuk dalam pemerintahan Islamiah, setelah kemenangan besar al-Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Setelah itu, tentara Islam bertolak menaklukan kota-kota di Persia. Maka berakhirlah kekaisaran Persia. Irak kemudian tunduk di bawah raja-raja Islam (Umayah dan Abbasiyah), lalu datang arus penyerbuan Mongolia yang membumihanguskan negeri ini pada tahun 1258 M.

Disentrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di zaman bani Umayah. Akan tetapi bicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah, akan terlihat perbedaan antara bani Umayah dan Abbasiyah. Wilayah kekuasaan bani Umayah, mulai dari awal berdirinya samapai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Berbeda dengan bani Abbas, keuasaannya tidak pernah diakui oleh Spayol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir (Fathimiyah) yang bersifat sebentar dan kebanyakan nominal. Bahkan dalam kenyataannya, banyak daerah tidak dikuasai.

Berkecamuknya politik pada saat itu membuat dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khalifah Abbas, di antaranya adalah: yang berbangsa Persia, seperti Thahiriyah di Khurasan, Shafariyah di Fars, Samaniyah di Transoxania, Sajiyyah di Azerbaijan, Buwaihiyah; yang berbangsa Turki, seperti Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afghanistan, Dinasti Saljuq; yang berbangsa Kurdi, seperti al-Barzuqani, Abu Ali, Ayubiyah; yang berbangsa Arab, seperti Idrisiyah di Maroko, Aghlabiyah di Tunisia; dan yang mengaku dirinya sebagai khalifah, seperti Umawiyah di Spayol dan Fathimiyah di Mesir.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Baghdad di masa bani Abbas, sehingga banyak daerah memerdekan diri adalah: faham keagamaan, luasnya wilayah kekuasaan, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan, profesionalisme angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi, dan keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar.

Di sisi pendidikannya, ada suatu Madrasah Nizamiyah Baghdad yang didirikan di dekat pinggir sungai Dijlah, di tengah-tengah pasar Selasah di Baghdad pada tahun 457 H. Guru-guru madrasah ini diantaranya Abu Ishaq as Syiraji (guru tetap), Abu Nasr as Sabagh, Abul Qasim al’Alawi, Abu Abdullah al-Thabari, Abu Hamid al Ghazali, Radliyudin al Kazwaeni dan al Fairuz Abadi.

Selain itu ada Perguruan Tinggi Baitul Hikmah di Baghdad, didirikan pada amasa Harun al Rasyid (170-193 H), kemudian diperbesar oleh khalifah al Ma’mun (198-218 H). Di Baitul Hikmah bukan saja diajarkan ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu alam, kimia, falaq, dan lain-lain. Guru besar Baitul Hikmah adalah Salam, yang menguraikan teori-teori ilmu pasti dalam al-Maj’sthi (almageste) kitab karangan Bathlimus (Ptolemee). Kemudian guru besar al Khawarazmi, ahli ilmu pasti, ahli falaq, dan pencipta ilmu al-Jabar, guru besar Muhammad bin Musa bin Syakir, seorang ahli ilmu Ukur, ilmu Bintang dan Falaq. Di baitul Hikmah dikumpulkan buku-buku ilmu pengetahuan dalam bermacam-macam bahasa seperti bahasa Arab, Yunani, Suryani, Persia, India, dan Qibtia. Kemudian al Ma’mun mendirikan peneropong bintang yang disebut peneropong al-Ma’muni. Setelah wafat, maka Baitul Hikmah tidak mendapat perhatian penuh dari khalifah-khalifah.

Di lain sisi, pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.

Andalusia

Pada sekitar permulaan abad ke-8 M, Spayol telah membuka cakrawala baru dalam sejarah Islam. Dalam rentang waktu selama kurang lebih tujuh setengah abad, umat Islam di Spayol telah mencapai kemajuan yang pesat, baik di bidang ilmu pengetahuan maupun kebudayaan. Berbagai disiplin ilmu berkembang pesat pada masa itu. Hal ini ditandai dengan banyaknya mermunculan figur-figur imuwan yang cemerlang di bidangnya masing-masing sampai sekarang, buah pikiran mereka menjadi rujukan para akademisi, baik di barat maupun di timur.

Pada abad pertengahan Arab Spayol adalah guru Eropa dan Universitas Cordova, Toledo, sedangkan Seville berfungsi sebagai sumber asli kebudayaan Arab, non Arab, muslim, Kristen, Yahudi, dan agama lain. Cordova sebagai ibukota Spayol merupakan pusat peradaban Islam yang tinggi yang dapat menyamai kemasyhuran Baghdad di timur Kairo di Mesir. Hal ini terjadi karena Eropa masih sangat terbelakang dan diliputi kegelapan, serta kebodohan.

Pendidikan merupakan bidang yang penting walaupun tidak ada sistem pendidikan, namun kegiatan penyelidikan dan pembelajaran amat digalakkan oleh kerajaan Bani Umaiyah di Spayol. Salah satunya galakannya adalah mendirikan masjid-masjid sebagai pusat ibadah dan juga tempat menimba ilmu pengetahuan. Selain itu memberikan kepada para ilmuan yang dari dalam atau dari luar Spayol, Arab atau non-Arab datang mengajar di masjid-masjid tersebut. Penyebaran ilmu-ilmu pengetahuan banyak berlaku selepas zaman Abd Al-Rahman Al-Dakhil.

Adapun sistem pendidikannya terbagi pada tiga tahap, yaitu rendah, menengah, dan tinggi. Pada peringkat rendah (ibtida’iyah dan i’dadiyah) pelajar-pelajar diajar membaca al-Qur’an dan tatabahasa Arab yang biasanya ditempatkan di masjid. Guru yang mengajar tidak diberikan gaji tetap, tetapi sekedar menerima yang dibayar oleh murid secara sukarela. Pendidikan peringkat rendah ini dilakukan secara terbuka. Peringkat menengah (tsanawiyah) pula dijalankan secara tersendiri dan tidak mempunyai kurikulum pelajaran tetap. Oleh sebab itu kurikulum pelajarannya berbeda-beda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Bagi yang tinggi khusus kepada pelajar yang bijak dan berminat saja. Mata pelajarannya yang diajar adalah tatabahasa (nahwu), sastra, sejarah, hadits, fiqh, ilmu kesehatan praktikal, matematik, astronomi, akhlaq, metafisik, dan khat. Pelajar yang lulus mendapatkan diploma atau ijazah. Peringkat tinggi atau universitas yang bermula diwujudkan pada zaman Al-Hakam II. Instusi pengajian tinggi ini diwujudkan informal yang dikendalikan oleh sekumpulan profesor. Ia hanya mengendalikan kursus-kursus di Cordova dan Toledo. Kedua tempat ini merupakan pusat pendidikan utama bagi siswa di barat Eropa.

Dengan berkembangnya zaman, pemerintah menghadapi beberapa pemberontakan. Siasat politik yang pemerintah pakai, antara lain: menumbuhkan pasukan tentara bertaraf profesional, yang kebanyakan terdiri atas kaum hamba; menyatupadukan rakyat yang berkelompok dan agama meneruskan ajaran Islam; menjalankan dasar pemerintahan yang tegas serta mengambil tindakan terhadap siapa yang mencoba menggugat kestabilan negara; mendirikan markas tentara yang kuat bagi tujuan mempertahankan negara daripada serangan dalam dan luar negari; mengadakan pembangunan instratruktur dan intelektual serta meningkatkan ekonomi negara dengan melanjutkan proyek pertanian dan perdagangan; melantik pemimpin yang berkaliber; serta mengadakan beberapa ekspedisi di bagian utara Spanyol.

Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam [1]

Posted on Updated on

Kemunculan dan perkembangan tradisi keilmuan dan dinamika pemikiran pendidikan Islam di Nusantara selalu berkaitan dengan kondisi lingkungan yang mengitarinya. Kemunculan dan perkembangan tersebut lebih sebagai formulasi baru perpaduan antara kebudayaan dan peradaban yang sudah ada dan inheren dalam masyarakat itu dengan kebudayaan dan peradaban baru yang datang kepadanya. Dari sudut tersebut, maka perjalanan sejarah pendidikan Islam di nusantara menjadi sangat menarik untuk dikaji karena di samping nuansa spiritualis kental (thariqah) yang mengiringi penyebaran awalnya, lembaga pendidikan tersebut juga telah menjadi agen transformasi nilai dan budaya dalam sebuah komunitas yang bersifat dinamis. Sehingga, keberadaanya diakui memiliki pengaruh besar dalam membentuk bangsa ini, membebaskannya dari belenggu penjajahan, dan menelurkan generasi demi generasi yang mewarnai kemerdekaan negeri ini.

Ketika globalisasi merambah ke seluruh aspek kehidupan, di hampir setiap sudut muka bumi mengalami pergeseran nilai. Banyak tradisi dan gaya hidup yang saling bergesekkan tapi kebanyakan saling mengisi. Bagi sebagian insan ada yang mengikuti arus tetapi bagi sebagian yang lain banyak yang berpegang teguh pada khittah-nya. Tetapi kebanyakan menikmati perubahan itu dengan tetap berpegang pada tradisinya. Konstelasi perubahan dunia ini ketika merembes ke akar rumput atau perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat beragama, yang nilai keagamaannya berbenturan langsung dengan efek globalisasi, sebenarnya telah dapat dikomparasikan dengan berbagai catatan-catatan sejarah yang ada.

Bila keadaan ini dikerucutkan pada permasalahan yang terjadi pada komunitas intelektual Islam dari masa ke masa, di mana polemik pergeseran nilai pernah terjadi. Seperti pertentangan para filsuf Islam dan kaum fuqaha, bahkan pertentangan kepentingan politik untuk membujuk umat muslim dari golongan lain, misalnya syi’ah dan sunni pada masa dinasti Fathimiyah. Dan sebagaimana diketahui, abad awal imperium Islam terkotak-kotak dengan banyak ajaran politik, pergolakan dan perbedaan pendapat.

Dengan cara ini muncul tradisi-tradisi intelektual islam. Tradisi filosofi yang rasionalis, tradisi skolastik sunni, tradisi syiah dan sebagainya. Dan buku ini membahas signifikasi dari kehidupan intelektual dan menganalisis ragam kekuatan internal dan eksternal (politik, religius, filsafat dan sains) yang memunculkan ilmu-ilmu rasional pada abad-abad permulaan islam, perkembangan intelektualitas islam pada abad pertengahan, hubungan antara otoritas politik dan agama disatu sisi dan kehidupan sosial-intelektual Masyarakat Muslim di sisi lain pada era pra-modern hingga era kontemporer.

Penjelasan dan tulisan beberapa buku memang lebih profan (membumi) dari pada transenden (melangit). Karena para penulisnya pun memiliki tradisi yakni pendekatan sejarah. Jadi sebagai historian mereka melakukan kajian literatur dan tekstual yang menganalisa banyak segi intelektualitas yang menjadikannya fenomena majemuk hasil dari pengaruh berbagai kebudayaan, sebagai hasil dari penyebaran islam yang dalam waktu singkat telah meluas dari Spanyol hingga anak benua India. Sehingga konsekuensinya tradisi ke-Islaman di wilayah dan masyarakat baru tersebut berkontribusi secara langsung dan tidak dalam berbagai budaya dan pemikiran. Dari awal penyebaran Islam hingga kini hal tersebut terus berlanjut.

Ada banyak pemikiran Islam modern yang memiliki konklusi yang bisa diperdebatkan, seperti Muhammad Abduh yang menyatakan bahwa dari pengalamannya melakukan studi dan analisa beliau menyatakan bahwa Islam akan maju bila kita kembali memegang teguh ajaran para awalun mukmin, yakni masa-masa kerasulan Muhammad saw. dan sahabat. Apakah ini jawaban beliau terhadap banyaknya sungai kecil tradisi dalam arus sungai besar globalisasi dunia? Kemajemukan tradisi tradisi Intelektual islam yang kaya dari awal Islam hadir hingga masa modern di perkaya lagi oleh fenomena budaya. Bagaimanakah kemajemukan tradisi itu lalu mengerucut dan raib sejengkal demi sejengkal, akankah mengarus menjadi seragam dan tunggal? Mampukah perkembangan pendidikan Islam selanjutnya ini mengisi kekosongan (missing link) antara Islam dan Modernitas atau wajah Islam yang selaras sebagai suatu peradaban besar?

Pada masa pembinaannya yang berlangsung pada zaman Nabi, pendidikan Islam berarti memasukkan ajaran Islam ke dalam unsur budaya Arab pada masa itu, sehingga diwarnai oleh Islam. Dengaan terealisasinya pendidikan, maka terbentuklah suatu aturan nilai budaya Islami yang lengkap dan sempurna dalam ruang lingkupnya yang sepadan, baik dari segi situasi dan kondisi maupun waktu dan perkembangan zaman.

Sebenarnya sasaran pembudayaan Islam tersebut bukan hanya mewariskannya kepada generasi muda saja, tetapi meluas jangkauan penetrasi budaya Islam kepada budaya umat, kepada bangsa-bangsa di luar negeri Arab, sudah dirintis. Dengan demikian pendidikan Islam, pada masa pertumbuhan dan perkembangannya, juga pada masa-masa berikutnya mempunyai dua sasaran, yaitu generasi muda (sebagai generasi penerus) dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam. Tujuan dari keduanya, tak lain penyampaian ajaran Islam dan bisa menerimanya menjadi sistem hidup.

Namun pada masa kejayaan, terjadi dialog yang seru antara prinsip-prinsip Islam sebagaimana terangkum dalam al-Qur’an dengan budaya manusiawi yang telah berkembang pada masa itu. Dialog tersebut nampak dalam perbedaan-perbedaan pemikiran dan pandangan yang menimbulkan sikap kebijaksanaan yang berbeda-beda dalam menghadapi masalah yang baru timbul sebagai akibat bertambah banyaknya pemeluk agama Islam. Bentuk konkritnya adalah tumbuhnya berbagai aliran aliran dan madzhab dalam berbagai aspek budaya Islami. Pada garis besarnya pemikiran Islam dalam pertumbuhannya muncul tiga pola, yaitu: 1) Pola pemikiran yang bersifat skolastik, yang terkait pada dogma-dogma dan berfikir dalam rangka mencari pembenaran terhadap dogma-dogma agama. Mereka terikat pada Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. 2) Pola pemikiran yang bersifat rasional, yang lebih mengutamakan akal pikiran. Pola pikir ini menganggap bahwa akal pikiran sebagaimana juga hanya dengan wahyu, adalah merupakan sumber kebenaran. 3) Pola pemikiran yang bersifat bathiniyah dan intuitif, yang berasal dari mereka yang mempunyai pola kehidupan sufistik. Kebenaran yang diperoleh melalui pengamalan-pengamalan batin dalam kehidupan yang mistis dan dengan jalan berkontemplasi.

Hal ini terjadi di berbagi negara-negara Islam, khususnya Baghdad, Mesir, dan Andalusia. Namun ada nilai positif dari perkembanganya yang membuat negara terangkat, seperti sisi politik, pendidikan, intelektualnya, dan perpustakaan. Selain itu, masa keemasan dan kehancurannya tertuah dalam suatu sejarah, dengan tujuan agar kita bisa menafsirkan, memahami, mengerti, dan belajar dari mereka. Karena sejarah merupakan ilmu yang madiri. Mandiri artinya mempunyai filsafat sendiri, permasalahan sendiri, dan penjelasan sendiri.

Kebijakan dan Pengembangan Pondok Pesantren di Indonesia [3]

Posted on Updated on

Strategi penguatan internal institusi lembaga pendidikan Islam dalam hal ini pontren meliputi: penguatan institusi dengan kebijakan yang mendukung; penataan manajemen mulai dari perencanaan hingga evaluasi yang tidak hanya berorientasi pada mutu hasil melainkan juga pada mutu proses pelaksanaan; pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan yang mampu bertahan dan bersaing dengan perkembangan global; dan kemampuan beradaptasi dengan kemampuan global atau internasional yang tentunya membutuhkan pengetahuan, wawasan global dan kemampuan berkomunikasi serta kemampuan bahasa; di mana sebenarnya empat poin ini sudah terbudaya di pontren sebagai lembaga pendidikan Islam sehingga hanya perlu ditingkatkan frekuensi dan kualitasnya.

Pontren dalam kiprahnya mewarnai varian lembaga pendidikan Islam akan semakin diperhitungkan bila mempertimbangkan beberapa terobosan seperti: membuat kurikulum terpadu, gradual, sistematik dan bersifat bottom up; melengkapi sarana penunjang proses pembelajaran, sarana olahraga, dan internet; memberikan kebebasan pada santri yang ingin mengembangkan talentanya masing-masing baik yang berkenaan dengan pemikiran, ilmu pengetahuan, teknologi, maupun kewirausahaan; dan menyediakan wahana aktualisasi diri di tengah-tengah masyarakat.

Daftar Pustaka

Haidar Putra Daulay, “Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia”, Jakarta: Prenada Media, 2007.
Abdurrahman Mas’ud, “Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren”, Jakarta: Prenada Media, 2006.
Mastuhu, “Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam”, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999.
Husen Hasan Basri, “Pandangan Kiai terhadap Peningkatan Mutu Kajian Kitab Kuning di Pesantren”, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI, Jakarta, 2015.
Nunu Ahmad An-Nahidl, “Pemetaan Kapasitas Kelembagaan Pesantren”, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI, Jakarta, 2015.
Mahmud Arif, “Pendidikan Islam Transformatif”, Yogyakarta: LKiS, 2008.

Kebijakan dan Pengembangan Pondok Pesantren di Indonesia [2]

Posted on Updated on

Kebijakan Kualitas Kajian Kitab Kuning

Dalam hal peningkatan mutu kajian kitab kuning dimulai dari aspek kelembagaan, di mana fungsi pontren sebagai lembaga reproduksi ulama, dengan sistem jenjang pendidikan yang memerlukan kesetaraan dengan lembaga formal. Otoritas tata kelola lembaga pontren juga sebaiknya didistribusikan dengan banyak pihak. Kiai pontren berkewajiban meningkatkan kompetensinya di berbagai bidang keilmuan, bahkan keilmuan di luar mazhab tertentu. Sehingga sangat penting perpustakaan pontren menghimpun kitab-kitab kuning dari berbagai mazhab.

Pada aspek peserta didik atau santri pontren, pentingnya santri diberikan pengetahuan tentang karya tulis ilmiah, teknik penulisan serta penyajiannya dalam forum mudzakarah, selain juga dilatih melakukan tahqiq al-kutub. Santri perlu memperdalam pelajaran bahasa arab sebagai pondasi dalam mempelajari kitab kuning secara seutuhnya. Santri perlu menguasai kitab kuning pada seluruh tingkatan, meski saat ini rata-rata santri hanya mempelajari kitab kuning pada tingkatan dasar. Hal ini perlu menjadi perhatian karena saat ini tingkat penguasaan rata-rata santri atas kitab kuning cenderung menurun, dan bidang keilmuan yang dipelajari pun terbatas. Adapun penyebabnya saat ini waktu yang digunakan santri lebih banyak di madrasah atau sekolah, dan waktu santri untuk mempelajari kitab kuning lebih sedikit. Keberadaan buku rapor dan tanda kelulusan atau ijazah yang diakui legalitasnya oleh pemerintah sangat diperlukan dalam menunjang prestasi akademik santri, yang juga sangat dibutuhkan manakala santri ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Pada aspek kurikulum pontren, mempelajari kitab kuning adalah unsur utama kurikulum pendidikan pontren. Kajian kitab kuning membutuhkan sebuah pedoman sebagai acuan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, selain sebagai tolak ukur untuk memastikan bidang keilmuan yang dipelajari sesuai jenjangnya. Dalam menyusun strategi dan implementasinya, pembelajaran yang penting adalah memahami kitab kuning dengan menguasai manhajul fikr-nya, mendalami thoriqot istinbat al hukm, dilanjutkan dengan mengetahui latar belakang kehidupan penulisnya. Dalam memahami kitab kuning lebih lanjut juga perlu diketahui bagaimana latar belakang sosial dan politik saat kitab itu ditulis.

Upaya untuk meningkatkan minat santri memahami agama (tafaqquh fid-din) melalui kitab kuning ini dapat dilakukan oleh kiai bersama dengan pengurus seperti: penerapan sisim salaf (tradisional) dan mu’adalah (modern), pemberian motivasi dan nasihat, intimidasi atau hukuman, melaksanakan pembelajaran intensif bagi santri, melaksanakan atau mengikuti kegiatan perlombaan.

Dalam upaya meningkatkan pemahaman kitab kuning tersebut, Kementerian Agama bersama-sama pihak pontren perlu merumuskan grand design kaderisasi ulama mutafaqqih fid-din dengan konsentrasi kajian kitab kuning. Hal ini memerlukan sebuah satuan atau program seperti jenis pendidikan kader ulama di pontren yang akan menggunakan kita kuning sebagai sumber belajar pada seluruh struktur kurikulumnya. Program ini merupakan pendidikan yang terarah, terencana dan berkelanjutan yang dimulai sejak pendidikan dasar, menengah, atas hingga jenjang pendidikan tinggi.

Selaras dengan hal tersebut, Pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian terkait juga perlu memberikan bantuan sumberdaya pendidikan, melindungi kemandirian dan keikhlasannya, serta melakukan akreditasi untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.

Selanjutnya pihak Kementerian Agama melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan menjadi bagian dari supporting system dalam konteks peningkatan mutu terhadap satuan atau program atau jenis pendidikan kader ulama mutafaqqih fid-din di pontren. Untuk mengimbangi upaya ini maka pihak pontren memformulasikan berbagai bentuk dan model kajian kitab kuning di pontren masing-masing kepada satuan atau program seperti jenis pendidikan kader ulama mutafaqqih fid-din yang akan dikembangkan oleh Pemerintah lebih lanjut.

Kebijakan Kualitas Kapasitas Lembaga Pontren

Menurut ahli psikologi organisasi Bruce Tackman, tahap perkembangan organisasi meliputi posisi atau fase forming, storming, norming dan performing. Dengan menggunakan teori ini maka dapat digambarkan tentang kondisi riil kapasitas pontren di Indonesia yang diklasifikasikan menjadi tipe pontren A, B dan C. Selaras dengan hal tersebut tipologi pontren dalam hal ini menjadi: pontren ideal, transformatif dan standar. Pontren ideal merupakan klasifikasi A adalah pontren yang telah mencapai kondisi performing, yaitu telah melampaui fase forming, storming dan norming. Pontren ini telah berhasil memerankan seluruh potensi sumberdaya yang dimiliki dalam berbagai kiprah pontren, meliputi pendidikan, sosial, ekonomi, bahkan politik bagi kemajuan masyarakat dan negara. Pontren transformatif atau tipe B adalah pontren dalam posisi storming dan norming, sedangkan pontren standar atau tipe C adalah pontren yang sedang berkembang (dalam tahap forming).

Sebuah pontren selayaknya harus memenuhi aspek-aspek sebagai berikut: aspek legal formal pontren, kiai, santri mukim, masjid sebagai laboratorium agama, sumber belajar, sarana pendidikan asrama, ruang belajar, perpustakaan, sistim nilai (kultur pontren) dan sarana penunjang kemandirian pontren. Pada aspek pengembangan program kelembagaan pontren untuk meningkatkan eksistensinya, meliputi penyusunan dan penerbitan kitab sumber belajar, ikatan alumni, beasiswa pengembangan tenaga pengajar, pertukaran santri, dan peningkatan kualitas administrasi dan SDM di bidang ekonomi keuangan. Unsur yang dominan dalam mempengaruhi peningkatan kapasitas pontren adalah ketersediaan sarana prasarana dan heterogenitas asal santri.

Kebijakan dan Pengembangan Pondok Pesantren di Indonesia [1]

Posted on Updated on

Latar Belakang

Secara bahasa istilah, pondok berasal dari bahasa Arab funduk, yang berarti tempat penginapan atau tempat bermalam. Pondok juga sering dimaknai dengan asrama yang juga berarti tempat tinggal. Dalam konteks ini pondok merupakan tempat tinggal santri dalam menuntut ilmu. Di pondok tersebut, terjadi proses pembelajaran, terutama kitab kuning atau kitab Islam klasik. Di pondok juga terjadi proses komunikasi dan pembimbingan oleh kiyai kepada santrinya, bahkan dalam waktu 24 jam. Dengan demikian dapat dilihat, urgensi pondok bagi suatu pesantren, pertama, banyaknya santri yang terus berdatangan dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu kepada kiyai. Kedua, pesantren tersebut banyak terletak di desa, di mana tidak tersedia perumahan atau penginapan untuk menampung banyaknya santri yang berdatangan dari luar daerah. Ketiga, adanya sikap timbal balik antara kiyai dan santri, di mana para santri menganggap kiyai seolah-olah orang tuanya sendiri.

Pondok Pesantren (selanjutnya disebut pontren) yang berarti tempat tinggal para santri didefinisikan sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran Islam non-klasikal, di mana kiyai mengajarkan ilmu agama kepada santri yang ditulis dalam Bahasa Arab dan para santri tinggal di dalam pontren tersebut. Pontren yang ada di Indonesia termasuk salah satu institusi yang paling mampu merespons tantangan modernisasi dibandingkan dengan lembaga pendidikan sejenis yang ada di negara lain. Pontren saat ini tidak hanya melaksanakan tiga fungsi tradisionalnya, yaitu transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam, pemeliharaan tradisi Islam dan reproduksi ulama; tetapi juga menjadi pusat penyuluhan kesehatan, pusat pengembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat pedesaan, pusat usaha penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup, dan lebih penting lagi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks ini terlihat semakin banyak pontren yang terlibat aktivitas vocational dan ekonomi, seperti dalam usaha agrobisnis yang mencakup pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan dan kehutanan, pengembangan industri rumah tangga atau industri kecil seperti konveksi, kerajinan tangan, pertokoan, koperasi dan sebagainya.

Pontren adalah lembaga pendidikan pencetak dan pengkaderan ulama. Sebagian besar ulama di tanah air dilahirkan oleh pendidikan pesantren dan sejenisnya. Maka tugas utama pontren sebagai lembaga pendidikan reproduksi ulama hendaknya tetap dipertahankan kelangsungannya. Pontren yang berkembang saat ini menjadi sangat penting untuk terus didorong agar tetap mampu melahirkan ulama-ulama mutafaqqih fid-din.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka kaderisasi ulama menjadi penting dilakukan, dan untuk mengkader seorang ulama jelas tidak mudah dan sederhana, terutama di tengah dunia pendidikan saat ini yang jauh semakin kompetitif. Sementara, jumlah lembaga pendidikan pontren yang tetap mempertahankan fungsi dan peran tafaqquh fid-din (memahami agama) dengan konsentrasi kepada kajian kitab kuning tinggal sedikit, dan masing-masing memiliki kurikulum dan standar kelulusan yang beragam.

Lembaga pontren memerlukan redefinisi komprehensif dengan membatasi dan menentukan kembali unsur dan nilai pontren yang dimilikinya. Demikian pula, atas peran fungsi sebagai lembaga keagamaan, pendidikan dan sosialnya. Redefinisi aspek pontren dapat dianalisis dari perspektif kapasitas pontren. Kapasitas pontren meliputi: bentuk legal institusi pontren, pola pengambilan keputusan, pola kepengurusan pontren, sumberdaya sarana, sumber belajar, kultur pontren, pengembangan program akademik dan kelembagaan serta jejaring kerjasama. Analisis kapasitas pontren diharapkan dapat menjadi pijakan konkrit dan solusi bagi pembinaan dan pengembangan secara tepat sasaran baik oleh pemerintah maupun pihak yang berkepentingan lainnya.

Masalah dan Tujuan

Realitas perkembangan kelembagaan pontren, pada aspek tertentu memunculkan beberapa persoalan, seperti longgarnya definisi pontren, variasi pontren yang beragam, dan peran pontren yang semakin luas. Adapun longgarnya definisi pesantren ditemukan beberapa lembaga yang terdata di Kementerian Agama melalui EMIS Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, akan tetapi lembaga-lembaga tersebut senyatanya bukan pontren karena tidak memenuhi unsur-unsur pontren. Variasi pontren yang beragam mengakibatkan langkah pembinaan tidak mudah dilakukan. Kategorisasi pontren seperti salafi (tradisional), khalafi (modern) dan kombinasi yang selama ini umum dipakai pada realitasnya tidak bersifat mutlak, bahkan cenderung kabur karena dalam realitasnya keadaan pontren yang selalu berkembang. Demikian pula, unsur-unsur pontren terus bertambah sesuai dengan laju perkembangan sarana dan prasarana yang dimilikinya. Adanya peran pontren yang semakin luas, menjadikan beberapa pontren tergoda melakukan orientasi kegiatan pada hal-hal yang bersifat praktis-pragmatis. Hal ini memerlukan solusi pemecahan dalam konteks pengembangan pontren, baik saat ini maupun untuk masa yang akan datang, khususnya terkait peran fungsi pontren sebagai lembaga keagamaan (dakwah), pendidikan, dan lembaga sosial (ekonomi, politik dan budaya).

Dinamika perkembangan zaman dengan berbagai konsekuensinya terus berjalan seiring dengan proses modernisasi yang menuntut pontren untuk menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi. Di sinilah kemampuan dan strategi pontren sebagai lembaga pendidikan Islam dipertaruhkan, apakah ia mampu mengambil peluang tersebut untuk kebaikannya ataukah ia malah terjebak dan bahkan kalah dari tantangan yang dihadapi. Kesenjangan pontren dan modernisasi sebagai produk dari globalisasi ini paling tidak dipicu oleh enam hal yang pada umumnya masih menandai kondisi objektif pontren, yaitu: lingkungan, penghuni/santri, kurikulum, kepemimpinan, alumni dan kesederhanaan.

Di sisi lain, pendidikan umum formal seperti madrasah dan sekolah banyak didirikan di lingkungan pontren untuk menarik minat orang tua ‘menitipkan’ anaknya di pontren, dan sebagai jawaban atas kebutuhan santri terhadap legalitas tanda kelulusan pendidikan formal. Namun pendirian pendidikan umum formal itu tidak diikuti upaya peningkatan mutu kajian kitab kuningnya, bahkan cenderung mengabaikannya. Akhirnya kajian kitab kuning di pontren hanya berfungsi takmili atas pendidikan umum formalnya. Santri sendiri lebih banyak menghabiskan waktu pembelajarannya di sekolah atau madrasah, dan pontren lebih sebagai boarding belaka.

Maka diperlukan kebijakan dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama menyusun kurikulum tafaqquh fid-din yang terstandar bagi pontren, guna mendorong pendidikan pontren untuk tetap dapat mengadaptasi perkembangan kehidupan dan kebutuhan masyarakat, namun dengan tetap mengemban misi tafaqquh fid-din demi melahirkan ulama yang mumpuni.

Adapun alasan dibutuhkannya kurikulum tafaqquh fid-din yang terstandar adalah untuk: mendorong seluruh pontren di tanah air agar tetap memiliki semangat dan potensi yang sama dalam melahirkan calon ulama; memastikan setiap santri di pontren memperoleh pelajaran kitab kuning pada setiap bidang keilmuan sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing; dan menjadi acuan bersama bagi setiap pontren dalam melakukan upaya penguatan kajian kitab kuning.